Bagi Senja, cinta tidak pernah datang seperti ledakan kembang api. Baginya, cinta lebih mirip aroma tanah kering yang tersiram hujan—tenang, meresap, dan menenangkan. Itulah mengapa ia selalu menyukai Kedai Buku "Lentera", tempat di mana ia pertama kali bertemu dengan Langit.
Sore itu, hujan turun dengan derasnya. Senja terjebak di antara deretan rak buku klasik, mencoba meraih sebuah novel tua di rak paling atas yang sulit dijangkau.
"Butuh bantuan?" sebuah suara berat menyapa dari belakang.
Senja menoleh dan menemukan seorang pria dengan jaket denim yang sedikit basah, menyodorkan buku yang ia incar. Pria itu adalah Langit, seorang ilustrator yang sudah tiga bulan terakhir ini selalu duduk di meja pojok kedai yang sama dengan Senja.
"Terima kasih," ucap Senja pelan.
"Aku sering melihatmu membaca buku itu, tapi kau tidak pernah membelinya," ujar Langit sambil tersenyum. Lesung pipit di pipi kirinya membuat jantung Senja berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.
"Aku hanya suka membacanya di sini. Rasanya berbeda," jawab Senja.
Langit terdiam sejenak, lalu ia membuka sketsa yang sejak tadi ia pegang. "Aku juga punya sesuatu yang hanya terasa benar jika aku tunjukkan di sini."
Ia membalik halaman sketsanya. Di sana, terdapat lukisan cat air seorang wanita yang sedang serius membaca buku dengan cahaya lampu kuning yang hangat menerpa wajahnya. Itu adalah Senja.
"Kamu... menggambarku?" Senja tertegun.
"Setiap sore. Selama tiga bulan," aku Langit jujur. "Aku tidak pernah berani menyapamu. Bagiku, kamu adalah bagian paling indah dari kedai ini. Kamu adalah alasan kenapa aku selalu datang lebih awal meskipun hujan."
Hening sejenak di antara mereka, hanya suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela kedai. Senja merasakan kehangatan menjalar di dadanya. Ia tidak menyangka bahwa selama ini, saat ia tenggelam dalam dunia literasi, ada seseorang yang menjadikannya sebagai dunia nyata.
"Namaku Langit," pria itu mengulurkan tangannya.
Senja menyambut tangan itu. Hangat dan kokoh. "Aku Senja."
Langit terkekeh pelan. "Senja dan Langit. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk berada di tempat yang sama sore ini."
Sore itu, buku tua itu akhirnya dibeli oleh Langit, bukan untuk disimpan sendiri, melainkan untuk diberikan kepada Senja dengan sebuah catatan kecil di halaman pertama:
"Untuk Senja, yang membuat Langit tidak lagi merasa sendirian saat hujan."