Gemuruh petir memecah langit, kilatan cahaya menyambar awan dan memantul kejam di kaca jendela pesawat. Dublin—kota yang sejak awal menjadi tujuan—lenyap dari layar informasi, digantikan oleh pengumuman pendaratan darurat di Wales akibat cuaca ekstrem.
Mikasa berdiri di antara lautan manusia yang memadat di terminal. Suara protes, keluhan, dan kepanikan bertabrakan tanpa arah. Petugas bandara hanya mengulang satu kalimat yang sama, datar dan tak memberi harapan. Penerbangan lanjutan belum bisa dipastikan.
Semua jawaban berujung buntu.
Alih-alih ikut mendorong antrean yang tak bergerak, Mikasa menarik kopernya pergi. Ia membutuhkan jalan lain, apa pun—selama itu membawa dirinya lebih dekat ke Dublin.
“Menuju ke kota mana, Nona?” tanya sopir taksi ketika ia menyebutkan tujuan pelabuhan.
“Dublin,” jawab Mikasa singkat, lalu menambahkan tanpa ragu, “saya ingin melamar kekasih saya.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, seolah dengan mengucapkannya, jarak yang memisahkan bisa dipersingkat.
Hujan turun semakin lebat saat mereka tiba di pelabuhan. Penumpang berkerumun, wajah-wajah marah dan pasrah bercampur jadi satu. Kapal tak beroperasi. Laut terlalu liar untuk dilawan.
“Sepertinya hari ini tidak ada yang berangkat,” ujar sopir itu pelan.
Mikasa mengepalkan tangan. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena cuaca, tapi karena perjalanan ini seakan menolaknya sejak awal.
“Ada satu kemungkinan,” lanjut sang sopir setelah ragu sejenak. “Perahu kecil. Biasanya dipakai saat darurat. Biayanya lebih mahal.”
Itu sudah cukup.
Ia berangkat sebelum sempat berpikir ulang.
Perahu itu terlalu kecil untuk disebut kapal—hanya cukup untuk dua orang dan keberanian yang dipaksakan. Laut bergulung kasar, angin menerpa tanpa ampun. Setiap hentakan ombak membuat perahu bergoyang tak seimbang.
“Kita harus menepi,” kata pria tua yang mengemudikannya. “Perahu ini tidak akan kuat.”
“Apa?” Mikasa mencengkeram sisi kursi. “Tidak. Saya harus sampai.”
Kata-kata itu terdengar lebih seperti permohonan daripada perintah.
Jawabannya datang dalam bentuk kilatan cahaya yang menyambar laut di depan mereka, diikuti dentum petir yang memekakkan. Langit seolah terbelah.
Tak ada pilihan.
Mereka menepi di sebuah kota kecil bernama Dingle. Begitu Mikasa menjejakkan kaki ke darat, hujan berhenti—terlalu tiba-tiba, terlalu kejam. Perahu itu kembali pergi, meninggalkannya sendirian di bibir pantai.
“Benar-benar menyebalkan,” gumamnya, suaranya hilang ditelan angin.
Langit mulai gelap ketika ia menyeret koper menyusuri jalan sempit. Lampu-lampu rumah menyala redup, memberi cahaya seadanya. Sebuah papan kayu bertuliskan "tigh óstáin" menarik perhatiannya.
Ia tak tahu artinya. Tapi ia masuk.
Ruangan itu hangat, berbau kayu dan minuman fermentasi. Beberapa pria tua menoleh, membisikkan sesuatu satu sama lain. Hanya satu wajah muda yang terlihat asing—seorang pria dengan ransel di kakinya, menatap Mikasa sejenak sebelum mengalihkan pandangan.
“Halo,” sapa Mikasa canggung. “Apa ada transportasi ke Dublin?”
Pria itu kembali menatapnya. “Dublin?” ulangnya. “Saya juga ke sana.”
Mikasa menoleh penuh harap.
“Kita bisa berangkat besok pagi,” lanjutnya sambil tersenyum tipis. “Thom akan mengantar. Kalau cuaca membaik.”
Ada jeda kecil di antara mereka—hening yang aneh, tenang, dan entah kenapa terasa perlu.
“Terima kasih,” kata Mikasa akhirnya. “Saya Mikasa.”
“Eren,” jawab pria itu singkat.
