Langit berwarna kelabu gelap ketika Kael Ravenholm membuka mata.
Bukan kelabu yang tenang seperti awan hujan, melainkan kelabu yang terasa berat, menekan dada, seolah langit ikut berkabung atas sesuatu yang tak pernah diberi nama. Udara berbau besi tua dan tanah basah. Darah. Terlalu banyak darah.
Kael tidak langsung bergerak. Ia hanya menatap kosong ke atas, mendengarkan detak jantung yang terasa asing di telinganya sendiri. Setiap detakan membawa rasa nyeri, seperti palu kecil yang memukul dari dalam.
“Aneh,” gumamnya pelan. “Aku… masih hidup?”
Ia tahu seharusnya tidak.
Ingatan terakhir dari hidup lamanya hanyalah kelelahan, malam yang terlalu sunyi, dan rasa ingin tidur tanpa bangun lagi. Tidak ada cahaya, tidak ada teriakan, hanya gelap yang perlahan menelan kesadaran.
Namun kini ia terbangun di sini. Di tubuh yang bukan miliknya. Di dunia yang jelas bukan tempat asalnya.
Saat Kael mencoba bangkit, rasa sakit menyambar begitu hebat hingga pandangannya menghitam sesaat. Ia terjatuh kembali ke tanah berlumpur, napasnya tersengal. Tubuh ini penuh luka. Ada bekas tebasan di perut, memar di rusuk, dan sesuatu yang terasa seperti luka bakar besar di punggungnya, tepat di antara tulang belikat.
Tangannya gemetar saat menyentuh dada sendiri.
“Apa yang terjadi padaku…”
Jawaban itu datang tanpa ia minta.
Ingatan asing mengalir deras, menghantam pikirannya seperti banjir yang merobohkan bendungan. Nama, wajah, suara, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu.
Nama tubuh ini adalah Kael Ravenholm.
Anak kedua dari keluarga Ravenholm.
Sebuah keluarga alkemis penjaga perbatasan yang telah hancur oleh perang.
Kael memejamkan mata, menahan sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya. Bukan hanya rasa sakit fisik, tapi kesedihan mentah yang terasa terlalu nyata untuk disebut sekadar ingatan.
Ia melihat wajah ayahnya, Alaric Ravenholm, dengan tangan kasar dan senyum tipis yang jarang muncul. Seorang pria yang lebih pandai melindungi daripada berbicara. Ia melihat ibunya, Seraphina Ravenholm, dengan mata hangat dan suara lembut, selalu mencium kening anak-anaknya sebelum tidur, seolah tahu suatu hari ia tak akan sempat mengucapkan selamat tinggal.
Keduanya mati dalam perang.
Bukan mati dengan tenang, bukan pula mati dengan kehormatan besar. Mereka mati karena dunia ini haus akan darah dan menyebutnya pengorbanan.
Kael menelan ludah.
Ia melihat kakaknya, Eldric Ravenholm. Sosok tinggi dengan bahu lebar dan mata tajam. Kakak yang selalu berjalan satu langkah di depan, seolah menahan dunia agar tidak menimpa adik-adiknya. Eldric menghilang saat melawan Ordo Penyucian. Tidak ada jasad. Tidak ada kabar.
Lalu dua adik perempuannya.
Lyra Ravenholm, gadis pendiam dengan mata penuh empati, yang bisa merasakan getaran jiwa orang lain hanya dengan berdiri di dekat mereka.
Mirelle Ravenholm, si bungsu, ceroboh dan ceria, selalu tertawa bahkan di tengah latihan alkemi yang gagal.
Keduanya diculik.
Dan Kael… Kael dikhianati.
Napasnya tercekat saat ingatan itu muncul. Wajah seorang pria dengan jubah putih dan lambang alkemi emas di dadanya. Senyum tenang, suara berwibawa, tangan yang pernah membimbing Kael menggambar lingkaran alkemi pertamanya
Archibald Virex.
Alkemis Agung Ordo Penyucian.
Pria itu mengkhianati mereka semua.
Kael menggertakkan gigi. Tangannya mengepal di tanah berlumpur, kukunya menekan keras hingga berdarah. Luka di punggungnya kembali berdenyut, seolah merespons emosi itu.
Ia tahu tempat ini dari ingatan tubuh ini.
Ladang Penyesalan.
Medan perang terkutuk tempat prajurit dan alkemis yang dianggap gagal dibuang untuk mati. Tempat di mana kematian tidak pernah benar-benar selesai.
“Jadi begini caramu membuang sampah, Archibald,” bisik Kael dengan suara serak. “Kau pikir aku akan hilang begitu saja.”
Tanah di sekelilingnya bergetar pelan.
Awalnya Kael mengira itu hanya imajinasinya. Namun suara gesekan tulang dan logam terdengar semakin jelas. Kabut hitam merayap di antara bangkai prajurit, bergerak seperti makhluk hidup yang lapar.
