Aku tidak tahu kapan tepatnya kenangan itu akan menjadi yang terakhir. Tidak ada tanda, tidak ada musik sedih, hanya sore yang berjalan seperti biasanya.
Langit berwarna jingga pucat, dan angin membawa aroma tanah setelah hujan. Aku duduk di tempat favoritku, tempat di mana aku sering berpikir terlalu banyak dan tertawa terlalu pelan. Saat itu aku sadar—aku tidak ingin diingat karena luka atau air mata, tapi karena kehadiran kecil yang pernah berarti.
Aku mengingat wajah-wajah yang pernah singgah. Ada yang tinggal lama, ada yang hanya lewat sebentar, tapi semuanya meninggalkan jejak. Beberapa kenangan terasa hangat, beberapa lagi perih, namun semuanya membentuk diriku hari ini.
Kenangan terakhirku bukan tentang perpisahan yang dramatis. Hanya tentang rasa syukur yang sederhana: bahwa aku pernah mencoba, pernah berharap, dan pernah bertahan walau tidak selalu kuat.
Jika suatu hari seseorang mengingat namaku, aku berharap mereka tidak mengingat kesalahanku, tapi ketulusanku. Tidak mengingat diamku, tapi niat baik yang mungkin tak sempat terucap.
Dan jika kenangan ini benar-benar menjadi yang terakhir dariku, biarlah ia menjadi kenangan yang lembut—seperti senja yang tidak menyakitkan saat menghilang, karena ia tahu, esok hari cahaya akan kembali.