Di luar, angin kembali berembus. Dingle, yang tak pernah masuk dalam rencananya, kini menjadi tempat ia terpaksa berhenti—sebuah jeda sebelum melanjutkan perjalanan menuju orang lain.
***
Kicauan burung memecah kesunyian pagi. Sinar jingga mentari pagi menambah kesan hangat perjalanan ini. Mikasa menggiring kopernya, membantu Eren memasukkannya kedalam bagasi mobil.
Lambaian tangan jadi salam perpisahan yang mereka berikan pada Thom—sang pemilik mobil. Kini, situasinya berubah total dari apa yang dibayangkan. Hanya ada mereka berdua—tanpa orang ketiga.
"Apa tujuan kamu ke Dublin?" suara Eren memecah keheningan. Matanya tetap fokus pada jalanan.
"Melamar kekasihku." ia menoleh pada Eren. "Ladies privilege, apa kamu tau?"
"Tentu." jawabnya singkat. Ia menyesap kopi dari cup. "Menurutku itu tradisi yang bodoh."
Mikasa mendelik, tak suka. "Apa maksudmu?"
"Perempuan melamar pria, itu tindakan bodoh." ujung bibirnya terangkat tersenyum tipis. "Maksudku jika pria ingin bersamamu, dia akan mengusahakannya. Kau tidak perlu melamar lebih dulu."
Mikasa terdiam, ucapan Eren terlalu benar—namun ia memilih denial. "Kamu tidak mengenalnya," katanya akhirnya. "Dia mencintaiku. Hanya saja—"
Eren tertawa renyah, tak peduli perasaan wanita disebelahnya. Sikapnya menyebalkan, Mikasa meraih cup yang dipegang Eren, membuangnya asal.
"Jangan menertawakan perasaan orang lain. Kamu menyebalkan!"
"Kopi ku..." Eren menatap kopinya yang berserakan dijalan. "Dasar perempuan aneh!" dia kesal karena kopi paginya lenyap begitu saja.
"Kamu yang aneh!" balasnya teguh.
Perdebatan itu berakhir tanpa pemenang. Eren mengacuhkan keberadaan Mikasa begitupun sebaliknya. Suara musik yang mengalun dari radio mobil jadi satu-satunya musik latar.
Mobil berhenti ketika rombongan domba memadati jalanan. Eren keluar mobil dengan santai, duduk menepi disebuah batu besar tepi jalan.
"Hei, kamu nggak mau bantu ngusir domba-domba itu?" protes Mikasa.
Eren mengedikkan bahu. "Untuk apa? Kita tunggu saja sampai mereka pergi sendiri."
"Aku harus sampai tepat waktu, Eren. Jangan gila, ayo bantu."
Terserah apa yang dikatakan Mikasa, dia memilih tetap tenang. Duduk bersila sambil mengunyah sebuah apel. "Semangat!" teriaknya saat perempuan itu sibuk mengusir domba.
Mikasa menatapnya keras, mengalihkan wajah secepat kilat. Beruntungnya mereka—domba itu tak perlu usaha keras untuk beranjak menepi.
"Kamu berbakat jadi pengembala domba." jempolnya teracung, antara mengejek atau benar memuji.
"Selalu ada jalan jika berusaha. Makanya jangan malas." jawabnya judes.
Mereka melanjutkan perjalanan melewati pemandangan laut dengan tebing-tebing yang berdiri curam namun indah. Tepat saat ia melebarkan tangan kirinya untuk menikmati angin, mobil itu berhenti bergerak.
Mogok. Rusak. Mati total.
"Apa yang salah dengan mobil tua ini?" dibukanya kap mesin mobil—keluar asap hingga wajah Eren menghitam.
"Sialan!" umpatnya
Sementara disisi Lain, Mikasa tertawa geli. Deretan giginya nampak jelas, terlalu lebar ia tertawa. "Makanya nggak usah nyebelin."
"Oh iya, bagus,” balas Eren datar. "Dengan begini kita nggak akan sampai Dublin tepat waktu."
Tawa Mikasa berhenti seketika. Giliran Eren yang memasang wajah puas. Sekeliling terlalu sepi, hanya ada perbukitan dan lembah indah yang menyambut.
"Terpaksa kita nunggu sampai montir datang," sambil menghapus bekas hitam diwajah, ia duduk diatas aspal.
"Tidak. Kita harus lanjut jalan, stasiunnya sudah dekat." ia mengambil tas nya lalu menarik koper itu keluar.
