Setelah Kejadian Penyerangan Sekolah Itu, sekolah dipulangkan lebih Cepat, Esok paginya, Markonah udah sibuk nyiapin barang-barang buat bakti sosial di rumahnya. "Boris, bantuin Mama dong! Jangan tidur mulu," kata Markonah sambil ngelus-ngelus Boris, biawak kesayangannya yang lagi selonjoran di sofa.
Boris cuma ngedip-ngedipin matanya. Markonah ketawa. "Dasar pemalas!"
Markonah ngangkat telepon dan nelpon Zikri. "Zikri! Lo udah bangun belom? Bantuin gue dong! Mau nyiapin barang buat bakti sosial nih," kata Markonah.
"Iya, iya, gue udah bangun kok. Bentar lagi gue ke sana," jawab Zikri dari seberang telepon.
Nggak lama kemudian, Zikri nyampe di rumah Markonah. "Sori ya telat. Tadi macet banget," kata Zikri sambil nyengir.
"Santai aja. Yang penting lo dateng," kata Markonah sambil nyubit pipi Zikri gemes. "Bawain kardus ini ke mobil dong. Berat nih."
Selesai beres-beres, Markonah dan Zikri berangkat ke sekolah. "Gue deg-degan nih, Zik. Semoga bakti sosialnya lancar," kata Markonah sambil nyetir mobil.
"Santai aja. Lo kan jagoan," jawab Zikri sambil masang sabuk pengaman.
Sesampainya di sekolah, mereka langsung disambut sama Doni, ketua OSIS. "Wah, udah dateng! Makasih ya udah mau bantu," kata Doni sambil senyum manis.
"Sama-sama, Don. Kita kan emang baik hati," jawab Markonah sambil ketawa.
Bel masuk sekolah bunyi. Markonah dan Zikri masuk kelas dengan lesu. Pelajaran pertama matematika!
"Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita akan belajar tentang turunan," kata Pak Bambang dengan suara datar.
Markonah ngelirik Zikri. Zikri cuma ngangkat bahu. Mereka berdua emang nggak terlalu suka matematika.
Di tengah pelajaran yang membosankan, tiba-tiba... "MARKONAH! BORIS KABUR!!!" teriak seorang teman sambil ngos-ngosan dari depan pintu kelas.
Markonah langsung panik. Boris, biawak kesayangannya, emang suka bikin ulah. "Aduh, mampus gue!"
Markonah dan Zikri izin ke Pak Bambang buat nyari Boris. Mereka nyari Boris keliling sekolah, sampe akhirnya nemuin Boris lagi ngejar-ngejar anak basket di lapangan.
"BORIS! Sini!" teriak Markonah.
Boris langsung nyamperin Markonah sambil menjilat wajahnya. Tapi, masalah nggak berhenti di situ. Satpam sekolah langsung nyamperin mereka.
"Maaf, Markonah, Zikri. Boris harus dibawa ke kantor kepala sekolah. Ada laporan dari siswa yang merasa terganggu," kata satpam itu tegas.
Markonah melotot. "Apa-apaan sih, Pak? Boris kan nggak salah apa-apa!"
Zikri narik napas dalam-dalam. "Udah, Markonah. Kita ikutin aja dulu. Nanti kita omongin sama kepala sekolah," bisik Zikri.
Dengan berat hati, Markonah nurutin Zikri. Mereka nganterin Boris ke kantor kepala sekolah. Di sana, kepala sekolah udah nunggu dengan wajah serius.
"Markonah, saya mendapat banyak laporan tentang Boris. Maaf, tapi saya harus melarang kamu membawa hewan peliharaan ke sekolah," kata kepala sekolah itu tegas.
Markonah ngerasa nggak adil. Dia sayang banget sama Boris. Zikri ngerangkul Markonah, nyoba nenangin dia.
"Bapak, beri kami kesempatan. Kami janji, Boris nggak akan ganggu siapa-siapa. Kami akan bertanggung jawab penuh," kata Zikri dengan nada убежден.
Kepala sekolah itu natap Zikri dan Markonah bergantian. Dia ngeliat ketulusan di mata mereka.
"Baiklah," kata kepala sekolah itu akhirnya. "Saya akan beri kalian kesempatan. Tapi, jika Boris membuat masalah lagi, saya tidak akan segan-segan mengeluarkan Boris dari sekolah."
Markonah dan Zikri langsung senyum lega. "Makasih banyak, Bapak/Ibu!"
Mereka keluar dari kantor kepala sekolah sambil gandengan tangan. Markonah ngerasa seneng banget. Dia punya Zikri yang selalu ada buat dia, dan dia juga berhasil mempertahankan Boris.
"Gue sayang banget sama lo, Zik," kata Markonah sambil nyium pipi Zikri. "Lo emang pacar terbaik deh!"
Zikri cuma senyum tipis. Tapi, di dalam hatinya, dia juga ngerasa seneng banget. Dia tau, Markonah adalah cewek yang spesial. Dan dia akan selalu ada buat Markonah, apapun yang terjadi. Setelah nganterin Markonah balik ke rumah, Zikri langsung balik ke apartemennya buat lanjutin ngoding.