Di malam yang penuh bising ini, aku duduk di teras rumah, menatap bintang-bintang yang jumlahnya sedikit namun tetap bersinar di langit hitam kebiruan.
Hari ini rumah begitu ramai—tidak seperti biasanya.
Andai saja setiap hari seramai ini, mungkin dia masih ada.
Hari ini akan menjadi hari yang selalu kuingat sepanjang hidupku.
Pagi tadi, seseorang yang mencintaiku melebihi dirinya sendiri—duniaku—telah pulang ke pangkuan Sang Pencipta.
Baru beberapa jam setelah pemakamannya, aku sudah sangat merindukannya.
Rasanya aneh.
Dia tidak ada di sini.
Setiap kali mengingatnya, yang terlintas hanyalah dosa-dosaku. Tak ada satupun dari kami yang menduga hari ini ia akan pergi.
Padahal saat ia masih terbaring di rumah sakit, aku sudah menyusun banyak rencana—menggodanya, mengeluh padanya, membuatnya kesal seperti biasa—semua akan kulakukan setelah ia sembuh.
Namun sialnya, dunia menjaganya dengan sempurna.
Apakah ini akan berlanjut selamanya?
Apa aku cukup kuat tanpanya?
Apa rumah ini akan tetap bisa disebut rumah?
Seseorang pernah berkata padaku, “Di mana pun ibumu berada, di situlah rumahmu.”
Tapi ibuku telah tiada.
Lalu… dimana rumahku sekarang?
Aku berharap ini hanyalah mimpi buruk—mimpi yang mengajariku betapa berharganya seorang ibu. Aku ingin bangun, memeluknya, mencium kakinya, dan berkata, “Jangan tinggalkan aku.”
Tapi mimpi ini terlalu panjang.
Dan terlalu menyakitkan untuk menjadi kenyataan.
Aku tahu, yang mati tidak bisa hidup kembali. Waktu tak dapat diulang. Manusia hanya bisa menerima takdir dengan ketabahan. Dan penyesalan, sekeras apa pun, tak akan mengubah apa-apa.
Hari-hari berlalu. Aku tetap bersekolah, tertawa bersama teman, bermain seperti biasa.
Namun rumah kembali sepi. Keluarga satu per satu pulang ke kampung halamannya masing-masing. Bahkan saat mereka masih di sini pun, rumah tetap terasa kosong—karena tawa mereka bukanlah tawanya.
Suatu hari, saat rindu itu kembali menyesakkan, tanpa sengaja aku membuka laci di kamarnya.
Di sana, ada sebuah catatan.
Untuk anakku tercinta, Arya.
Ibu menulis ini saat ulang tahunmu yang ke-16.
Itu berarti satu tahun yang lalu.
Jika suatu hari nanti ibu sudah tidak ada, ingatlah ini.
Jaga dirimu baik-baik. Maafkan ibu karena selama ini tak pernah benar-benar menuruti keinginanmu. Karena itu, ibu tidak akan marah jika kamu membenci ibu.
Tapi ibu takut—di masa depan—kamu justru membenci dirimu sendiri. Maka ibu ingin kamu tahu: tak peduli bagaimana pun caramu memperlakukan ibu, cinta ibu tak akan pernah berubah.
Jangan menyalahkan dirimu. Belajarlah mencintai dirimu sendiri.
Ibu akan menunggumu di surga. Setelah itu, ceritakan semua yang kamu alami pada ibu. Jangan ada yang disembunyikan.
Maaf, ibu tidak pandai merangkai kata.
Tapi ibu mencintaimu. Selalu.
Sial. Orang ini memang selalu begitu—pandai sekali membuat orang kesal.
Aneh. Saat ia meninggal, tak setetes pun air mata jatuh. Tapi sekarang, pipiku basah. Tangisku datang terlambat, namun tetap terasa utuh. Aku memeluk catatan itu ke dadaku.
Terima kasih, Ma.
Mungkin aku akan mencoba mencintai diriku sendiri. Dan nanti, siapkan telingamu—aku akan bercerita sampai kau yang meminta aku berhenti karena tak tahan mendengarnya.
Aku sering bertanya-tanya: apa Mama pernah benar-benar bahagia?
Mungkin pernah.
Mungkin hanya sebentar.
Tapi bukankah kebahagiaan dunia memang fana?
Seharusnya Mama memiliki anak yang baik, anak yang berbakti—bukan aku.
Anak yang baik adalah hadiah dunia dan akhirat bagi ibunya. Dan ibu yang baik adalah sekolah pertama bagi anaknya.
Ibuku adalah ibu yang baik.
Hanya saja, akulah anak yang buruk.
Namun aku tidak menyesal memilikinya.
Justru aku bersyukur.
Di balik kertas itu, ada tulisan tambahan.
Oh ya, satu lagi. Kebahagiaan ibu adalah melihat Arya bahagia. Jadi, setiap kali kamu bahagia, ibu merasa menjadi ibu paling bahagia di dunia.
Haha.
Kau memang tidak waras.
Tapi terima kasih. Setidaknya ini sedikit mengurangi bebanku—walau tidak sepenuhnya menghapus rasa bersalahku.
Anggap saja rasa ini sebagai dosaku, yang harus kutanggung agar pantas bertemu denganmu lagi.
Tunggulah aku di sana.
Aku menatap bulan yang bersinar terang. Entah mengapa, rasanya seperti kau berkata, “Jangan cepat-cepat ke sini. Ceritamu nanti tidak seru.”
Iya.
I love you, Mom.
Goodbye, Mom.
Sorry… .
Oh Tuhan, jagalah ibuku.
Dia orang baik.
Dan jika surga itu nyata, izinkan aku bertemu dengannya lagi di sana.
Terima kasih, dan maaf, malaikatku—
Euis Rohmani.