Tema Kesempatan: Mereka tidak lari dari masa lalu, tapi memberi kesempatan pada hubungan mereka untuk "hidup lagi" dengan cara yang baru.
Genre : Sci-fi + Romantis ( Maaf, kalau Genrenya salah )
Jam digital di kokpit Stasiun Transit Omega menunjukkan 23:58. Dua menit lagi, Bumi akan merayakan tahun baru, dan Jeda Komunikasi Antargalaksi akan memutus semua sinyal selama dua jam.
Di hadapan Reva dan Arjuna, dua tombol berkedip: "Reset Koneksi" dan "Memori Murni".
Reva menatap tombol-tombol itu dengan napas tertahan.
Sepuluh tahun di Andromeda, sebagai pilot inti, membuat mereka lebih dari sekadar rekan kerja. Mereka adalah bayangan satu sama lain, berbagi tawa, ketakutan, dan bahkan selimut saat badai meteor menghantam.
Hubungan mereka, seperti oksigen yang mereka hirup, terasa esensial. Namun, pertanyaan yang menghantui adalah: apakah hubungan ini masih relevan di Bumi yang telah berubah?
"Dua menit, Jun," suara Reva bergetar. "Pilihannya cuma dua."
Arjuna, yang biasanya penuh canda, kini bungkam. Matanya menatap bayangan refleksi Reva di panel kaca. "Reset Koneksi. Hapus semua log obrolan pribadi kita. Data misi tetap ada, tapi ... kita kembali ke Bumi sebagai dua orang asing yang kebetulan pernah bekerja sama?"
Reva menggigit bibir. "Atau Memori Murni. Pertahankan semua. Tapi bayangkan, Jun. Bumi sudah sepuluh tahun di depan. Kita akan tetap hidup di bayang-bayang Andromeda, di bayang-bayang kita yang dulu. Apa itu adil?"
Suasana di kokpit tiba-tiba terasa begitu berat, seolah gravitasi Bumi menarik mereka dari jarak miliaran tahun cahaya.
Pertanyaan itu menggantung di udara, lebih berat dari bintang neutron mana pun.
Mereka telah kembali dengan selamat, tetapi pertanyaan tentang hati mereka lebih rumit dari rumus fisika kuantum.
"Dulu, saat di Bumi, kita berjanji untuk saling memberi kesempatan, apa pun yang terjadi," kata Arjuna pelan, suaranya nyaris berbisik. "Bahkan jika kesempatan itu adalah... untuk berpisah."
Reva menunduk.
Itulah poinnya.
Kesempatan untuk diri mereka sendiri.
Kesempatan untuk memahami apakah ada yang tersisa dari 'mereka' yang lama.
"Satu menit, Komandan!" suara AI stasiun menginterupsi.
Kembang api virtual mulai bermunculan di layar utama, merayakan tahun baru di Bumi. Indah, sekaligus menyakitkan.
Jantung Reva berpacu. Ia menatap Arjuna. Ia melihat kelelahan di mata itu, tetapi juga cinta yang tak bisa disembunyikan. Cinta yang sepuluh tahun mereka genggam di antara nebula dan planet asing.
"Bagaimana kalau," Reva memulai, tiba-tiba sebuah ide terlintas. Ia tahu ini gila, tetapi ini adalah kesempatan. "Bagaimana kalau kita tidak memilih tombol itu?"
Arjuna mengerutkan kening. "Kita harus memilih, Reva. Kalau tidak, sistem akan otomatis 'Memori Murni'. Kita akan membawa beban ini."
"Bukan. Maksudku..." Reva meraih tangan Arjuna, menggenggamnya erat. "Bagaimana kalau kita memberi kesempatan pada diri kita untuk tidak melupakan? Kita simpan semua ingatan Andromeda itu. Semua."
"Reva—"
"Dengar," potong Reva, menatap langsung ke mata Arjuna. "Kita bisa memilih untuk menghapus semua, atau mempertahankan semua. Tapi ini tahun baru, lembaran baru. Bagaimana kalau kita memilih untuk menulis ulang maknanya?"
Arjuna terdiam, membiarkan Reva melanjutkan.
"Kita simpan semua ingatan Andromeda. Kita bawa pulang. Tapi kali ini, kita akan membuka lembaran baru di Bumi sebagai dua orang yang baru. Dua orang yang sudah melihat hal-hal di luar bayangan. Dua orang yang akan saling memberi kesempatan untuk mengenal lagi, bukan sebagai pasangan wajib di misi, tapi sebagai... dua manusia yang mungkin, mungkin saja, ingin kembali bersama."
Kembang api virtual di layar memuncak. Angka 00:00:01 menyala.
Mereka hanya punya beberapa detik.
Arjuna menatap tangan Reva yang menggenggamnya. Dia tahu ini berisiko. Menjaga memori pahit berarti rasa sakit itu mungkin akan kembali. Tapi menjaga memori manis berarti ada harapan.
"Lembaran baru ini," kata Arjuna, senyum tipis akhirnya kembali di bibirnya. "Kita tulis dari awal. Dengan semua kenangan Andromeda kita. Tapi kali ini, aku akan jadi Arjuna yang baru, dan kamu Reva yang baru."
Dia membalas genggaman tangan Reva.
"Deal?" tanya Reva, matanya penuh harap.
"Deal," jawab Arjuna.
Sinyal terakhir dari Andromeda dikirim: bukan log data, bukan laporan misi, tapi sebuah foto selfie yang mereka ambil saat jam menunjukkan 00:00:01.
Di dalamnya, Reva tersenyum tulus, dan Arjuna tertawa lepas.
Mereka tidak menghapus apa pun.
Mereka hanya memilih untuk menulis cerita baru di Bumi, dengan semua tinta lama sebagai pondasinya.
Di tengah kesunyian karena jeda komunikasi, mereka tahu bahwa perjalanan pulang ini bukan hanya tentang kembali ke Bumi, tapi juga perjalanan kembali kepada satu sama lain, dengan kesempatan kedua yang telah mereka ciptakan sendiri.
Cerpen ini ku persembahkan untuk ;
- Event Cerpen GC Ruang Menulis. Tema : Kesempatan
- Terima Kasih, mengizinkanku ikut Event ini
GC Ruang Menulis