Langit kelabu memayungi senja di kota kecil itu. Rintik hujan mulai turun, menciptakan irama melankolis di atap-atap seng dan aspal jalanan yang basah. Di balik jendela kafe, seorang wanita dengan syal rajut merah marun, Sarah namanya, menyesap kopi panasnya, matanya menerawang jauh, seolah setiap tetes hujan membawa kembali kepingan memori yang telah lama terkubur.
Sarah adalah seorang pustakawan muda yang pendiam. Setiap sore, ia rutin menghabiskan waktu di kafe "Senja" itu, tepat di sudut yang menghadap jalan raya.
Tempat itu adalah saksi bisu kisah cintanya yang pudar bersama Arya, kekasih masa lalunya. Sudah tiga tahun Arya meninggalkannya tanpa kabar, tepat setelah senja hujan terakhir mereka. Sejak saat itu, hujan di kala senja selalu menjadi pemicu kesedihan bagi Sarah, membuatnya terpenjara dalam nostalgia.
Sarah duduk sendirian di sudut kafe "Senja", memelangi secangkir kopi hitam yang sudah mulai dingin. Matanya terarah ke jalan raya, menatap butiran hujan yang jatuh perlahan-lahan, menciptakan riak-riak kecil di genangan air. Tempat ini, yang dulu menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka, kini hanya menyisakan kenangan pahit.
Tiga tahun telah berlalu sejak Arya pergi tanpa kata-kata. Sarah masih belum bisa melupakan malam itu, malam terakhir mereka di kafe ini, ketika hujan turun deras dan Arya hanya tersenyum kecut sebelum menghilang dalam hujan. Sarah masih ingat bagaimana air mata jatuh di pipinya, bagaimana dadanya terasa sesak, dan bagaimana rasanya kehilangan satu-satunya cinta sejati.
Setiap kali hujan turun di kala senja, Sarah merasa terlempar kembali ke masa lalu, ke saat-saat indah bersama Arya. Ia mencoba melarikan diri dari kenangan itu, tapi sepertinya, kafe "Senja" ini telah menjadi penjara bagi hatinya.
Saat Sarah sedang asyik dengan lamunannya, bayangan seseorang berdiri di depan pintu kafe, mengguncang dunianya. Itu Arya. Jantung Sarah berdebar kencang. Arya masuk, matanya langsung tertuju pada Sarah. Mereka bertatapan. Sarah merasakan perpaduan aneh antara rindu, marah, dan sakit hati. Arya mulai melangkah ke arahnya, namun Sarah, yang belum siap menghadapi kenyataan, buru-buru berdiri, membayar kopinya, dan melangkah keluar kafe, menembus hujan tanpa payung. Arya memanggil namanya, tetapi Sarah terus berjalan, air mata bercampur dengan air hujan.
Ia tidak ingin lagi terluka.
Arya berlari mengejar Sarah. Di tengah trotoar yang basah, ia berhasil menghentikan langkah Sarah.
"Sarah, kumohon, dengarkan aku,"
ucap Arya, suaranya sarat penyesalan.
" Apa lagi yang mau kamu jelaskann Arya." Sarah mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Arya,
tetapi Arya terus memeganginya erat.
" Tolong , saat ini juga dengarkan semua penjelasan ku."
Ucapp Arya sambil menatap wajah Sarah.
Sarah pun mengangguk kan kepalanya. Dan disaat itulah. Arya mulai menjelaskan bahwa ia pergi bukan karena keinginannya, melainkan karena tugas pekerjaan rahasia yang membuatnya terputus dari dunia luar, dan ia selalu berusaha kembali. Ia menunjukkan bukti-bukti yang membenarkan perkataannya.
Mendengar penjelasan Arya yang tulus, perlahan amarah Sarah mereda. Ia melihat ketulusan di mata Arya. Hujan di sekitar mereka seakan menjadi saksi penyatuan kembali dua hati yang sempat terpisah.
Senja itu, hujan tidak lagi terasa dingin dan menyakitkan bagi Sarah. Ia memeluk Arya erat, melepaskan semua kerinduan yang terpendam. Mereka kembali ke kafe, bergandengan tangan, siap menata kembali masa depan bersama. Hujan di kala senja, yang dulu simbol perpisahan, kini berubah menjadi lambang harapan dan awal yang baru bagi kisah
cinta mereka yang sempat mati suri.