“Dengan kereta malam ku pulang sendiri
Mengikuti rasa rindu
Pada kampung halamanku
Pada Ayah yang menunggu
Pada Ibu yang mengasihiku”
Lorong penuh bangku kosong di ruang tunggu Stasiun Kereta Api. Pukul 22.00. Aku duduk sendiri menunggu Kereta terakhir yang datang malam ini. Selembar tiket di tanganku ku genggam erat seolah takut terlepas. Aku takut tak bisa pulang lagi.
Selembar tiket Kereta Api yang ku genggam hampir basah oleh keringat. Namun Kereta yang ku tunggu tak kunjung datang. Pukul 22.00. Hanya sesekali terdengar bunyi derap langkah penjaga malam.
Ingin aku menyapanya kala ia berjalan lewat di depanku. Namun, melihat raut wajahnya yang lelah aku urungkan niatku. Biarlah dia melaksanakan tugasnya dengan tenang tanpa gangguan.
Udara semakin dingin. Punggung penjaga malam pun semakin menjauh dari bangku tunggu. Hening malam semakin sunyi. Kulihat telapak tanganku yang semakin memutih. Pucat. Seperti tak ada darah yang mengalir dalam pembuluhnya.
Tuut tuut tuut...
00.00. Akhirnya Keretaku datang juga. Segera ku kemasi barang-barangku. Hmm, hanya sebuah tas jinjing kecil berisi baju-baju. Aku hanya akan pulang sebentar melepas rindu. Pada ayah ibu yang menantiku.
Kereta berhenti tepat di depanku. Pintu gerbong terbuka menyambutku. Aku segera masuk ke dalam sebelum pintunya ditutup lagi. Kucari deretan kursi sesuai nomor yang tertulis di lembaran tiket.
Gerbong itu ramai. Penuh penumpang yang terlihat lelah dan mengantuk. Nomor kursiku ternyata sudah ada yang menempati. Tapi ku lihat bangku paling belakang masih kosong. Aku berjalan menuju ujung gerbong.
Setelah aku masuk tadi, entah kenapa udara dalam gerbong tiba-tiba sedingin musim kemarau. Aku menggigil. Kulihat wajah para penumpang yang tiba-tiba memucat pasi. Membuat bulu kuduk berdiri karena merinding. Padahal tadi biasa saja saat kulihat dari luar jendela Kereta.
Aku hiraukan pandangan mereka yang menatapku tanpa berkedip. Aku tetap berjalan ke bangku paling belakang tanpa menoleh pada mereka. Lalu duduk di depan dua orang tua yang baru terbangun dari tidur. Kursi kami berhadapan.
Kedua orang tua itu terkejut melihat kedatanganku. Aku mencoba tersenyum ramah. Tapi mereka justru bangkit dan berpindah tempat duduk ke bangku lebih depan berhimpitan dengan penumpang lain. Bisa kudengar suara gemeletuk gigi mereka. Bahkan gemeretak tulang mereka saat berjalan.
Aku menundukkan kepala semakin dalam. Aku hanya ingin pulang. Sudah bertahun-tahun aku tidak bisa pulang. Aku hanya berputar-putar di Stasiun ini sepanjang malam. Setiap Kereta yang akan kunaiki selalu meninggalkanku sebelum aku menginjakkan kaki di pijakan pintunya. Kereta ini ku harap Kereta terakhir yang akan membawaku ke kampung halaman.
Aku hanya ingin pulang. Bertemu ayah dan ibu yang menungguku. Menunggu jasadku ditemukan. Dan kini, aku sedang dalam perjalanan.
___***___
HARI TERAKHIR TAHUN 2025
KERETA TERAKHIR YANG MEMBAWA LUKA & DUKA
SEMOGA PULANG KITA BERJUMPA BAHAGIA