Perasaanku padamu selalu datang dengan cara yang sederhana.
Di SMP, kamu pernah menghubungi nomor yang kukira milikku. Ternyata salah—nama kami sama, dan pesan itu berakhir di ponsel orang lain. Tidak ada percakapan, tidak ada kelanjutan. Bahkan jejaknya pun hilang saat aku berganti ponsel. Tapi entah kenapa, ingatan tentang kemungkinan yang nyaris itu tetap tinggal.
Aku mengira semuanya akan selesai di sana.
Namun waktu membawa kita ke SMA yang sama, dan perasaan yang dulu kupilih karena iseng ternyata belum juga pergi. Aku masih menyukaimu dengan cara yang tenang—diam, tidak ingin diketahui.
Suatu hari, saat buka bersama di sekolah, kami berdiri bersiap untuk berfoto. Temanku berpindah tempat karena alasannya sendiri, dan tanpa rencana, aku berada di sampingmu. Sebentar saja. Sebuah foto bersama, di tengah keramaian dan tawa orang lain. Aku tersenyum seperti biasa, menyembunyikan degup yang tidak pernah kupelajari cara menenangkannya.
Aku tahu ada perasaan lain yang mengarah padamu.
Maka aku memilih diam. Aku menyimpan momen itu seperti aku menyimpan namamu—rapi, tidak ingin mengganggu siapa pun. Mungkin bagimu itu hanya satu foto. Tapi bagiku, itu cukup untuk mengingatkan bahwa aku pernah menyukaimu, dan memilih tidak apa-apa jika perasaan itu hanya hidup di kepalaku sendiri.