Pria itu menatapnya heran, "Kamu serius?"
"Kalau nggak mau ikut ya udah. Aku bisa sendiri."
Dia melangkah duluan sambil menyeret kopernya disepanjang jalan. Tak lama, sebuah mobil berhenti menawari bantuan. Tanpa pikir panjang, gadis itu menyerahkan kopernya.
Mobil itu melaju. Menjauh. Lalu lenyap.
Dia telah ditipu, dan kopernya dibawa kabur.
Mikasa terpaku. Kopernya, dan semua yang ia bawa untuk Dublin ikut menghilang.
“Woi, jambret!” teriaknya. Tak ada jawaban.
Eren tertawa tak tertahan. Kekehannya membuat Mikasa mendidih. Ia melempar heels yang dipakainya hingga mengenai tulang kering pria itu.
"Dasar setan, bukannya ditolongin malah ketawa."
"Itu salahmu, katanya datar. "Jangan berharap empati dari keputusan ceroboh."
Pria itu memandu jalan menuju stasiun. Tanpa ada pilihan, dia mengikuti dibelakang—berjalan terseok-seok dengan heels tinggi. Sebelah tangan masih menenteng tas—syukur tak dibawa semua.
"Aku kira kamu pria baik," omelnya. "Ternyata salah. Kamu menyebalkan!"
Si pria menanggapi dengan kekehan, tak terlalu memikirkan. "Terserah. Nona polos yang bodoh."
Jawabannya memang terdengar menyebalkan tapi entah kenapa meski kemalingan, dia tidak begitu resah—ada seseorang bersamanya.
Semakin lama terik semakin bias. Pemandangan hamparan bukit dan lembah luas menambah kesan energik meski kaki mulai lemas dipaksa berjalan.
"Eren," Mikasa membuka suara. "Apa kau punya kekasih?"
"Kenapa?" dia melirik singkat, curiga. "Apa kamu sudah menyerah untuk melamar pria itu, dan memilihku?"
"Jangan bercanda. Aku serius!"
"Aku tidak butuh hal semacam itu," jawabnya singkat. "Tidak ada jaminan semua akan berakhir bahagia."
"Menyebalkan! kau bicara seolah pernah dikhianati berulang kali."
Hening melanda tensi yang sebelumnya panas. Eren terus lanjut melangkah, kali ini lebih cepat. Sementara seseorang disampingnya ikut mengejar, namun kesulitan.
"Eren... tunggu."
Pemuda itu berbalik arah. Dilihatnya si perempuan yang kini terduduk dilantai dengan heels yang patah. Wajahnya menunjukkan ekspresi meringis kesakitan.
"Benar-benar nona yang bodoh," ia mengejek namun tingkahnya bertolak belakang.
Eren kembali menghampiri, ranselnya dipindahkan kedepan—berbalik arah lalu merendahkan posisinya. Mikasa tak mengerti maksudnya, terlalu ambigu dan tanpa clue.
"Naik Mikasa." titahnya dengan nada tenang, "Kamu nggak mungkin bisa jalan dengan kondisi sekarang."
Tindakan yang tiba-tiba namun terlalu tepat guna. Mikasa mematung lama, berdebat dengan hati dan pikirnya yang mulai goyah. Meski diluarnya kelihatan cuek dan tidak peduli, namun Eren bukanlah pria jahat.
Dia pria baik yang mencoba menyembunyikan kehangatan hatinya.
Dengan pelan ia naik ke atas gendongan, melingkarkan tangan sepenuhnya pada leher Eren. Ada detak tak sengaja yang berdebar kuat, jarak ini mampu membuat siapapun goyah.
"Hei," gumamnya pelan, "Meski kamu baik dan tampan tapi ingat ya... aku sudah punya kekasih."
Si pria hanya terkekeh pelan, dengan usaha lebih ia berjalan menanggung dua beban sekaligus. Ransel dan juga seorang perempuan asing.
"Bukankah kamu yang mulai goyah dengan kehadiranku?"
Terlalu tepat sasaran hingga ia tak mampu memberikan jawab. Dalam hatinya Mikasa tau, ini hanya perjalanan sementara. Sebuah jeda yang memaksa bertemu sebelum menuju orang lain.
Namun berapa kalipun disangkal, jawabannya cukup jelas. Perjalanan yang tak direncanakan ini telah menjadi kenangan yang tak mungkin bisa ia lupakan.
Part 1 End