Di sebuah kerajaan tua yang dikelilingi tembok batu dan menara tinggi, hiduplah seorang gadis bernama Elowen. Setiap pagi, ia berjalan menyusuri jalan berbatu dengan keranjang anyam di lengannya, penuh bunga liar—mawar kecil, lili lembah, dan bunga biru yang hanya tumbuh di lereng bukit utara. Elowen bukan bangsawan, bukan pula putri. Ia hanyalah gadis penjual bunga keliling yang hidup dari senyum orang-orang dan harum kelopak yang ia bawa.
Tak banyak yang tahu, bunga-bunga Elowen selalu tampak lebih segar daripada milik pedagang lain. Ada yang bilang tangannya membawa kehangatan, ada pula yang berbisik bahwa bunga-bunganya tumbuh dari harapan.
Suatu sore, ketika matahari merunduk di balik menara istana, Elowen berhenti di depan gerbang batu kerajaan. Ia tak berniat menjual apa pun di sana—penjaga istana tak pernah membeli bunga. Namun hari itu, seorang pemuda berpakaian sederhana berdiri di balik gerbang, menatap senja dengan mata yang letih.
“Apa kau menjual bunga untuk mengusir kesedihan?” tanya pemuda itu.
Elowen tersenyum, lalu menyerahkan setangkai mawar putih.
“Bunga tak bisa mengusir kesedihan,” katanya lembut, “tapi ia bisa menemani.”
Pemuda itu menerima bunga tanpa menyebut nama. Sejak hari itu, mereka sering bertemu. Elowen tak tahu bahwa pemuda itu adalah Pangeran Alaric, pewaris takhta yang terkurung oleh kewajiban, aturan, dan perjodohan politik yang tak pernah ia pilih.
Hari-hari berlalu. Elowen bercerita tentang ladang bunga, tentang ibunya yang sakit, tentang mimpi kecil memiliki kebun sendiri. Pangeran Alaric, tanpa mahkota dan jubah, mendengarkan—untuk pertama kalinya merasa diperlakukan bukan sebagai simbol, melainkan manusia.
Namun rahasia tak pernah abadi.
Pada suatu pagi, Elowen dipanggil ke istana. Aula megah itu membuat langkahnya gemetar. Di singgasana emas, berdirilah pemuda yang ia kenal—kini dengan mahkota di kepalanya.
“Maafkan aku,” ujar sang pangeran. “Aku tak pernah berniat menipumu.”
Elowen menunduk. Hatinya perih, bukan karena kebohongan, melainkan jarak yang kini terbentang terlalu jauh.
Namun keajaiban kadang lahir dari ketulusan.
Pada hari penobatan, seluruh kerajaan dipenuhi bunga. Bukan bunga istana, melainkan bunga liar—mawar kecil, lili lembah, dan bunga biru dari bukit utara. Sang pangeran memerintahkan agar Elowen berdiri di sisinya.
“Aku memilih ratu yang tahu arti menemani,” katanya di hadapan rakyat.
“Bukan yang mengusir kesedihan, tapi berjalan bersamanya.”
Elowen, gadis penjual bunga keliling, menjadi permaisuri yang membawa musim semi ke kerajaan batu. Dan sejak saat itu, tak ada bunga di kerajaan itu yang tumbuh tanpa harapan.
Tamat.