𝐃𝐞𝐬𝐚 𝐋𝐚𝐦𝐚𝐧𝐮𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐬𝐭𝐢
Di pedalaman Kalimantan, jauh dari hiruk-pikuk kota, ada sebuah desa bernama Lamanungin. Desa itu terletak di tepi sungai yang lebar dan dalam, dengan hutan rimba membentang di sekitarnya. Orang-orang desa percaya bahwa tempat itu dijaga makhluk gaib, terutama sebuah pohon beringin tua yang menjulang tinggi di tengah tanah lapang.
Konon, beringin itu sudah ada sejak zaman nenek moyang. Akar-akarnya besar menjalar ke tanah, sebagian mencuat seperti ular raksasa yang menggeliat. Orang-orang desa dilarang bersuara keras jika melewati pohon itu, apalagi menjelang senja.
“Kalau kau bersuara, roh-roh penunggu akan mengikutimu sampai ke rumah,” begitu pesan orang tua-tua.
Tapi, seperti biasa, larangan selalu terasa sepele bagi anak muda.
---
Asti Manairingrum
Di desa Lamanungin tinggal seorang gadis bernama Asti Manairingrum. Wajahnya cantik, dengan kulit sawo matang dan mata bening yang selalu tampak teduh. Rambutnya panjang terurai, sering dibiarkan jatuh ke bahu. Asti dikenal pendiam, tak banyak bicara, tetapi ia punya hati yang lembut.
Namun, hidupnya tak lagi sama sejak kabar duka datang. Tunangannya, seorang nelayan bernama Zainal Tanaku, hilang saat melaut tiga bulan lalu. Perahu Zainal ditemukan terbalik di tepian sungai besar, tapi jasadnya tak pernah ditemukan.
“Sudah pasti dia dimakan buaya,” kata sebagian orang.
“Mungkin hanyut ke laut lepas,” ujar yang lain.
Apa pun kebenarannya, Zainal dinyatakan mati.
Asti sejak itu hidup murung. Ia sering terlihat berjalan seorang diri ke tepi sungai, menatap air berjam-jam seolah menunggu seseorang kembali.
---
Tiga Pemuda Usil
Di desa itu, ada tiga pemuda yang terkenal suka membuat keributan: Fadli, Herdi, dan Krisna. Mereka sering nongkrong di warung kopi Lilis, sambil bercanda kasar.
Suatu sore, ketika Asti lewat di depan warung, mereka mulai mengolok.
“Eh, itu calon janda nelayan!” seru Krisna sambil tertawa keras.
Fadli menambahkan, “Kasihan, nunggu tunangan yang sudah jadi makanan buaya.”
Herdi ikut-ikutan, “Jangan-jangan dia masih berharap arwah Zainal pulang bawa ikan!”
Orang-orang desa yang mendengar hanya bisa geleng kepala. Sebagian merasa iba, sebagian lagi takut menegur karena pemuda-pemuda itu terkenal keras kepala.
Asti menunduk, berjalan cepat tanpa menoleh. Tapi dalam hati, luka makin dalam. Air matanya jatuh begitu ia sampai di rumah.
---
Keluarga Asti
Di rumah panggung kayu sederhana, Asti tinggal bersama orang tuanya: Saidin dan Halimah.
Halimah sakit-sakitan sejak lama, batuk tak kunjung sembuh. Sementara Saidin adalah pria keras kepala yang jarang menunjukkan kasih sayang. Ia percaya, kesedihan hanya akan memperlemah jiwa.
“Mengapa kau biarkan mereka menghina begitu saja?” tanya Saidin suatu malam.
Asti hanya diam.
“Kalau Zainal sudah tiada, sudah! Jangan terus menangis. Itu tanda kau tak menerima takdir,” tambah Saidin dengan suara berat.
Asti menangis dalam diam. Ibunya mencoba menenangkan, tapi ia sendiri terlalu lemah.
---
Desa yang Berubah
Sejak Asti kehilangan Zainal, suasana desa ikut berubah. Banyak orang mulai merasa aneh saat melewati pohon beringin tua.
Yusuf, penjaga sekolah dasar, pernah bercerita bahwa ia melihat bayangan perempuan duduk di salah satu dahan beringin saat senja.
“Aku kira itu orang. Tapi ketika aku panggil, dia hilang,” katanya gemetar.
Anak-anak desa seperti Sari, yang masih polos, kadang berbicara sendirian.
“Aku main sama Kak Asti di bawah beringin,” ujarnya suatu sore. Padahal saat itu Asti ada di rumah, terbaring sakit kepala.
Desa mulai dihantui firasat buruk.
---
Pertemuan di Sungai
Suatu hari, Asti kembali ke tepi sungai. Ia duduk lama menatap arus air yang tenang. Di kejauhan, ia mendengar suara yang familiar, seolah panggilan lirih:
“Asti…”
Ia menoleh cepat. Tak ada siapa-siapa. Sungai kosong, hanya aliran air dan bunyi burung hutan. Tapi hati Asti bergetar.
“Zainal?” bisiknya, air mata menetes.
Suara itu tak terdengar lagi, hanya angin sore yang membawa hawa dingin.
---
Keputusan Tragis
Malam itu, setelah dihina lagi oleh Fadli, Herdi, dan Krisna di depan banyak orang, Asti pulang dengan langkah gemetar.
Ia masuk ke kamarnya, menatap cermin lama. “Kalau Zainal memang sudah tiada, apa gunanya aku hidup di sini?”
