Namaku Adiba Syakila, orang biasa memanggilku Kila. Tapi sejujurnya, aku hampir lupa kapan terakhir kali seseorang memanggil namaku dengan hangat.
Kamarku sudah lama menjadi segalanya bagiku. Dinding-dinding itu menyaksikan bagaimana aku menangis dalam diam, bagaimana aku memeluk lutut sambil bertanya-tanya kenapa hidup terasa begitu berat. Di luar sana, ada dunia yang tidak pernah mengerti—dunia yang meninggalkan luka demi luka. Bullying yang tidak pernah berhenti, kepercayaan yang dikhianati bertahun-tahun, dan tekanan yang datang dari segala arah. Aku lelah, sangat lelah.
Depresi itu seperti ruangan tanpa jendela. Gelap, pengap, dan aku terjebak di dalamnya. Aku anti sosial bukan karena aku mau, tapi karena aku takut, takut disakiti lagi, takut dipercaya lalu dikhianati lagi, jadi aku memilih diam, menutup diri, dan tenggelam dalam bayang-bayang yang semakin dalam.
Sampai suatu hari, seseorang mengetuk pintu kamarku.
"Kila, ayo keluar sebentar."
Aku hampir tidak menjawab, tapi suara itu familiar—temanku yang entah kenapa masih peduli meskipun aku sudah lama menjauh dari semua orang.
"Kemana?" tanyaku lemah dari balik pintu.
"Ngga jauh kok, main aja sebentar."
Main, kata yang terdengar begitu asing bagiku. Sudah berapa lama aku tidak melakukan sesuatu yang sesederhana itu?
Dengan ragu, aku membuka pintu. Dia tersenyum, bukan senyum yang memaksa atau penuh basa-basi, tapi senyum yang tulus. Senyum yang mengatakan, "Aku di sini, dan kamu tidak sendirian."
Kami tidak pergi jauh, hanya ke taman dekat rumah, tempat yang bahkan sudah kulupakan keberadaannya. Kami duduk di bangku, tidak banyak bicara. Dia hanya mengajakku menonton langit sore, mendengarkan suara angin di antara dedaunan, sesekali dia bercerita hal-hal kecil—tentang kucing yang dia temui pagi tadi, tentang lagu baru yang dia dengar, tentang hal-hal sepele yang tidak pernah kusadari bisa terasa begitu menenangkan.
"Kamu ngga harus cerita kalau ngga mau," katanya pelan. "Aku cuma pengen kamu tahu, keluar sebentar itu ngga selalu buruk."
Airmataku mengalir tanpa kubisa tahan. Bukan karena sedih, tapi karena aku baru sadar—aku merindukannya, merindukan dunia di luar kamarku, merindukan udara segar, merindukan rasa hidup yang hampir kuhilangkan.
Hari itu tidak mengubah segalanya. Aku tidak tiba-tiba sembuh, tidak tiba-tiba jadi orang yang ceria, tapi ada sesuatu yang berubah di dalam dadaku, ada retakan kecil di dinding gelap yang selama ini mengurungku, dan melalui retakan itu, cahaya mulai masuk.
Esoknya, dia mengajakku lagi dan lagi. Kadang hanya duduk di teras, kadang jalan kaki tanpa tujuan, kadang hanya diam bersama. Perlahan, aku mulai keluar dari sarangku, langkahku masih goyah, rasa takut masih ada, tapi aku mencoba, aku mencoba karena ada seseorang yang percaya bahwa aku layak untuk mencoba.
Bayang-bayang itu belum sepenuhnya hilang. Mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya, tapi sekarang, aku tahu aku tidak sendirian dalam kegelapan itu, ada tangan yang terulur, ada suara yang memanggil namaku dengan hangat, ada harapan bahwa suatu hari nanti, aku bisa benar-benar bebas.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku percaya pada kemungkinan itu.
Aku masih dalam perjalanan, tapi setidaknya sekarang aku tidak lagi terjebak di tempat yang sama. Aku melangkah—perlahan, tapi pasti—keluar dari sarang yang pernah menjadi penjara bagiku.
Namaku Adiba Syakila, dan aku masih di sini, masih berjuang, masih berharap.