Reon, pemuda tanggung pengangguran beban keluarga masa kini. Sedang ongkang-ongkang kaki di sebuah warung. Sambil menscroll layar ponsel pintar di tangan.
Seorang wanita berumur, berkebaya merah yang kancingnya terbuka di bagian bawah, dengan bawahan kain jarik yang press body. Menanyakan apa yang ingin dipesan dari menu yang tersedia di warungnya. Sebuah warung remang-remang.
"Cah Bagus, mau minum apa makan?" tanya wanita pemilik warung.
"Saya mau ngopi saja," jawab Reon.
"Nggak makan, Cah Bagus?" tanya wanita pemilik warung lagi.
"Nggak dulu, saya masih belum lapar." Reon tersenyum yang dibalas senyuman ramah pula oleh pemilik warung.
Suasana warung memang sedikit temaram. Karena hanya ada satu lampu pijar 10 watt di tengah-tengah ruangan. Mungkin supaya terlihat remang-remang.
"Kenapa warung remang-remang ini sepi, ya?" batin Reon.
___
Wanita pemilik warung datang mengantarkan kopi pesanan Reon. "Ini kopinya, Cah Bagus. Silakan dinikmati."
"Terima kasih, ..." Reon menyeruput kopi panasnya. Pemilik warung meninggalkan Reon ke belakang meja tempat kompor dan panci beradu nasib.
"Kenapa warung ini gelap remang-remang, ya?" tanya Reon pada pemilik warung.
"Supaya ramai, Le," jawab pemilik warung.
"Supaya ramai? Ini malah sepi, kok," sahut Reon.
"Saya dengar dari warga-warga yang belanja di pasar, anak-anak muda jaman sekarang suka begadang di warung remang-remang. Jadi saya buka warung remang-remang juga. Tapi nggak tahu kenapa kok sepi. Padahal kata orang-orang, warung remang-remang yang di ujung desa itu ramai," lanjut pemilik warung.
'Bukan warung remang-remang yang begini kali,' batin Reon menahan tawa.
"Yakin nggak mau ganti lampunya sama yang lebih terang, Mbah?" tawar Reon.
"Nggak usah, Le. Nanti jadi nggak remang-remang lagi. Mungkin mereka belum tahu ada warung remang-remang juga di sini."
"Ya sudah kalau begitu, Mbah." Reon kembali menyeruput kopinya yang mulai hangat.
___*___