Jam dinding di ruang tunggu rumah sakit menunjukkan pukul 23.47, aku duduk sendirian di kursi plastik yang dingin, menunggu hasil tes terakhir Ibu. Kanker stadium empat, dokter bilang waktunya tinggal hitungan hari, mungkin hitungan jam.
"Mas Raditya?"
Seorang perawat tua yang tak pernah kulihat sebelumnya berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat, matanya cekung, namanya tidak tercantum di papan nama seragamnya, bahkan seragamnya terlihat usang, model lama yang sudah tidak dipakai lagi.
"Ikut saya, ada yang ingin bicara soal ibu Anda."
Aku mengikutinya melalui koridor yang gelap, lampu-lampu neon berkedip tidak karuan. Kami melewati ruang demi ruang kosong, meninggalkan area ramai rumah sakit, langkah kaki perawat itu tidak bersuara. Kami berhenti di ruangan paling ujung—ruang yang pintunya selalu terkunci, yang selalu membuatku penasaran sejak Ibu dirawat tiga bulan lalu.
Di dalam, seorang pria berjas hitam duduk di balik meja kayu tua, ruangan itu berbau formalin dan sesuatu yang membusuk, pria itu tersenyum, giginya terlalu putih, terlalu rapi.
"Saya Dr. Wirawan Harsa, saya bisa memberikan kesempatan baru untuk ibu Anda, kesempatan untuk hidup lagi."
"Apa maksud Anda? Dokter Hamdan tidak pernah menyebutkan soal Anda."
"Karena ini... layanan khusus transplantasi jiwa, ibu Anda bisa hidup dalam tubuh baru. Sehat, muda, bebas dari kanker yang merongrong tubuhnya."
Aku terdiam. Ini gila, tapi ketika melihat foto yang ia tunjukkan—seorang wanita muda terbaring koma dengan wajah damai—aku mulai tergoda. Sudah tiga bulan aku melihat Ibu kesakitan, tiga bulan mendengar erangannya setiap malam, tiga bulan menyaksikan tubuhnya menyusut hingga tinggal tulang berbalut kulit.
"Dia sudah tidak punya keluaga, kecelakaan tunggal, otak mati tapi tubuhnya sempurna, ibu Anda bisa dapat kesempatan kedua. Tahun baru, kehidupan baru."
"Apa... resikonya?"
Dr. Harsa tersenyum lebih lebar, terlalu lebar. "Tidak ada, prosedurnya sederhana, cukup tanda tangan di sini."
Tanganku gemetar saat menandatangani kontrak itu. Kertas itu terasa kasar, seperti kulit kering, tintanya merah gelap, bukan hitam, tapi aku terlalu putus asa untuk peduli.
Tiga hari kemudian, operasi dilakukan di ruangan yang sama. Aku tidak boleh masuk, hanya menunggu selama dua belas jam di luar, mendengar suara mesin dan sesekali teriakan yang diredam. Ketika pintu terbuka, perawat tua itu tersenyum.
"Berhasil, ibu Anda sudah terbangun."
Dan Ibu memang terbangun—dalam tubuh wanita berusia 25 tahun bernama Kinanti Larasati, seperti yang tertulis di kartu identitas yang diberikan Dr. Harsa.
Minggu pertama terasa seperti mukjizat. Ibu bisa berjalan tanpa tongkat, tertawa tanpa batuk darah, memasak rendang kesukaanku seperti dulu. Wajahnya mungkin berbeda, tapi caranya memegang pisau, cara dia mengaduk bumbu, itu semua Ibu.
Tapi kemudian, hal aneh mulai terjadi.
Minggu kedua, Ibu mulai melupakan namaku. Dia memanggilku dengan nama "Bagas". Ketika kutunjukkan foto-foto keluarga, dia menatapnya kosong. "Siapa mereka?"
"Itu kita, Bu. Waktu di Bali tahun lalu."
"Aku... tidak ingat pernah ke Bali."
Setiap malam, dia menangis sambil berteriak dalam tidurnya. "Kembalikan! Kembalikan tubuhku! Aku ingin pulang!"
Minggu ketiga, aku menemukan dia berdiri di depan cermin kamar mandi jam 3 pagi mencakar wajahnya sendiri hingga berdarah.
"Kamu... kamu bukan anakku," bisiknya dengan suara yang bukan suara Ibu, suara yang lebih muda, lebih tinggi, penuh teror. "Dimana ibuku? Mengapa aku ada di sini?! Apa yang kalian lakukan padaku?!"
"Ibu, ini aku, Raditya, anakmu."
Tapi mata yang menatapku bukan mata Ibu, itu mata orang lain, mata yang penuh kebingungan dan ketakutan.
Pagi harinya, aku berlari ke rumah sakit itu, tapi ketika sampai di lokasi, aku membeku. Bangunan itu sudah kosong terbengkalai, jendelanya pecah, pintunya berkarat, rumput liar tumbuh di halaman seperti sudah puluhan tahun tidak ada yang menempati.
Aku menghentikan seorang security komplek. "Pak, rumah sakit ini... kapan tutupnya?"
"Rumah sakit itu tutup sejak 1997, Mas. Ada skandal transplantasi ilegal, katanya dokternya main ilmu hitam, transplantasi jiwa atau semacamnya, anyak pasien yang hilang, keluarganya melapor tapi mayat tidak pernah ditemukan, pemerintah langsung tutup dan dokternya kabur, sampai sekarang masih jadi buronan."
Kakiku lemas.
Kini, setiap malam, dua jiwa berperang dalam satu tubuh di rumahku. Ibu yang kucintai menghilang perlahan, ditelan oleh jiwa Kinanti yang ingin tubuhnya kembali. Kadang yang muncul adalah Ibu—lemah lembut, hangat. Kadang yang muncul adalah Kinanti—menjerit, mencakar, memohon dibebaskan.
Kesempatan baru yang kubayar dengan kehilangan Ibu selamanya, dan jiwa Kinanti yang terjebak dalam kesepakatan yang tidak pernah dia setujui.
Semalam, aku menemukan kontrak itu lagi di laci meja. Membacanya dengan lebih teliti, dan aku baru menyadari—yang tertulis di bagian "Pihak Kedua yang Menyerahkan" bukan nama Dr. Wirawan Harsa.
Itu namaku sendiri.
Raditya Mahendra.
Aku yang menyerahkan, tapi menyerahkan apa?
Di cermin, pantulanku mulai terlihat asing.
BERSAMBUNG.
[GC Rumah Menulis]