Aku selalu menulis surat untuk esok karena hari ini selalu terasa setengah.
Maksudku, setengah berani... setengah jujur... dan setengah lagi berharap aku bukan sekadar orang yang kau datangi ketika dunia sedang sepi.
Surat itu tersimpan rapi di laci, bersama kebiasaan menunda yang tak pernah benar-benar ku selesaikan. Isinya selalu sama, kalimat yang tak pernah kutemui nyalinya.
"Esok, aku akan bilang aku mencintaimu."
Aku selalu ingin menyampaikan betapa aku sangat mencintaimu, Namun aku tak cukup berani. Bahkan surat demi surat yang ku tulis, tak pernah sekalipun ku beri tanggal.
Karena setiap kali esok datang, aku kembali memilih diam.
Aku takut kau menolak, aku takut kau tak menganggapku demikian, dan aku takut... persahabatan kita mungkin merenggang.
Kau hadir dengan cara yang membingungkan. Terlalu perhatian untuk disebut biasa, terlalu berhati-hati untuk disebut pasti. Kau selalu ada, tapi seolah menunggu sesuatu sebelum melangkah lebih jauh.
Dan aku, dengan segala luka lama tentang selalu jadi cadangan, memilih percaya bahwa diam adalah cara paling aman untuk tetap tinggal.
***
Sore itu, kita duduk berhadapan tanpa banyak bicara. Kau memutar gelas di tanganmu berkali-kali, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat.
“Aku dapat tawaran kerja,” katamu sambil memandangku berat. “Di luar kota.”
Dadaku jatuh. Bukan karena kau akan pergi jauh, tapi karena aku tidak tahu di posisi mana aku akan ditinggalkan.
“Kapan?” tanyaku pelan.
Kau tersenyum simpul, namun matamu terlihat enggan. “Belum aku jawab.” Kau menghela napas. “Aku lagi mikir.”
Aku pun mengangguk, tak mungkin bisa merubah apapun keputusanmu. Lagipula aku sudah terbiasa mengangguk di saat seperti ini.
"Menurutmu bagaimana? apa sebaiknya aku pergi?" tanyamu lagi seolah sengaja menjebakku.
Aku terdiam cukup lama, pertanyaanmu menghantam dadaku. Jika boleh jujur aku tak mau kau pergi, sungguh! Namun aku tak mungkin se eogis itu didepanmu.
"Jika itu demi kebaikanmu, maka sebaiknya kau pergi."
Itu jawaban terbohongku karena satu hal yang tak kau tahu adalah kepalaku penuh pertanyaan yang tak berani keluar.
Kalau aku penting, apakah kamu akan tetap pergi?
Atau aku memang tidak pernah masuk dalam radar hitunganmu?
***
Malam itu, aku membuka surat untuk esok dengan tangan gemetar. Aku membaca kalimat itu berkali-kali, sampai akhirnya sadar bahwa aku tidak takut ditolak.
Aku takut mengetahui bahwa selama ini aku hanya menunggu sendirian.
Aku keluar sebelum keberanian itu hilang.
Ketika kau membuka pintu dan melihatku berdiri di sana, wajahmu berubah. Kaget. Lalu… lega.
“Kamu kenapa?” tanyamu.
Aku mengulurkan surat itu. “Aku capek nunggu esok yang tak kunjung datang,” kataku. “Dan aku capek mempertanyakan siapa aku dihidupmu.”
Kau mengerutkan kening, mengambil surat itu lalu membacanya pelan, namun lama.
Terlalu lama untuk satu kalimat sederhana.
Lalu kau tertawa kecil, bukan lucu... tapi gugup. Tiba-tiba matamu menatapku dengan lebar penuh binaran.
“Kamu tahu,” katamu akhirnya, “aku nunda jawab tawaran itu karena aku nunggu kamu.”
Aku terdiam... otakku masih coba mengartikan ucapan spontan mu. Namun perlahan rona dipipiku memerah, malu sekaligus lega.
“Aku kira kamu cuma anggap aku sebagai teman,” lanjutmu dengan senyum malu-malu didepanku. “Dan aku nggak mau maksa perasaan yang belum tentu ada.”
Dadaku sesak. Jadi begini rasanya saat dua orang sama-sama diam, dan menyebutnya aman ternyata punya sesuatu yang dipendam.
“Aku takut cuma jadi cadangan,” ujarku lirih. "Aku takut cuma dianggap teman biasa."
Kau menatapku, kali ini tanpa ragu mendekat. “Aku nggak pernah lihat kamu begitu. Aku juga… takut kamu nggak milih aku.”
Hening jatuh di antara kita. Berat, tapi jujur. Dua bola mata yang saling beradu lurus membangun tensi aneh yang membuat perutku geli dipenuhi kupu-kupu.
“Aku mencintaimu,” kataku akhirnya jujur pada perasaan. “Dan aku capek nyimpen itu di hari yang nggak pernah datang.”
Kau mengangguk pelan dengan senyuman manis. “Aku juga.”
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tentang kota lain, tentang jarak, tentang pilihan yang belum selesai.
Tapi untuk pertama kalinya, aku tahu satu hal pasti bahwa :
Aku bukan cadangan.
Surat yang ku tulis esok akhirnya tersampaikan.
Dan ini berarti esok hari akhirnya aku tidak lagi sendirian.