EPISODE 9 :
Kelas XI-IPA 2 berubah menjadi medan perang. Boris, dengan naluri melindungi yang kuat, menjilat-jilat wajah Zikri yang masih dilanda trauma. Air mata Zikri bercampur dengan air liur Boris, menciptakan pemandangan yang menyayat hati.
Siswa yang tadi membuka kancing seragam Zikri meringis kesakitan. Gigitan Boris cukup dalam hingga meninggalkan luka memar dan goresan. Sementara itu, para siswi yang ponselnya hancur menangis histeris. Bagi mereka, ponsel bukan hanya alat komunikasi, tapi juga simbol status dan identitas diri.
Markonah dengan sigap menghampiri Zikri. Hatinya hancur melihat pacarnya dalam kondisi seperti ini. Dengan tangan gemetar, ia memasang kembali kancing seragam Zikri satu per satu. Setiap sentuhan terasa begitu lembut dan penuh kasih sayang.
Saat kancing terakhir terpasang, Zikri mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Markonah. Tatapan mereka terkunci dalam keheningan. Ada rasa terima kasih, rasa bersalah, rasa cinta, dan rasa takut yang bercampur aduk dalam tatapan itu.
Markonah menggenggam tangan Zikri erat. "Kamu nggak apa-apa?" bisiknya lembut.
Zikri menggeleng lemah. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Tenggorokannya tercekat oleh rasa takut dan malu.
"Jangan khawatir. Aku di sini," kata Markonah sambil memeluk Zikri erat. Ia merasakan tubuh Zikri bergetar hebat.
Boris, yang menyadari Zikri masih trauma, mendekat dan melingkarkan tubuhnya di kaki Zikri. Ia seolah ingin mengatakan, "Aku akan selalu menjagamu."
Markonah melepaskan pelukannya dan menatap Zikri dengan tatapan penuh keyakinan. "Kita harus laporin kejadian ini ke kepala sekolah. Mereka nggak bisa dibiarin lolos begitu aja," tegasnya.
Zikri mengangguk setuju. Ia tahu, Markonah benar. Para pelaku perundungan ini harus mendapatkan hukuman yang setimpal.
Dengan langkah mantap, Markonah menggandeng Zikri keluar dari kelas. Boris mengikuti mereka dari belakang, siap melindungi mereka dari segala ancaman.
Markonah menangkup pipi Zikri, menghapus jejak air mata dengan sentuhan lembut yang menenangkan. Tatapannya teduh, menyalurkan kekuatan pada Zikri yang masih gemetar.
Tiba-tiba, desingan tajam membelah udara. Tusuk sate meluncur deras ke arah Zikri. Tanpa ragu, Markonah bergerak cepat, menghadang proyektil itu dengan dadanya.
Duk!
Tusuk sate itu membentur dada Markonah, namun alih-alih menembus, benda itu justru mental memantul, berbalik arah menghantam si pelempar. Si pelaku meringis kesakitan saat tusuk sate mengenai lengannya.
Markonah bahkan tidak bergeming. Ekspresinya datar, seolah hanya merasakan sentuhan angin sepoi-sepoi. Zikri, yang sudah tahu rahasia kekebalan Markonah, hanya menghela napas lega.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Zikri, memastikan Markonah tidak merasakan sakit.
Markonah tersenyum tipis. "Aku kan sudah bilang, aku kebal. Kamu yang harusnya hati-hati," jawabnya santai.
Boris, yang geram melihat Zikri diserang, langsung menyergap si pelempar. Dengan geraman rendah, ia menggigit kaki pelaku hingga tersungkur.
Si pelaku meronta kesakitan, mencoba melepaskan diri dari gigitan Boris yang kuat. "Ampun! Sakit! Lepaskan!"
Markonah mendekat, menatap si pelaku dengan dingin. "Sudah kubilang, jangan macam-macam dengan Zikri. Kamu tidak mendengarkan, ya?"
Si pelaku menggeleng ketakutan. "Ma-maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi," lirihnya.
"Bagus. Sekarang, pergi dari sini," perintah Markonah.
Boris melepaskan gigitannya. Si pelaku, dengan langkah pincang, segera kabur dari hadapan Markonah dan Boris.
Markonah kembali menatap Zikri, kali ini dengan senyum lembut. "Sudah aman. Jangan khawatir, aku akan selalu melindungimu."
Zikri membalas senyuman Markonah, hatinya dipenuhi rasa syukur. Ia tahu, memiliki Markonah berarti memiliki perisai yang tidak hanya kebal terhadap serangan fisik, tapi juga kebal terhadap segala bentuk kebencian dan kejahatan.
"Terima kasih, Markonah. Aku beruntung memilikimu," ucap Zikri tulus.
Markonah menggenggam tangan Zikri erat. "Aku juga beruntung memilikimu, Zikri. Bersama, kita akan menghadapi semua ini."