Dengarlah.
Di ujung kerajaan yang dilupakan peta, ada sebuah rumah batu tanpa jendela. Di dalamnya tergantung sebuah cermin tinggi berbingkai besi, retak halus seperti urat pada tulang tua. Cermin itu tidak memantulkan wajah. Ia berbicara.
Suaranya bukan keras, bukan pula lembut.
Suaranya seperti ingatan yang tiba-tiba teringat kembali.
“Katamu ingin tahu kebenaran,” bisiknya kepada siapa pun yang berdiri di depannya.
“Setiap kebenaran ada harganya.”
Harga itu bukan emas.
Bukan darah.
Harga itu adalah ingatan.
Orang pertama yang datang adalah seorang pedagang. Ia ingin tahu mengapa hidupnya selalu terasa kosong meski kaya. Cermin berkata,
“Berikan satu ingatan yang paling kau sayangi.”
Pedagang itu setuju.
Saat ia pergi, ia lupa wajah anaknya sendiri.
Ia menjadi kaya, dan sepi—tanpa tahu mengapa.
Lalu datang seorang ksatria. Ia ingin tahu apakah ia benar-benar berani. Cermin memakan ingatan tentang ketakutannya yang pertama. Ksatria itu menjadi tak terkalahkan—namun juga tak lagi mengenal belas kasihan.
Orang-orang mulai datang berbondong-bondong. Mereka keluar dengan jawaban, dan pulang dengan lubang di dalam diri mereka. Tak ada luka yang terlihat. Hanya sunyi yang semakin panjang.
Hingga suatu malam, seorang perempuan datang sendirian. Namanya Seren. Ia tidak meminta kebenaran tentang masa depan atau dirinya. Ia hanya bertanya,
“Kenapa aku selalu merasa tidak cukup?”
Cermin terdiam lama.
“Karena kau terus hidup dari ingatan orang lain tentang dirimu,” jawabnya akhirnya.
“Harganya berat.”
“Apa yang akan kau ambil?” tanya Seren.
Cermin berbisik,
“Ingatan tentang seseorang yang paling kau cintai.”
Seren menutup mata.
Ia mengangguk.
Saat cermin menyala, Seren melihat kebenaran—bahwa ia selalu mengecilkan dirinya agar dicintai, selalu mengalah agar tidak ditinggalkan.
Ketika ia melangkah pergi, wajahnya tenang.
Namun di luar rumah batu, ia berhenti.
Ia tidak tahu harus ke mana.
Ia tidak tahu mengapa dadanya kosong.
Ia lupa siapa yang ia cintai.
Cermin tertawa pelan—untuk pertama kalinya.
Namun malam itu juga, cermin retak dari tengah. Suaranya melemah. Ia telah memakan terlalu banyak ingatan, terlalu banyak hidup yang tak pernah benar-benar dijalani.
Orang-orang berkata cermin itu terkutuk.
Namun dengarlah kebenaran terakhir ini:
Cermin itu bukan pemakan ingatan.
Manusialah yang rela menyerahkan masa lalu
demi jawaban yang ingin didengar.
Dan sampai hari ini,
masih banyak orang hidup tanpa tahu
apa yang telah mereka korbankan
untuk merasa “cukup”.
Tamat.