Air matanya jatuh deras. Ia teringat pada pohon beringin tua yang selalu disebut keramat. Dalam keheningan malam, ia berbisik:
“Kalau memang aku ditakdirkan menyusulmu, Zainal… biarlah di bawah beringin itu aku kembali padamu.”
Keesokan harinya, desa geger.
Nadia, sahabat Asti, yang pertama kali menemukan. Asti tergantung di salah satu dahan beringin, dengan selendang merah melilit lehernya. Matanya masih terbuka, menatap ke arah senja yang hampir jatuh.
Orang-orang berteriak histeris. Saidin jatuh terduduk, Halimah pingsan.
Dan sejak hari itu, desa Lamanungin tak pernah sama lagi.
---
Pertanda Awal
Malam pertama setelah kematian Asti, Fadli bermimpi aneh. Ia melihat Asti berdiri di tepi sungai, rambut terurai, gaun putih basah menempel di tubuhnya.
“Fadli…” suara itu berat, serak, seakan datang dari dalam air.
Fadli terbangun dengan keringat dingin, jantung berdegup cepat.
Sementara Herdi merasa ada seseorang berdiri di belakang rumahnya saat ia pulang ronda. Padahal tak ada seorang pun.
Krisna tiba-tiba demam tinggi, mengigau sambil menyebut nama Asti berulang kali.
Desa mulai percaya: arwah Asti belum pergi. Dan ia mungkin akan kembali setiap akhir senja…
---
𝐆𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐚𝐧 𝐌𝐢𝐬𝐭𝐞𝐫𝐢𝐮𝐬
Hujan turun deras malam itu di Desa Lamanungin. Air meluap, menimbulkan suara gemuruh bercampur dengan gelegar petir. Orang-orang desa masih gemetar mengingat kejadian pagi tadi: tubuh Asti Manairingrum yang tergantung di pohon beringin keramat.
Walau jasadnya sudah dikuburkan sore tadi dengan doa dan isak tangis keluarga, suasana mencekam masih terasa. Orang-orang berbisik:
> “Tidak baik bunuh diri di pohon keramat. Arwahnya pasti gentayangan.”
“Pohon beringin itu menolak jasadnya… lihat saja, matanya tidak mau tertutup!”
---
Malam Pertama
Di rumah panggung kayu, Fadli gelisah. Ia memaksa menutup matanya, tapi bayangan Asti selalu muncul. Dalam mimpinya, ia melihat sosok Asti berdiri di bawah beringin, dengan selendang merah masih melilit leher.
“Asti… ampunilah aku…” Fadli berbisik dalam tidurnya.
Seketika, wajah Asti mendekat. Matanya yang terbuka menatap lurus, bibirnya bergerak perlahan:
> “Fadli… senja belum berakhir…”
Fadli terbangun mendadak. Nafasnya tersengal, keringat membasahi tubuh. Ia menoleh ke jendela—dan hampir menjerit.
Di luar, di bawah sinar petir, tampak bayangan perempuan berdiri di halaman rumah. Rambutnya terurai basah, pakaiannya putih, dan matanya menatap lurus ke arah Fadli.
---
Herdi di Tengah Malam
Sementara itu, Herdi yang baru saja pulang ronda berjalan cepat melewati jalan setapak dekat sungai. Hujan reda, tapi kabut tipis menyelimuti.
“Kenapa jalan ini sepi sekali…” gumamnya.
Saat ia melangkah, terdengar suara lirih di belakangnya. Suara perempuan.
> “Herdi…”
Herdi menoleh cepat. Tak ada siapa-siapa. Hanya kabut, dan gemericik air.
Ia mempercepat langkah. Tapi suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat.
> “Herdi… jangan lari…”
Keringat dingin mengalir. Ia berlari, tapi tiba-tiba tubuhnya seperti tersandung sesuatu. Ia jatuh telungkup di tanah basah. Saat menoleh, ia melihat sebuah selendang merah melilit kakinya—selendang yang persis sama dengan milik Asti.
Herdi berteriak panik dan melepaskan selendang itu. Tapi begitu ia buang, benda itu lenyap begitu saja.
---
Krisna Mengigau
Di rumah lain, Krisna terbaring demam tinggi. Sejak jasad Asti ditemukan, tubuhnya panas dingin tak terkendali. Ibunya, seorang perempuan tua bernama Mak Eni, panik dan memanggil tetangga.
“Krisna mengigau… dia menyebut-nyebut nama Asti,” kata Mak Eni dengan wajah pucat.
Arman, kakak Krisna, mencoba menenangkan. Tapi tiba-tiba Krisna duduk tegak di ranjang, matanya terbelalak.
“Asti! Jangan tatap aku! Jangan bawa aku ke beringin!” teriaknya histeris.
Semua orang di ruangan itu membeku. Bahkan suara jangkrik di luar seakan ikut hilang.
---
Kabar Menyebar
Keesokan paginya, kabar menyebar cepat. Semua orang tahu Fadli diganggu, Herdi histeris melihat selendang, dan Krisna jatuh sakit sambil mengigau.
Pak Juhri, kepala desa, memanggil beberapa tokoh adat dan agama untuk bermusyawarah di balai desa.
“Ini bisa meresahkan. Kita harus tenang. Jangan percaya gosip berlebihan,” katanya berusaha menenangkan.
Namun Usman, seorang tetua adat, berdiri dengan suara lantang.
“Pak Juhri, jangan menutup mata. Arwah orang yang mati bunuh diri di pohon keramat tak akan tenang. