Langit Kelabu di Bawah Flyover
Langit sore itu tidak menjanjikan senja yang indah. Awan mendung menggantung berat di atas Jakarta, seolah menahan napas menunggu sesuatu meledak. Di bawah pilar-pilar beton flyover yang penuh coretan pilox, puluhan motor berderu, memecah kebisingan lalu lintas kota yang padat.
Di sisi utara, barisan siswa berseragam putih abu-abu dengan jaket denim belel berdiri tegak. Itu adalah kami, anak-anak SMA Banjar Asri. Di barisan paling depan, Raka, sang pentolan, memainkan gear motor yang diikat pada sabuk kulit, matanya menatap tajam ke seberang jalan.
"Inget, jangan ada yang mundur! Banjar Asri nggak pernah punya sejarah pengecut!" teriak Raka, suaranya serak ditelan angin.
Di seberang kami, sekitar lima puluh meter jauhnya, massa dari SMA Pasundan Kencana sudah menunggu. Mereka mendominasi jalanan dengan sorakan provokatif. Spanduk bertuliskan nama sekolah mereka dikibarkan tinggi-tinggi, seolah ini adalah perang memperebutkan kemerdekaan, padahal hanya memperebutkan ego semu.
Aku, Dimas, berdiri di barisan tengah. Tanganku gemetar dingin, bukan karena berani, tapi karena takut yang kututupi dengan wajah sok garang. Aku hanya ikut karena tidak ingin disebut banci di tongkrongan. Di tas sekolahku, buku LKS Matematika terjepit di antara batu-batu sebesar kepalan tangan yang dipaksa masuk oleh senior tadi siang.
"Maju! Serang!"
Aba-aba itu meledak tanpa peringatan. Seperti bendungan jebol, kedua kubu berlari menerjang ke tengah jalan. Arus lalu lintas terhenti total. Klakson mobil dan truk menjerit-jerit panik, tapi tak ada yang peduli.
PRANG!
Suara kaca pecah terdengar saat batu pertama melayang mengenai helm seorang siswa Pasundan. Teriakan makian sahut-menyahut dengan bunyi logam beradu.
Aku berlari, jantungku berdegup secepat lari sprinter. Di depanku, seorang siswa Pasundan bertubuh gempal mengayunkan bambu. Aku mengelak refleks, bambu itu menghantam aspal, menimbulkan bunyi tak yang nyaring. Tanpa pikir panjang, kulempar batu di tanganku asal-asalan. Meleset.
Suasana kacau balau. Asap tipis dari petasan yang dilempar seseorang membuat mata perih. Aku melihat Raka sedang bergulat dengan dua orang sekaligus, jaketnya robek. Di sisi lain, seorang anak kelas sepuluh dari sekolahku jatuh tersungkur, darah segar mengucur dari pelipisnya terkena lemparan batu.
Melihat darah itu, nyaliku ciut seketika.
"Woy, polisi! Polisi!"
Teriakan itu muncul dari arah belakang, lebih nyaring daripada suara tawuran itu sendiri.
Sirine meraung-raung dari kejauhan, semakin mendekat dengan cepat. Mobil patroli dengan lampu rotator biru membelah kerumunan macet.
Seketika, keberanian yang tadi diagung-agungkan runtuh. Raka yang tadi paling garang, kini yang pertama lari memutar balik motornya.
"Cabut! Woy, cabut! Ada silup!"
Formasi bubar. Tidak ada lagi Banjar Asri atau Pasundan Kencana. Yang ada hanya sekumpulan remaja ketakutan yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri sendiri.
Aku berlari ke arah gang sempit di samping ruko, napasku memburu menyakitkan dada. Aku bersembunyi di balik tumpukan kardus bekas, menahan napas. Dari celah kardus, aku melihat polisi mulai mengamankan beberapa siswa yang tertinggal atau terjatuh. Salah satunya adalah anak kelas sepuluh yang terluka tadi. Dia diseret masuk ke mobil polisi sambil memegangi kepalanya yang bocor. Tidak ada teman yang menolongnya. Tidak ada "solidaritas" yang tadi diteriakkan.
Hujan mulai turun deras, membasahi aspal yang menjadi saksi bisu kebodohan kami.
Aku merosot duduk di tanah yang becek. Di kejauhan, sirine masih terdengar. Aku melihat tanganku sendiri, kotor dan gemetar. Hari ini kami merasa seperti jagoan, tapi di balik gang sempit ini, aku sadar kami hanyalah anak-anak bodoh yang mempertaruhkan masa depan demi sebuah nama sekolah yang bahkan tidak akan kami ingat sepuluh tahun lagi.
Sore itu, di bawah guyuran hujan, tidak ada yang menang. Banjar Asri dan Pasundan sama-sama kalah.
Pesan: Cerita ini fiktif. Tawuran tidak membuktikan keberanian, melainkan hanya merugikan diri sendiri, orang tua, dan masa depan.