Langit sore yang cerah, Mutia duduk di dalam sebuah bus antar kota Provinsi Kalimantan Timur. Sehari sebelumnya, Halimah kakak sepupu yang usianya selisih 25 tahun dengannya mengirim pesan.
Halimah memintanya datang ke Balikpapan untuk membantu syukuran Khitanan Putra ketiganya di rumah.
Meski berat untuk pergi, Mutia sungkan menolak dan akhirnya berangkat untuk memenuhi permintaan kakak sepupunya.
Bukan tanpa sebab ia merasa berat untuk ke sana. Hafidz, putra sulung Kakak sepupunya itu sudah berhasil meluluhkan hatinya.
Sayangnya, beberapa bulan lalu Mutia juga mendapat kabar dari Kak Yasmin, adik Halimah bahwa Hafidz sedang proses ta'aruf dengan putri rekan kerja abinya.
Bus yang melaju kencang akhirnya sampai di terminal Balikpapan. Mutia berdiri lama di pinggir jalan berharap ada ojek kosong yang menawarinya.
Tiba-tiba, sebuah sepeda motor berhenti di depan Mutia.
"Ayo naik," ujar pemuda di hadapannya.
Pemuda itu membuka kaca helmnya,"Ini aku."
Nafas Mutia tercekat, "Hafidz? Kenapa kamu jemput?" tanyanya bingung.
"Sudah naik aja, disuruh umi. Ayo buruan!"
Hafidz menyerahkan helm setelah Mutia duduk di jok belakang.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Mutia bingung mau memulai, ia tak punya bahan obrolan.
Hafidz juga diam saja entah karena alasan yang sama atau memang karakter aslinya yang terlalu dingin.
Hafid memarkirkan sepeda motornya di samping rumah. Mutia buru-buru turun dan masuk ke dalam karena menahan detak jantungnya yang tak karuan dari tadi. Hafidz kebingungan melihat tingkahnya.
"Istirahat saja dulu, malam ini mulai siapin souvenir untuk tamu," Ujar Halimah sambil bersalaman dengan Mutia.
Mutia mengangguk lalu masuk ke kamar keponakan perempuannya, Azkia.
"Kak, baru sampai? " sapanya yang mencium punggung tangan Mutia.
"Iya. Lagi kerjain apa? " tanya Mutia bingung melihat Azkia yang nampak serius di depan laptopnya.
"Biasa kak, tugas kuliah. Eh kak, sudah dapat cerita belum soal kak Hafidz?" tanya Azkia menatap Mutia dengan tatapan serius seolah tak sabar membongkar sebuah rahasia.
"Soal apa?" tanya Mutia heran.
"Kata Umi, Kak Hafidz sedang ta'aruf dengan putrinya teman abi."
"Oh soal itu, iya sudah dengar dari kak Yasmin."
"Aku tidak menyangka kakak ku yang pendiam itu ternyata punya misi nikah muda," seloroh Azkia sambil tertawa.
"Terus kata umi nanti mereka datang. Kebetulan juga diundang," sambungnya.
"Ooh," hanya itu yang bisa dijawab Mutia.
Setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang tengah. Duduk melingkar sambil mengemas souvenir ke dalam plastik kecil. Anggi duduk bersebelahan dengan Yasmin.
Hafidz baru datang setelah selesai mengantar undangan terakhir di sekitar perumahan.
"Sudah tau siapa yang lagi ta'aruf dengan Hafidz? " bisik Yasmin. Mutia menggeleng.
"Katanya lulusan pondok. Masih kuliah, seusia denganmu. Kalau tidak salah dia fakultas keguruan di Universitas Mulawarman."
Mutia hanya mengangguk, ia hanya bisa menguatkan diri untuk bersabar.
Keesokan Harinya..
Mutia dan beberapa ipar Halimah sibuk di dapur membantu menyiapkan piring dan alat makan lainnya. Memotong buah dan menatanya di piring-piring.
"Kamu kok disini Mutia? Coba pakai pakaian bagus bantu menata makanan diluar saja. Siapa tahu ada teman kantor Bang Usman yang masih single," goda Wati adik ipar Halimah dari saudara laki-laki keduanya.
Mutia tertawa," Ya ampun kak, aku jauh-jauh ke sini bukan buat cari jodoh tapi bantu rewang," sahut Mutia.
Tak sengaja, ia bertemu mata dengan Hafidz yang mengantar tumpukan piring kotor ke tempat pencucian. Seketika tawa Mutia menghilang berganti senyap. Hafidz hanya diam tanpa ekspresi. Wati tersenyum melihat Mutia yang tiba-tiba salah tingkah.
Makin siang, tamu makin banyak berdatangan. Mutia masih setia di dapur, memotong buah, mencuci piring kotor dan melapnya sampai siap digunakan lagi.
Di kejauhan, mata Hafidz memperhatikan kesibukan Mutia. Seolah menikmati kelincahan gadis itu dengan kehebohannya sendiri meski berbalut daster panjang dan hijab instan yang besar.
Senyuman tipis tersungging di sudut bibirnya.
"Hafidz, " panggil Usman, abinya.
Hafidz menoleh, tersentak dan gelagapan.
