Aku selalu membuka ponsel sebelum benar-benar bangun. Kebiasaan bodoh, tapi sudah mendarah daging. Pagi itu pun sama. Alarm sudah mati sejak lima menit lalu, tapi aku masih menatap layar.
Nama itu muncul paling atas.
Raka.
Pesan terakhirnya dikirim semalam, pukul 22.47.
“Kalau besok kamu sempat, bilang ya.”
Tidak ada emotikon. Tidak ada penjelasan. Tidak ada tanda tanya.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali. Terlalu singkat untuk terasa penting, tapi terlalu menggantung untuk diabaikan. Aku ingin membalas cepat, tapi tanganku berhenti. Sempat untuk apa? Itu pertanyaan sederhana, tapi entah kenapa terasa berat untuk dikirim.
Aku menutup ponsel dan bangun. Menyiapkan diri seolah hari ini sama seperti hari-hari lain.
Di kamar mandi, aku sempat memikirkan pesan itu lagi. Raka bukan orang yang sering menghubungi lebih dulu. Biasanya aku yang memulai, dan dia yang membalas singkat. Aku sudah terbiasa dengan pola itu. Mungkin itu sebabnya pesan semalam terasa aneh.
Aku membuka ponsel lagi sambil sarapan. Mengetik, lalu menghapus.
“Aku bisa.”
Hapus.
“Besok agak padat, kenapa?”
Hapus lagi.
Aku menghela napas dan mengunci layar. Nanti saja, pikirku. Kalau sudah lebih jelas.
Di kantor, hari berjalan normal. Terlalu normal, malah. Aku mengerjakan laporan, menghadiri rapat singkat yang isinya bisa diringkas jadi satu email, dan tertawa pada hal-hal yang tidak benar-benar lucu. Sesekali, tanpa sadar, aku melirik ponsel.
Tidak ada pesan baru dari Raka.
Aku mulai merasa tidak enak, tapi belum cukup untuk bertindak. Perasaan itu seperti batu kecil di sepatu. Mengganggu, tapi masih bisa diabaikan.
Siang hari, saat makan sendiri di kantin, aku membuka lagi ruang chat kami. Pesannya masih di sana. Tidak berubah. Aku mengetik:
“Aku bisa sore ini.”
Lalu berhenti. Aku tidak tahu kenapa jari-jariku selalu ragu di titik itu. Aku takut terdengar terlalu siap, terlalu berharap. Padahal aku hanya membalas pesan. Hal paling biasa di dunia.
Aku menghapusnya lagi.
Sore menjelang, hujan turun tiba-tiba. Aku terjebak di halte bersama beberapa orang lain. Bau aspal basah bercampur udara dingin. Aku duduk di bangku paling ujung dan akhirnya menyerah membuka ponsel.
Masih tidak ada pesan baru.
Entah kenapa, rasa bersalah itu tumbuh. Bukan karena aku melakukan kesalahan besar, tapi karena aku memilih diam terlalu lama. Aku tahu Raka bukan tipe yang menunggu. Kalau tidak ada jawaban, dia akan menganggap itu jawaban.
Aku mengetik lebih panjang kali ini.
“Maaf baru balas. Dari tadi kerjaan numpuk. Kamu kenapa?”
Aku menekan kirim sebelum sempat berubah pikiran. Pesan terkirim. Centang satu. Beberapa detik kemudian, dua centang muncul.
Aku menunggu.
Balasan datang tidak lama kemudian.
“Gapapa. Tadi cuma mau pamit.”
Aku membaca kalimat itu pelan. Rasanya seperti ada sesuatu yang terlambat satu langkah. Kata pamit berdiri sendiri, terlalu besar untuk satu baris chat.
“Pamit ke mana?”
Aku membalas cepat, jujur tanpa mikir. Kali ini tidak ada ragu. Ironis, karena biasanya keberanian datang ketika sudah tidak terlalu berguna.
Balasan tidak langsung muncul. Aku menatap layar, mendengarkan hujan yang mulai reda. Orang-orang di halte satu per satu pergi. Tinggal aku dan suara kendaraan yang lewat.
Beberapa menit kemudian, pesan itu datang.
“Aku pindah kota besok pagi, Dapet tawaran kerja mendadak. Tadinya pengin ketemu bentar.”
Dadaku terasa kosong, Bukan sakit, bukan juga sedih yang meledak. Lebih seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat kupegang.
Aku membayangkan Raka duduk di kamarnya, menulis pesan semalam dengan niat sederhana. Tidak dramatis, Tidak penuh harap. Hanya ingin bertemu sebentar, mungkin minum kopi, mungkin diam saja. Sesuatu yang sekarang terasa jauh.
Aku mengetik cepat.
“Aku bisa sekarang.”
Pesan itu terkirim, Aku menatap layar tanpa berkedip.
Tidak ada centang biru.
Beberapa menit berlalu, Lalu sepuluh, Lalu lebih lama. Aku tahu, bahkan sebelum benar-benar yakin, bahwa pesan itu tidak akan dibaca.
Malam itu aku pulang dengan perasaan aneh, Tidak ada tangisan, Tidak ada adegan besar. Aku makan, mandi, dan berbaring seperti biasa. Tapi pikiranku terus kembali ke satu hal sederhana aku terlalu lama menunggu kejelasan untuk sesuatu yang sebenarnya hanya butuh jawaban.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa lagi. Chat itu tetap ada, Pesan-pesannya tidak berubah. Sesekali aku membukanya, bukan untuk berharap balasan, tapi untuk mengingat.
Aku belajar satu hal kecil dari sit,. Bahwa tidak semua hal penting datang dengan penjelasan panjang. Kadang, hidup hanya bertanya pelan, Dan ketika kita sibuk menimbang-nimbang, hidup sudah melangkah duluan.
Tidak ada yang benar-benar salah,
Aku tidak jahat, Raka tidak menuntut.
Hanya ada pesan yang tidak jadi dijawab tepat waktu.