Dimas hanyalah siswa SMP biasa yang paling takut pelajaran Matematika dan paling senang jam istirahat.
Suatu pagi, saat upacara bendera berlangsung terlalu lama, Dimas mengeluh pelan sambil menatap matahari. Tanpa ia sadari, lantai lapangan sekolahnya tiba-tiba bergetar halus.
Cahaya putih menyelimuti matanya.
Ketika Dimas membuka mata, ia masih berdiri di lapangan sekolah—namun semuanya terasa berbeda. Bangunan sekolahnya kini lebih luas, dindingnya penuh ukiran batik, dan bendera merah putih berkibar dengan simbol aneh di tengahnya.
Seorang guru berseragam cokelat tua mendekat sambil membawa tongkat kayu.
“Selamat datang di SMA Nusantara Arca, sekolah bagi siswa terpilih dari berbagai dunia,” katanya tenang.
Dimas panik.
Ia bukan siswa pintar, bukan ketua OSIS, apalagi juara kelas. Namun ternyata, di sekolah ini setiap siswa memiliki Bakat Pelajaran, kekuatan yang muncul dari mata pelajaran sekolah Indonesia.
Di kelas IPA, ada murid yang bisa mengendalikan petir lewat rumus fisika.
Di kelas Bahasa Indonesia, siswa mampu menghidupkan kata-kata menjadi ilusi nyata.
Bahkan di pelajaran PPKn, murid terkuat bisa memanggil perisai cahaya berbentuk Garuda.
Dimas merasa kecil.
Namun saat pelajaran IPS dimulai, sesuatu terjadi. Ketika ia menjelaskan peta Indonesia, lantai kelas bercahaya dan muncul bayangan pulau-pulau Nusantara di udara. Gurunya terdiam.
“Bakatmu adalah Pemersatu Wilayah,” kata guru itu.
Kekuatan langka yang hanya muncul pada siswa yang memahami kebersamaan, bukan nilai sempurna.
Masalah muncul saat sekolah diserang oleh bayangan hitam bernama Lupa Jati Diri, makhluk yang melemahkan siswa dengan rasa malas dan minder. Banyak murid kehilangan kekuatan mereka.
Dimas maju meski gemetar.
Ia mengingat sekolah lamanya—teman-teman ribut di kelas, tugas menumpuk, guru yang cerewet tapi peduli. Cahaya muncul dari dadanya, dan bayangan hitam perlahan menghilang.
Sekolah Nusantara Arca selamat.
Dimas terbangun di lapangan sekolahnya sendiri, upacara masih berlangsung seolah tak ada yang terjadi.
Namun di sakunya, ada kartu pelajar bertuliskan:
“Siswa Aktif – SMA Nusantara Arca.”
Dimas tersenyum.
Mungkin sekolah bukan sekadar tempat belajar—
tapi tempat seseorang menemukan arti dirinya sendiri.