Hujan turun lagi malam ini—tidak deras, tapi cukup untuk menutup suara-suara yang tak ingin Raina dengar. Gadis itu duduk di pojok kamarnya, memeluk lutut, membiarkan bunyi rintik hujan menelan segalanya. Kamar itu kecil, temaram, dan jauh dari kata nyaman, tapi bagi Raina, ruangan itu adalah benteng. Satu-satunya tempat di mana dunia tidak perlu melihat betapa retaknya jiwanya.
Di luar pintu, suara piring pecah terdengar samar. Suara tangisan sang ibu menyusul, disusul makian ayahnya yang pulang mabuk. Ini sudah seperti rutinitas harian. Tidak mengejutkan, tidak menyakitkan—atau mungkin, sudah terlalu sering hingga rasa sakitnya mati sendiri.
“Hujan… terima kasih,” gumamnya pelan.
Ia menatap langit malam melalui jendela kecil di dinding. Butiran air berlari-lari di kaca, seperti berlomba waktu. Hujan selalu menutup kebisingan. Menutup kebenaran. Menutup luka.
Tapi juga mengingatkan.
Karena setiap kali hujan jatuh, kenangan yang sama ikut jatuh bersamanya. Kenangan ketika ia berlari pulang dari sekolah, ditertawakan teman-teman karena baju basahnya sobek. Kenangan ketika seseorang mendorongnya ke genangan dan semua orang tertawa. Kenangan ketika ia berdiri sendirian di kelas sementara teman-teman lain berkumpul dalam grup-grup kecil. Kenangan ketika ia mendengar bisikan:
“Dia aneh.” “Dia pendiam banget.” “Dia kayak... orang depresi.”
Ya, mereka benar. Tapi mereka tidak tahu mengapa.
Raina menghela napas, lalu bangkit. Waktu terus bergerak, dan ia tidak bisa diam selamanya. Ia mengambil buku pelajaran yang masih basah oleh rintik hujan siang tadi—ketika seseorang iseng membuka payung tepat di depan wajahnya, membuat air tumpah mengenai bukunya.
Ia tidak marah. Ia tersenyum. Kecil, palsu, dan memaksakan diri.
Keesokan paginya, Raina melangkah masuk ke gerbang sekolah. Rambutnya dikuncir rapi. Seragamnya bersih. Senyumnya terpasang seperti masker yang semakin lama semakin berat.
Begitulah hidupnya di sekolah: Tersenyum ketika disindir. Tertawa ketika diejek. Mengangguk ketika dimanfaatkan. Mengiyakan ketika disuruh.
Topeng itu terbentuk dari kebohongan-kebohongan kecil yang ia buat agar terlihat baik-baik saja.
“Rainaaa! Bawain ini dong ke ruang seni!” teriak salah satu teman kelas, menumpuk kardus berat di pelukannya tanpa menunggu jawaban.
Raina tersenyum. “Iya, boleh.”
Padahal tangannya bergetar.
“Raina, kamu bisa pinjemin aku cat air? Yang kemarin kamu beli itu loh.”
Raina tersenyum lagi. “Boleh.”
Padahal cat itu adalah barang yang ia tabung berhari-hari untuk membelinya.
“Rainaaa, kamu kelihatan capek. Kurang tidur ya? Hehe, biasa lah, orang introvert.”
Raina tersenyum. “Iya mungkin.”
Padahal ia tidak tidur sama sekali semalam karena ayahnya mengamuk dan ibunya terus menangis.
Ia terus tersenyum. Dan tersenyum. Dan tersenyum.
Hingga rasanya wajahnya mati rasa.
Di kantin, saat teman-teman mengobrol, ia duduk bersama mereka hanya karena tidak ingin terlihat sendiri lagi. Ia mengangguk pada lelucon yang tidak lucu. Ia tertawa pada cerita yang ia tidak pedulikan. Ia mengatakan “aku oke kok” setiap kali seseorang bertanya, meskipun sebenarnya itu tidak pernah benar.
Lambat laun, tidak ada yang menyadari betapa hampa matanya setiap kali ia menunduk. Tidak ada yang memperhatikan bagaimana tangannya gemetar saat ia meneguk air minum. Tidak ada yang melihat bagaimana tubuhnya selalu menegang ketika ada suara keras mendadak.
Mereka hanya melihat topengnya. Topeng yang sangat berhasil ia buat.
Hujan kembali turun saat pulang sekolah. Raina berjalan sendirian melewati trotoar basah. Payungnya bocor. Sepatunya sudah lembap. Tapi ia tetap berjalan, menunduk, membiarkan hujan menampar wajahnya.
“Hujan…,” bisiknya. “Tolong lindungi aku lagi.”
Namun kali ini, suara hujan tidak menenangkan. Ia merasa seolah hujan menertawakannya.
Hujan turun, tapi suara teriakan ayah dan ibunya tidak hilang malam ini. Hujan turun, tapi hatinya tetap terasa sesak. Hujan turun, tapi kepalanya terasa penuh dengan suara-suara dari sekolah.
“Lo lemah banget sih.” “Kok lo diem aja?” “Ya ampun, baperan banget.” “Orang kayak dia sih emang gitu…”
Topeng itu tidak pernah pecah. Justru semakin tebal. Semakin kuat. Semakin menelan dirinya dari dalam.
Malam itu, ia meringkuk di tempat tidur. Tidak menangis. Tidak marah. Tidak apa-apa.
Karena sakit yang terus dipendam lama-kelamaan mati rasa.
Dan dia pun ikut mati dalam diam—di balik tumpukan kebohongan yang ia sebut sebagai perlindungan.
Esok hari, Raina tetap datang ke sekolah dengan senyum yang sama.
Senyum yang membuat semua orang berkata, “Lihat? Raina selalu baik-baik aja.”
Tidak ada yang tahu bahwa yang mereka lihat hanyalah topeng.
Dan tidak ada yang tahu bahwa semakin ia tersenyum… semakin jauh ia tersesat dari dirinya sendiri.
Hujan turun lagi malam itu.
Menyembunyikan semuanya.
Termasuk kenyataan bahwa Raina tidak pernah benar-benar hidup.
Catatan penulis: Ini hanya bagian kecil dari cerita, kapan-kapan aku akan buat versi novelnya.