Bagas Pratama mati dengan cara yang tidak heroik.
Bukan karena perang.
Bukan karena menyelamatkan siapa pun.
Ia mati karena menghindari motor yang melaju kencang, tersandung, lalu kepalanya membentur trotoar.
Hal terakhir yang ia dengar hanyalah seseorang berteriak panik dan suara hujan yang turun terlalu cepat.
Lalu gelap.
“Bangun.”
Suara itu datar, seperti pegawai loket yang bosan melayani orang.
Bagas membuka mata dan mendapati dirinya berdiri di sebuah ruangan putih tanpa ujung. Tidak ada pintu. Tidak ada langit. Hanya meja kayu dan seorang pria berkacamata yang sedang mencoret-coret kertas.
“Selamat,” kata pria itu. “Kamu meninggal.”
Bagas terdiam.
“Oh.”
Ia menunggu perasaan dramatis. Tangis. Kepanikan. Kilas balik hidup. Tapi yang muncul justru satu pertanyaan bodoh.
“Berarti cicilan motor saya lunas?”
Pria itu menghela napas. “Kamu tipe yang sulit diajak serius, ya?”
Bagas diberi pilihan yang sebenarnya bukan pilihan.
Ia akan bereinkarnasi ke dunia lain—dunia yang sedang kacau karena konflik senjata dan perebutan kekuasaan. Sebagai kompensasi, ia diberi “bakat khusus”.
“Apa? Kekuatan super?” tanya Bagas penuh harap.
“Refleks cepat dan daya tahan tubuh di atas rata-rata.”
“Cuma itu?”
“Kamu mau tukar dengan kemampuan berbicara dengan kambing?”
Bagas diam.
“Yaudah. Kirim aja.”
Ia terbangun di tubuh baru—seorang pemuda bernama Raka, tentara bayaran kelas rendah di sebuah kota perbatasan.
Hari pertamanya di dunia baru diisi dengan suara tembakan, ledakan, dan teriakan komandan yang menyuruhnya jongkok di tempat yang salah.
“KENAPA KAMU LARI KE ARAH MUSUH?!”
“REFLEKS, PAK!” teriak Bagas refleks.
Ternyata refleks cepat tidak menjamin otak ikut cepat.
Namun perlahan, ia belajar.
Bagaimana menghindar.
Bagaimana menembak tanpa gemetar.
Bagaimana bercanda di tengah maut.
“Aneh,” kata seorang rekan. “Kamu ketawa padahal peluru lewat di atas kepala.”
Bagas tersenyum. “Karena mati sekali ternyata cukup.”
Humor Bagas membuatnya disukai.
Ia bukan yang terkuat.
Bukan yang terpintar.
Tapi ia selalu berhasil membuat suasana bertahan—bahkan saat malam terasa terlalu sunyi dan kematian terasa terlalu dekat.
Namun dunia itu tidak memberi waktu lama untuk bercanda.
Sebuah operasi besar digelar.
Mereka ditugaskan menembus pusat konflik—tempat pasukan elit musuh berkumpul.
Malam sebelum misi, tidak ada yang tertawa.
Bagas duduk sendiri, membersihkan senjatanya.
“Aneh,” gumamnya. “Di hidup pertama, aku takut mati. Di hidup kedua, aku takut hidup tanpa arti.”
Misi berubah kacau.
Pengkhianatan dari dalam.
Koordinat bocor.
Pasukan mereka terjebak.
Ledakan memisahkan Bagas dari timnya. Asap tebal menutup pandangan. Di tengah kekacauan itu, ia melihat seorang anak kecil—terjebak di reruntuhan.
“Jangan,” bisik nalarnya. “Ini bukan urusanmu.”
Namun kakinya bergerak lebih dulu.
Ia menggendong anak itu, berlari di tengah tembakan. Setiap langkah terasa berat. Setiap napas terasa seperti hutang.
Sebuah peluru menembus bahunya.
Lalu satu lagi mengenai dadanya.
Bagas terjatuh.
Di tanah yang basah darah, ia tertawa kecil.
“Serius? Dua kali mati?”
Putih kembali menyambutnya.
Pria berkacamata itu berdiri di depan meja yang sama.
“Kamu gagal bertahan hidup kedua kalinya,” katanya.
Bagas tersenyum lemah. “Tapi anaknya selamat, kan?”
Pria itu terdiam.
“Kamu tahu,” katanya pelan, “di hidup pertamamu, kamu mati tanpa meninggalkan apa pun. Di hidup kedua… kamu memilih.”
Bagas mengangkat bahu. “Setidaknya kali ini masuk akal.”
“Kamu tidak bereinkarnasi karena kebetulan,” kata pria itu.
“Kamu dipilih karena di hidup pertamamu, kamu selalu ingin jadi orang berguna… tapi tak pernah berani.”
Bagas terdiam.
“Kami hanya memberimu kesempatan kedua. Keputusan tetap milikmu.”
Ruangan putih mulai memudar.
“Kalau begitu,” kata Bagas sambil tersenyum, “terima kasih sudah membiarkan saya jadi serius… walau cuma sebentar.”
Ia membuka mata.
Suara mesin rumah sakit.
Cahaya lampu.
Seorang dokter berseru, “Detaknya kembali!”
Bagas terbatuk pelan.
Ia tidak tahu apakah dunia kedua itu nyata atau hanya mimpi saat koma.
Namun satu hal ia yakini:
Sejak hari itu,
ia hidup seolah setiap kesempatan adalah hidup kedua.
Dan sesekali, saat bahaya datang,
ia tersenyum kecil dan bergumam,
“Tenang. Aku sudah pernah mati.”