Malam itu, hujan jatuh seperti rahasia yang tak sempat diucapkan.
Arga berdiri di bawah cahaya lampu kantor polisi, memandangi sebuah nama di map cokelat yang telah berkali-kali ia baca, namun tak pernah benar-benar ia pahami.
Nayla Aurelia.
Perempuan yang namanya ditakuti dunia gelap,
dan ditugaskan kepadanya untuk dijatuhkan.
“Dapatkan hatinya,” kata perintah itu dingin.
“Dari sanalah ia akan jatuh.”
Arga mengangguk, karena begitulah caranya menjadi polisi
mengorbankan perasaan demi kebenaran.
Ia tak tahu bahwa malam itu,
ia baru saja melangkah ke dalam kesalahan terindah dalam hidupnya.
Arga hadir dalam hidup Nayla sebagai kebetulan yang terlalu rapi.
Di kedai kopi beraroma pahit,
di bangku taman yang basah oleh hujan,
di senyuman yang sengaja ia latih agar terlihat tulus.
Nayla tidak curiga.
Baginya, Arga hanyalah lelaki sederhana
yang duduk di hadapannya dan mendengarkan
tanpa ingin menguasai apa pun.
“Kenapa kamu selalu ada?” tanya Nayla suatu senja.
“Karena aku ingin,” jawab Arga.
Dan untuk pertama kalinya,
ia lupa bahwa keinginannya adalah bagian dari sandiwara.
Arga mencatat Nayla seperti puisi yang dilarang terbit.
Cara ia memejamkan mata saat menghela napas.
Cara tawanya lahir dari luka lama.
Cara ia terlihat kuat, padahal rapuh.
Di setiap laporan yang ia tulis,
nama Nayla menjadi angka dan bukti.
Namun di hatinya,
nama itu berubah menjadi doa.
“Apakah cinta bisa menebus dosa?”
tanya Nayla di bawah langit malam.
Arga terdiam lama
.
Ia tahu, pertanyaan itu ditujukan pada dirinya.
“Aku tak tahu,” katanya akhirnya.
“Tapi cinta selalu memberi alasan untuk berubah.”
Nayla tersenyum.
Dan senyum itu menghancurkan pertahanan terakhir Arga.
Sejak saat itu,
ia tak lagi tahu mana tugas,
dan mana detak jantungnya sendiri.
Ketika kebenaran tak lagi bisa disembunyikan,
malam menjadi terlalu sunyi.
“Aku mendekatimu karena perintah,”
kata Arga lirih.
“Tapi mencintaimu adalah pilihanku.”
Air mata Nayla jatuh,
membasahi jarak di antara mereka.
“Kamu datang untuk menjatuhkanku,”
katanya.
“Namun justru kamu yang runtuh.”
Arga tersenyum pahit.
“Aku rela.”
Peluru melesat seperti takdir yang tak bisa ditawar.
Di tengah cahaya merah-biru,
Arga berdiri di depan Nayla,
menjadi dinding terakhir antara cinta dan kematian.
“Berhenti!” teriak dunia.
Namun Arga memilih diam.
Ia hanya menoleh pada Nayla,
meninggalkan senyum yang tak sempat menua.
“Pergilah,” bisiknya.
“Jadilah hidup yang tak sempat aku miliki.”
Peluru itu menemukan Arga.
Dan cinta menemukan bentuk paling sunyinya.
Bertahun-tahun kemudian,
dunia lupa pada seorang polisi yang gugur,
dan pada seorang mafia yang menghilang.
Namun di sebuah kota yang jauh,
seorang perempuan menyalakan lilin
dan tersenyum sambil menangis.
Karena ia tahu,
di balik senjata dan darah,
ada cinta yang memilih mati
agar cinta lainnya bisa hidup.