Di Antara Dua Suara
Rina menikah dengan Arga karena ia percaya Arga adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Namun setelah menikah, Rina mulai menyadari satu hal yang tak pernah benar-benar ia pahami sebelumnya: Arga selalu menempatkan perkataan ibunya di atas segalanya.
Setiap keputusan kecil dalam rumah tangga mereka—dari warna gorden, menu makan malam, hingga rencana akhir pekan—selalu berakhir dengan kalimat yang sama,
“Ibu bilang sebaiknya begini.”
Awalnya Rina mencoba memaklumi. Ia menghormati ibu mertuanya dan mengerti Arga adalah anak yang berbakti. Namun lama-kelamaan, Rina merasa seperti tamu di rumahnya sendiri. Pendapatnya sering kalah, bahkan sebelum sempat dipertimbangkan.
Suatu hari, Rina mengajak Arga berbicara dengan tenang.
“Aku tidak ingin kamu melawan ibumu,” katanya pelan. “Aku hanya ingin kamu juga mendengarkanku. Kita ini suami istri.”
Arga terdiam lama. Baru saat itu ia menyadari bahwa ketaatannya yang berlebihan telah membuat istrinya merasa sendirian. Ia tak bermaksud menyakiti siapa pun, hanya tak pernah belajar bagaimana berdiri di tengah—menghormati ibunya tanpa mengabaikan istrinya.
Sejak hari itu, Arga mulai belajar berkata,
“Terima kasih, Bu. Tapi untuk yang ini, aku dan Rina akan memutuskannya bersama.”
Tidak mudah, dan tidak selalu berhasil. Namun perlahan, rumah itu tak lagi dipenuhi dua suara yang saling bertabrakan, melainkan satu keputusan yang dibangun dari saling pengertian.