Malam itu hujan turun deras, membungkus kota dengan kabut tipis. Dari atap gedung tertinggi, seorang pemuda bernama Raka berdiri tegak, jaket hitamnya berkibar tertiup angin. Di tangannya tergenggam alat komunikasi kecil—malam ini bukan malam biasa.
“Target bergerak ke arah pelabuhan,” suara terdengar dari alat itu.
Raka melompat.
Tubuhnya meluncur dari satu atap ke atap lain dengan cepat. Lampu-lampu kota berkilauan di bawahnya, sementara suara sirene mulai terdengar di kejauhan. Sekelompok penjahat bersenjata sedang menyelundupkan barang berbahaya yang bisa mengancam seluruh kota.
Di pelabuhan, Raka bersembunyi di balik peti-peti besar. Ia mengamati gerakan musuh dengan mata tajam. Saat salah satu penjaga lengah, Raka bergerak cepat—menjatuhkan lawannya dengan satu gerakan terukur tanpa suara.
“Ada penyusup!” teriak seseorang.
Keadaan berubah kacau. Raka berlari menghindari kejaran, meluncur di antara kontainer, melompat saat peluru menghantam tanah di belakangnya. Ia memanfaatkan lingkungan, memanjat derek pelabuhan dan menjatuhkan tali pengikat hingga menghalangi musuh.
Akhirnya, Raka mencapai ruang kendali kapal. Pemimpin kelompok itu menunggunya.
“Kau terlambat,” katanya dengan senyum licik.
“Tidak,” jawab Raka tenang, “kalian yang salah tempat.”
Dengan satu gerakan cepat, Raka mengaktifkan sistem pengaman kapal. Alarm berbunyi nyaring. Polisi datang dari segala arah. Pemimpin itu terdiam, tak punya jalan keluar.
Saat matahari mulai terbit, Raka berdiri di tepi pelabuhan. Kota kembali aman. Ia menatap langit pagi, lalu menghilang di antara keramaian—seperti bayangan yang tak pernah ingin dikenal, tapi selalu ada saat dibutuhkan.