"Eh ,iya Bi?" Ia spontan berdiri.
"Pak Ilham sudah datang, ayo kita sambut," ajak Usman. Hafidz mengangguk dan bergegas mengiringi Usman.
Hafidz mencium tangan Ilham dan Yani, menjabat tangan Taufik dan menangkupkan tangan ke dada saat menyapa Namira.
Ia memang tak mau bersalaman dengan non muhrim kecuali orang tua seperti Yani. Hafidz menatap sekilas pada Namira. Meski berhijab, tapi sebenarnya masih jauh dari kriterianya.
"Umi mana?" tanya Usman. Tepat saat itu Halimah keluar dari dalam rumah.
"Oh sudah datang, ayo duduk di dalam saja biar leluasa," ajak Halimah setelah bersalaman dengan keluarga Ilham.
Mereka masuk ke ruang tengah yang memang lebih luas.
"Mutia, tolong bawakan piring buah dan kuenya ya," ujar Halimah sedikit berteriak pada Mutia di dapur.
" Terima kasih Mutia," ujar Usman.
Mutia mengangguk dengan senyuman tipis.
"Itu siapa? Adiknya Hafidz? " tanya Ilham.
"Oh bukan itu adik sepupu Halimah yang lagi kuliah di Universitas Mulawarman juga. Seangkatan dengan Namira dan Hafidz."
Taufik menatap lekat pada Mutia seolah tertarik. Hafidz sedikit merasa tidak nyaman dengan tatapan itu, tapi ia hanya diam.
Halimah keluar membawa Azkia dan Raihan yang memegang sarung menahan sakit karena efek bius setelah di khitan mulai habis.
"Ini adik-adiknya Hafidz," ujar Halimah seperti memamerkan mainannya dengan bangga.
Di dapur, Mutia melirik sesekali ke ruang tengah melihat keakraban dua keluarga itu.
Ia menatap gadis dengan hijab berwarna pink dusty stelan tunik dan celana plisket Putih tulang. Kulitnya putih, hidungnya mungil, bibirnya tipis, cantik dan manis.
Mutia seketika minder, "Memang cocok dengan Hafidz, " gumamnya.
Ia menghela nafas lalu bertekad untuk benar-benar mengikhlaskan Hafidz dan menghapus wajah itu dari hatinya.
***
Awal hari di tahun baru, sisa suasana kemeriahan pergantian tahun masih terasa hari itu.
Anak-anak meniupkan terompet, mengulang perayaan semalam.
Ponsel Mutia berdering.
"Assalamu'alaikum, kenapa Yumna? " sapanya pada adiknya di telpon sambil menikmati sarapannya.
"Wa'alaikumussalam Kak, Selamat ya sudah di lamar," jawab Yumna sambil cekikikan.
"Hei jangan bercanda, nggak lucu," sahut Mutia sedikit kesal.
"Siapa yang becanda ih, nih tanya Bapak."
Yumna menyerakan ponselnya pada Bapak.
"Mutia, sekarang kamu siap-siap ya. Kamu sudah dilamar, baru pagi tadi."
Jantung Mutia tak karuan.
"Siapa yang lamar Pak? " tanya Mutia masih terkejut.
"Hafidz yang melamarmu. Kemarin Usman, Halimah dan Hafidz ke rumah. Tunda dulu skripsi mu, fokus persiapan pernikahan Bulan depan. Kamu menikah di Balikpapan ya."
Telepon diputus Bapak, Mutia masih terpaku tak menyangka.
***
Sebulan berikutnya.
Pesta resepsi baru saja selesai.
Mutia menunggu di kamar pengantin setelah selesai berganti pakaian. Tak lama suara pintu dibuka.
Mutia gugup, ia tak punya pengalaman pacaran sebelumnya tahu-tahu sudah menikah di usia yang masih 21 tahun itu.
"Mutia," panggil Hafidz lembut.
"Maaf ya kamu pasti kaget aku lamar dan sekarang menikah."
Mutia tersipu malu.
"Iya tak masalah. Niat baik memang harus dipercepat."
Hafidz tersenyum mendengar respon Mutia.
"Sebenarnya, aku sudah lama memendam perasaan padamu," ujar Hafidz.
"Sejak kapan?" tanya Mutia terkejut.
"Sejak pertama kali kamu ke Balikpapan. Tiga tahun lalu."
Pipi Mutia merona, " Sebenarnya aku juga. Tapi setelah tahu kamu ta'aruf. Aku berusaha memupus harapanku."
"Pantas kamu nggak pernah ke Balikpapan lagi sejak acara khitanan Raihan waktu itu. Aku terlalu takut menyatakan perasaanku, takut kamu tolak. Jadinya aku langsung saja ke rumah orangtuamu," jelas Hafidz.
"Hafidz, kenapa kamu yakin aku pasti terima?" tanya Mutia penasaran.
"Karena aku selalu sebut namamu di doaku. Selain usaha, doa senjata umat muslim, kan?" Mereka spontan tertawa bersama.
"Yuk, kita shalat sunnah 2 rakaatnya," ajak Hafidz.
Event Menulis Cerpen GC Rumah Menulis