Kael memaksakan dirinya berdiri, bertumpu pada pedang patah yang tertancap di tanah. Kakinya gemetar, hampir tak mampu menahan berat tubuhnya sendiri.
Dari dalam kabut, sosok-sosok bangkit.
Mereka bukan manusia, tapi juga bukan monster sepenuhnya. Tubuh mereka tersusun dari potongan tulang, zirah berkarat, dan sisa daging yang membusuk. Di tempat wajah seharusnya berada, hanya ada kehampaan yang berdenyut dengan cahaya pucat.
Jeritan rendah keluar dari tubuh mereka, seperti ratapan orang yang tidak pernah mendapat pemakaman.
Kael mundur satu langkah. Dadanya naik turun cepat.
“Tenang,” katanya pada diri sendiri. “Panik tidak akan menyelamatkanmu.”
Ia tahu bertarung dengan pedang mustahil. Tubuh ini nyaris hancur. Namun ingatan alkemi masih ada. Lebih dari itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak berasal dari Kael Ravenholm, melainkan dari jiwa yang baru saja menempati tubuh ini.
Matanya terasa panas.
Simbol-simbol aneh muncul di penglihatannya, bukan digambar di udara, melainkan seolah terukir langsung di dalam pikirannya. Lingkaran alkemi yang tidak ia kenal, dengan pola yang terasa menyakitkan hanya dengan dipahami.
Alkemi Luka.
Nama itu muncul begitu saja.
Alkemi yang menggunakan rasa sakit, kehilangan, dan trauma sebagai sumber daya.
Kael tertawa kecil, pahit dan hampir gila.
“Dunia ini benar-benar kejam,” gumamnya. “Bahkan kekuatan pun menuntut luka.”
Makhluk terdekat melangkah maju, mengangkat lengan yang tersusun dari tulang rusuk dan bilah pedang patah.
Kael berlutut dan menekan telapak tangannya ke tanah.
Darah menetes dari lukanya, meresap ke tanah gelap.
Lingkaran alkemi terbentuk.
Rasa sakit meledak dari dalam tubuhnya, seperti seluruh luka lama dibuka sekaligus. Kael menjerit, suaranya pecah, tenggorokannya terasa robek. Namun ia tidak menghentikan prosesnya.
Tulang-tulang di sekitar bergetar, terangkat, dan menyatu membentuk lapisan kasar di lengan dan dadanya. Bukan pelindung yang indah, melainkan sesuatu yang tampak salah, seperti tubuh yang dipaksa berevolusi secara paksa.
Makhluk itu menyerang.
Benturannya membuat Kael terhempas, namun pelindung tulang menahan sebagian dampaknya. Ia terguling, batuk darah, lalu memaksa dirinya bangkit lagi.
Ia tidak kuat.
Ia tidak cepat.
Namun ia bertahan.
Sebagai anak kedua, Kael selalu seperti itu.
Tidak secerah kakaknya. Tidak selembut adik-adiknya. Ia berada di tengah, menahan beban tanpa banyak suara, memastikan yang lain tidak runtuh.
Satu per satu, makhluk itu tumbang. Setiap kemenangan dibayar mahal. Setiap transmutasi membuat pikirannya semakin kabur, seolah sebagian jiwanya terkikis.
Saat kabut akhirnya menipis, Kael jatuh berlutut. Tubuhnya gemetar hebat, pelindung tulang retak dan runtuh menjadi debu.
Di antara mayat, ia melihat seorang pria tua tergeletak lemah.
Pria itu bernama Bram Hollowfen, seorang alkemis lapangan yang terjebak di Ladang Penyesalan terlalu lama. Matanya menatap Kael dengan campuran takut dan kagum.
“Apa kau manusia… atau kutukan?” tanya Bram lirih.
Kael tersenyum lelah.
“Aku juga belum tahu,” jawabnya jujur.
Saat Kael hendak pergi, sesuatu berkilau di tanah menarik perhatiannya. Sebuah jimat kecil dengan ukiran bunga sederhana.
Mirelle.
Tenggorokannya tercekat. Tangannya gemetar saat menggenggam jimat itu.
“Mereka hidup,” bisiknya. “Aku tahu itu.”
Kael berdiri, meski tubuhnya berteriak minta roboh. Ia menatap cakrawala kelabu dengan mata kosong yang perlahan mengeras.
“Eldric. Lyra. Mirelle,” ucapnya pelan. “Tunggu aku.”
Jauh di menara Ordo Penyucian, Archibald Virex tersenyum saat merasakan getaran aneh di segelnya.
“Menarik,” gumamnya. “Bahan buanganku ternyata belum hancur.”
Dan di dunia yang dipenuhi darah dan kebohongan ini, langkah seorang alkemis penuh luka mulai mengubah arah takdir.
Bukan sebagai pahlawan.
Melainkan sebagai seseorang yang terlalu keras kepala untuk mati.