Dulu, kelas itu selalu riuh. Setiap pagi ada tawa yang meledak tanpa aba-aba, candaan receh yang entah kenapa terasa lucu, dan suara kursi diseret sambil diiringi ejekan akrab. Di tengah semua itu, ada Raka—si pembuat suasana hidup. Sekali ia membuka mulut, hampir pasti ada yang tertawa.
Raka selalu bilang, “Hidup kalau nggak dibikin ketawa, berat.”
Dan semua percaya padanya.
Namun, perlahan, sesuatu berubah.
Candaan Raka masih ada, tapi tawanya tidak lagi sampai ke matanya. Ia masih tersenyum, namun senyum itu seperti kebiasaan, bukan perasaan. Saat teman-temannya tertawa, Raka sering terdiam lebih lama, menatap kosong ke arah papan tulis seolah ada sesuatu yang tak terlihat orang lain.
Hari demi hari, tawa itu makin jarang terdengar.
Candaan yang dulu spontan kini dipaksakan.
Dan suatu hari, Raka berhenti bercanda sama sekali.
Kelas terasa aneh tanpa suaranya. Sunyi yang tak biasa. Teman-teman mengira ia hanya bosan, atau mungkin sedang capek. Tidak ada yang benar-benar bertanya. Bukankah Raka selalu baik-baik saja? Bukankah orang yang paling sering bikin orang lain tertawa pasti bahagia?
Sampai suatu sore, Dina—teman sebangkunya—menemukan secarik kertas tertinggal di meja.
“Maaf kalau sekarang aku lebih sering diam.
Aku cuma capek jadi lucu ketika hatiku lelah.”
Dina menggenggam kertas itu erat. Untuk pertama kalinya, ia sadar: tawa bisa menjadi topeng, dan candaan bisa menjadi cara seseorang bertahan.
Keesokan harinya, Dina duduk di samping Raka seperti biasa.
Tidak ada candaan. Tidak ada tanya berlebihan.
Hanya satu kalimat pelan.
“Aku di sini kalau kamu mau cerita.”
Raka menoleh. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia tersenyum—bukan senyum untuk menghibur orang lain, tapi senyum kecil yang jujur.
Candaan mungkin bisa menghilang.
Tawa bisa meredup.
Tapi ketika ada yang mau benar-benar mendengar, perlahan, suara itu bisa kembali—bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai tanda bahwa seseorang akhirnya tidak send