Di sudut sebuah rumah tua di kota kecil, berdiri sebuah jam dinding antik yang jarumnya sudah menguning. Jam itu bukan sekadar penunjuk waktu—ia menyimpan jejak perjalanan lintas zaman.
Pada tahun 1890, jam itu pertama kali digantung di rumah seorang pembuat jam bernama Raka Wijaya. Raka dikenal sebagai pria jenius yang terobsesi pada waktu. Ia percaya bahwa waktu bukan garis lurus, melainkan lingkaran yang bisa ditembus oleh ingatan dan keberanian. Malam sebelum wafatnya, Raka mengukir simbol aneh di balik jam itu, lalu berbisik,
“Jika waktunya tiba, jam ini akan memilih.”
Seratus tahun kemudian, di tahun 1990, rumah itu dihuni oleh seorang siswi SMA bernama Larisa. Suatu malam saat listrik padam, jam tua itu berdentang tiga belas kali—jumlah yang mustahil. Saat Larisa menyentuhnya, ruangan seakan berputar. Ia terlempar ke masa lalu, berdiri di bengkel kayu yang penuh roda gigi. Di sana, ia bertemu Raka muda.
Raka terkejut, tetapi tidak takut. Ia seolah sudah menunggu kedatangan Larisa.
“Kau adalah penghubung,” kata Raka. “Penjaga kisah yang tak boleh hilang.”
Larisa kembali ke masanya dengan satu pesan: waktu bisa berubah, tetapi nilai kemanusiaan tidak. Sejak saat itu, Larisa rajin menulis sejarah—tentang orang-orang kecil yang terlupakan, tentang keberanian, dan tentang harapan.
Tahun 2026, seorang remaja bernama Aksa menemukan buku tua berisi tulisan Larisa. Di halaman terakhir, terdapat sketsa jam yang sama. Saat Aksa mengunjungi rumah itu, jam berdentang lagi. Namun kali ini, ia tidak terlempar ke masa lalu, melainkan melihat kilasan masa depan: dunia yang hampir kehilangan empati.
Aksa mengerti. Ia tidak harus melompat waktu. Tugasnya adalah menjaga manusia tetap manusia—di zamannya sendiri.