Siang itu terasa lebih panas dari biasanya. Bukan hanya cuaca, tapi juga dadaku, saat sebuah pesan masuk dari seseorang yang dulu sangat kukenal.
“Hai. Bagaimana kabarmu?”
Pesannya singkat. Aku membalas cepat, terlalu cepat.
“Kabarku baik.”
Setelah itu hening. Aku menatap layar ponsel lebih lama dari yang seharusnya. Ada harapan bodoh yang muncul. Dulu, dia sering bercerita padaku. Tentang lelahnya hidup, tentang cinta yang gagal, tentang keinginannya menyerah. Aku ada di sana saat itu.
Ponselku bergetar lagi.
“Ayo kita ke coffee. Aku ingin bertemu.”
Aku terdiam. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Pasti akan canggung. Tapi aku tetap membalas.
“Nanti malam bagaimana?”
“Baik.”
Sore harinya dia bertanya kami akan ke mana. Aku menyebut sebuah kafe kecil, Koffe Rotak. Dia langsung setuju. Menjelang malam, dia mengirim pesan agar aku segera berangkat. Tak lama setelah itu, sebuah foto masuk. Rambutnya basah. Dia baru keramas. Tanda dia siap keluar.
Aku mengikuti share location yang dia kirim. Mutar cukup lama sebelum akhirnya sampai. Saat pertama kali melihatnya, aku nyaris tak mengenalinya. Dia terlihat berbeda. Lebih dewasa, tapi juga lebih rapuh.
Kami sempat bercanda. Aku mengejeknya soal Instagram. Di foto-foto, dia terlihat tinggi. Aslinya tidak. Dia kesal. Aku tertawa dan bilang pendek itu imut. Dia memukul lenganku pelan.
Aku memboncengnya ke kafe. Di jalan, kami tertawa, lalu tanpa sadar ceritanya berbelok ke masa lalu. Dia bercerita tentang putus asa, tentang cinta yang dulu membuatnya hampir mengakhiri hidup. Aku ingat malam itu. Malam saat aku membantunya bertahan.
Di kafe, aku memesan kentang dan minuman. Dia memesan nasi. Di sudut ruangan ada beberapa buku. Aku membuka salah satunya. Membaca sebentar. Aku bilang aku suka membaca. Dia minta difoto dengan buku itu. Setelah kulihat hasilnya, dia marah karena terlihat pendek lagi. Aku kembali meyakinkan. Kali ini dia tersenyum.
Kami naik ke lantai atas. Obrolan semakin dalam. Dia bercerita tentang mantannya yang selingkuh. Suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca. Dia bilang dia berjuang sendirian. Percaya sepenuhnya pada orang yang akhirnya meninggalkannya.
“Menurutmu aku cocok pacaran sama siapa?” tanyanya tiba-tiba.
Aku asal menjawab, menyebut nama Goni, temanku. Aku bercanda. Dia tertawa.
Dia bilang sekarang dia ingin berubah. Menjadi wanita yang lebih maju. Ingin membalas mantannya dengan pencapaian. Aku hanya mendukung. Itu satu-satunya peran yang kupunya.
Malam berakhir. Aku pulang. Di perjalanan, aku memberi kode halus bahwa aku menyukainya. Dia tidak menolak. Tidak juga mengiyakan.
Malamnya, dia menelpon. Suaranya menangis. Dia bilang masih kangen mantannya. Aku menenangkannya. Melontarkan beberapa lelucon sampai dia tertawa. Aku tertidur dengan bayangannya.
Keesokan harinya hidup kembali biasa. Aku bangun, beraktivitas. Saat membuka ponsel, aku melihat statusnya. Foto dirinya. Foto yang kuambil kemarin.
Siangnya, saat aku sendiri membaca novel, status baru muncul. Dia mengunggah foto bersama seseorang. Awalnya kupikir itu aku. Ternyata bukan. Itu foto baru. Dia dan Goni. Terlihat mesra.
Aku membalas status itu.
“Wih, beneran pacaran sama Goni?”
“Kan kamu yang nyuruh.”
Setelah itu aku diam. Terlalu diam. Ada perasaan jatuh dari tempat tinggi, tapi tanpa suara. Aku tersenyum ke layar, lalu menutup ponsel.
Satu kata buat wanita itu
"Dari yang terjadi, aku harusnya tetap di sana dan membiarkanmu apa adanya, aku membiarkanmu masuk ke hatiku tanpa pikir panjang, itulah kenapa aku menyesal, kamu adalah pikiran yang ga bisa aku jinakkan, dan aku berusaha tetap waras"