Bab 5 - Pertemuan dengan Diri Sendiri
Dari setiap kehilangan, aku justru menemukan sesuatu — diriku sendiri. Bahwa cinta bukan tentang siapa yang membuat kita bahagia, tapi tentang bagaimana kita memahami diri sendiri lewat kehadiran dan kepergian orang lain.
Ada titik di mana semua rasa berhenti berbicara.
Bukan karena aku sudah sembuh,
Tapi karena aku sudah terlalu sering merasakan hal yang sama
Sampai akhirnya tak lagi terasa apa-apa.
Kehampaan bukan musuh.
Ia hanya ruang kosong yang muncul ketika semua suara di dalam diri berhenti saling bertabrakan.
Aku tidak lagi menunggu seseorang datang,
Tidak lagi berandai tentang siapa yang seharusnya bertahan,
Aku hanya diam — menatap sisa-sisa kenangan
Yang kini terasa seperti bayangan tanpa bentuk.
Dulu aku mengira cinta harus selalu berisi hangat, tawa, dan keindahan.
Tapi kini aku tahu, cinta juga bisa hadir dalam bentuk diam —
Diam yang panjang, dingin, tapi tenang.
Mungkin inilah bentuk cinta yang paling jujur:
Ketika ia tidak lagi menuntut apa pun,
Bahkan tidak untuk dikenang.
Kehampaan mengajariku sesuatu yang aneh:
Bahwa kehilangan bukan akhir dari rasa,
Tapi pintu menuju penerimaan.
Bahwa terkadang, yang paling kita cari bukan cinta dari seseorang,
Tapi keikhlasan untuk tidak lagi mencarinya.
Aku pernah duduk lama sendirian, menatap langit malam.
Tidak ada perasaan besar, tidak ada air mata — hanya sunyi yang terasa dalam.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa kosong.
Aku merasa cukup.
“Barangkali yang disebut cinta sejati bukan tentang bersama,
Tapi tentang tenang — ketika ia tak lagi harus dimiliki untuk tetap hidup di dalam hati.”
✨ Filosofi singkat di bawah halaman:
“Kehampaan bukan hilangnya rasa,
Tapi ruang bagi hati untuk bernapas setelah terlalu lama berjuang.
Karena kadang, diam pun bisa menjadi bentuk cinta yang paling tulus.”