Setiap sore, Alya selalu duduk di bangku kayu dekat taman sekolah sambil menunggu langit berubah jingga. Di tempat itulah ia sering melihat Raka—siswa pendiam yang hobi membaca buku di bawah pohon ketapang.
Awalnya, mereka hanya saling bertukar senyum. Tidak ada kata, tidak ada janji. Namun entah mengapa, senyum itu selalu membuat hari Alya terasa lebih ringan.
Suatu sore, hujan turun tiba-tiba. Alya berlari mencari tempat berteduh, tetapi sepatunya sudah basah. Raka datang membawa payung biru sederhana.
“Kalau mau, kita berteduh bersama,” ucapnya pelan.
Sejak hari itu, mereka mulai sering berbincang. Tentang cita-cita, tentang pelajaran yang sulit, dan tentang mimpi sederhana di masa depan. Tidak ada kata cinta yang terucap, tetapi perhatian kecil Raka—mengingatkan Alya makan, meminjamkan buku, dan menemaninya pulang—cukup membuat hati Alya hangat.
Hari kelulusan tiba. Mereka berdiri di taman yang sama.
“Alya,” kata Raka, “kalau nanti kita sibuk mengejar mimpi masing-masing, semoga kita tetap saling mengingat.”
Alya tersenyum. “Aku akan selalu ingat senja di bangku ini.”
Di bawah langit sore yang lembut, mereka menyadari bahwa cinta tidak selalu harus diucapkan. Kadang, ia tumbuh tenang, sederhana, dan penuh harapan.