Hujan sore itu jatuh begitu deras, membasahi kaca jendela kecil di sebuah kamar yang sunyi. Di sana, seorang remaja berusia tujuh belas tahun duduk memeluk lutut, menatap bayangan dirinya di kaca. Wajahnya tampak tenang, bahkan sesekali tersenyum. Senyum itu indah bagi orang lain, tapi baginya… ia tahu, senyum itu palsu.
“Sudah tujuh belas tahun… tapi kenapa aku masih merasa sendirian?” bisiknya lirih. Matanya memejam, dan seakan-akan layar kenangan terbuka lebar di depan pandangannya.
Ada seorang anak kecil, yang berusia 2 tahun. Tubuhnya mungil, matanya besar dan polos. Ia duduk di sudut ruangan, memeluk boneka yang sudah lusuh. Dari kejauhan, suara teriakan orangtua bergema.
Tangisnya pecah, tapi tak ada yang datang. Tidak ada tangan yang mengusap kepalanya, tidak ada pelukan yang menenangkan. Hanya dinding-dinding dingin yang menjadi saksi.
“Kenapa… kenapa mereka harus berteriak?” gumamnya dengan suara yang bahkan dirinya sendiri tak mengerti.
Usia 7 tahun. Anak itu tumbuh. Rambutnya kini lebih panjang, tubuhnya sedikit lebih tinggi. Tapi luka di hatinya ikut tumbuh bersama usianya.
Ia mulai paham. Pertengkaran itu bukan salahnya, bukan pula permainan. Itu kenyataan.
Terkadang ia tertawa di sekolah, menertawakan hal-hal sepele bersama teman-temannya. Tapi ketika pulang, wajah itu kembali kosong.
Ia mendengar bisikan orang-orang.
“Anak itu aneh.”
“Dia selalu sendiri.”
Bahkan keluarganya sendiri pun pernah melontarkan kalimat yang menusuk, “Kamu itu bikin repot saja.”
Malam itu, ia duduk di ranjang, menatap langit-langit gelap. Air mata mengalir, tapi ia cepat-cepat mengusapnya.
“Kalau aku menangis, siapa yang peduli?” tanyanya dalam hati.
Usia 12 tahun. Kini ia duduk di bangku sekolah menengah. Suaranya tak lagi banyak. Kata-katanya hanya seperlunya.
Di dalam dirinya, ada lautan kata yang tak pernah terucap. Ada jeritan yang ia kunci rapat. Setiap kali ingin bicara, bibirnya terkunci.
Ia merasa terasing, di rumah maupun di sekolah. Tak ada pelukan, tak ada “semangat” dari siapa pun.
Saat bercermin, ia menatap dirinya sendiri.
“Kenapa aku ada di sini? Apa gunanya aku ada?”
Namun tubuh kecil itu masih berjalan, masih bertahan.
Usia 15 tahun. Hari-hari terasa membosankan. Ia bangun, pergi, kembali, tertawa… atau pura-pura tertawa.
Senyuman yang ia tunjukkan bukanlah cerminan hatinya. Itu topeng. Topeng agar dunia tidak tahu betapa hampa dirinya.
“Ah, senyummu itu menakutkan. Terlihat palsu,” seseorang pernah berkata padanya sambil tertawa. Dia hanya ikut tertawa. Tapi di dalam dadanya, kata-kata itu menancap seperti pisau.
Ia menahan tangis dengan tembok yang kokoh. Menahan marah dengan rantai kedamaian. Menjebak rasa bahagia di lautan kehampaan.
Kadang ia berpikir, bagaimana jika dirinya jadi seperti penjahat dalam cerita yang ia baca? Penjahat yang juga pernah disakiti, lalu membalas dunia dengan kejam. Kedengarannya… menyenangkan. Tapi tidak, ia tidak bisa. Ada sesuatu di hatinya yang menolak.
Tak terasa 17 tahun usianya saat ini. Kini, ia duduk sendiri di kamar itu, kembali memeluk lutut. “Aku capek…” katanya pada bayangan di kaca.
“Aku ingin menyerah. Ingin bilang selamat tinggal. Tapi kenapa tubuh ini… masih ingin bertahan?” Ia menarik napas panjang. Dadanya bergetar, matanya basah.
“Air mata… kenapa masih mau keluar? Bukankah aku sudah membendungnya selama ini?” Hening menyelimuti. Lalu, dalam imajinasinya, terdengar sebuah suara. Lembut, hangat, seolah datang dari seseorang yang sudah lama ia nantikan.
“Selamat sudah bertahan sampai saat ini…” Mata anak itu membelalak. Ia menoleh ke sekeliling, tapi tak ada siapa-siapa. Suara itu hanya ada di dalam kepalanya. Namun, hatinya bergetar hebat.
“Hei… aku sudah mencarimu sejak lama. Aku menunggumu.”
Ia menggenggam dadanya. Tangisnya pecah, kali ini tanpa bisa ia bendung. Air mata jatuh deras, membasahi pipinya.
“Terima kasih… terima kasih… akhirnya ada yang mengucapkannya,” isaknya meski ia tahu itu hanya suara dari dalam hatinya sendiri.
Bayangan dirinya yang kecil, yang dulu menangis sendirian, seakan muncul di hadapannya. Anak kecil itu tersenyum, kali ini bukan senyum palsu.
“Aku bahagia, kau bertahan. Aku bahagia, kau masih hidup.”
Remaja itu menutup wajahnya dengan tangan, tangisnya semakin pecah. Untuk pertama kalinya dalam 17 tahun hidupnya, ia merasa benar-benar dipeluk… meski oleh dirinya sendiri, oleh jiwa kecil yang dulu pernah ia abaikan.
Malam itu, hujan di luar jendela terus turun deras. Tapi di dalam kamar kecil itu, ada satu jiwa yang akhirnya membiarkan dirinya menangis, membiarkan dirinya jujur.
Ia masih sendiri. Masih hampa. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Ada harapan kecil yang muncul.
Mungkin suatu hari nanti, akan ada seseorang yang benar-benar datang, mengucapkan, “Selamat sudah bertahan sampai saat ini.”
Dan saat hari itu tiba, ia akan tersenyum. Senyum yang bukan lagi palsu.