Di sebuah rumah tua peninggalan kolonial, berdiri bangunan besar dengan jendela tinggi dan pintu kayu yang selalu berderit saat dibuka. Warga sekitar jarang mendekat, terutama menjelang senja. Mereka percaya, rumah itu masih menyimpan cerita lama—tentang seorang nona Belanda dan gaun putihnya.
Konon, pada masa penjajahan, hiduplah seorang gadis Belanda bernama Elisabeth van Meer. Ia sering terlihat berjalan di halaman rumah setiap sore, mengenakan gaun putih panjang yang selalu tampak bersih meski tanah di sekitarnya becek. Rambut pirangnya disanggul rapi, dan wajahnya selalu tenang, seolah menyimpan rahasia yang tak pernah terucap.
Elisabeth jarang berbicara dengan siapa pun. Ia lebih suka duduk di dekat jendela, menatap jauh ke arah kebun, menunggu seseorang yang tak pernah datang. Ketika masa berubah dan rumah itu ditinggalkan, Elisabeth menghilang tanpa kabar. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi—atau apakah ia benar-benar pergi.
Puluhan tahun kemudian, penjaga baru rumah itu mengaku sering melihat bayangan seorang perempuan bergaun putih berdiri di lantai atas. Bukan menakutkan, tapi sunyi. Jika diperhatikan lebih lama, bayangan itu akan perlahan memudar, meninggalkan kesan sedih yang sulit dijelaskan.
Masyarakat percaya, gaun putih nona Belanda itu bukan pertanda buruk, melainkan simbol penantian yang tak pernah usai. Ia tidak mengganggu, tidak menjerit, hanya hadir—seperti kenangan yang enggan pergi dari tempat yang pernah menjadi dunianya.
Dan hingga kini, saat cahaya senja menyentuh jendela rumah tua itu, beberapa orang mengaku masih melihat kilauan putih lembut di balik kaca. Seolah Elisabeth masih di sana, menjaga ceritanya agar tidak dilupakan oleh waktu.