JujurPagi itu di kelas, Pak Darto sedang membagikan soal ulangan matematika. Semua murid tampak tegang, kecuali Rian yang tersenyum santai sambil memegang penghapus barunya.
“Rian, kok kamu santai banget?” bisik Dika.
Rian menepuk meja dengan percaya diri. “Tenang, penghapus ini hoki.”
Ulangan dimulai. Lima menit kemudian, Rian menghapus jawabannya berkali-kali karena ragu. Tiba-tiba, penghapusnya jatuh ke lantai.
Saat Rian mengambilnya, penghapus itu—entah bagaimana—tertulis tulisan kecil:
“Jawabanmu salah.”
Rian melotot. “Hah?”
Ia menghapus lagi, lalu menulis ulang. Penghapusnya jatuh lagi.
Tulisan baru muncul:
“Masih salah. Coba istirahat.”
Rian mulai panik. Ia menutup penghapusnya dengan tangan, tapi Pak Darto tiba-tiba berdiri di sampingnya.
“Kamu kenapa, Rian?”
Dengan gugup, Rian menjawab, “Eee… penghapus saya jujur, Pak.”
Pak Darto mengambil penghapus itu, membaca tulisannya, lalu tertawa keras.
“Wah, ini penghapus milik saya yang hilang! Memang saya pakai buat koreksi jawaban murid.”
Seluruh kelas tertawa. Rian hanya bisa menunduk pasrah.
Sejak hari itu, Rian belajar satu hal penting:
Jangan percaya benda yang terlalu jujur saat ulangan.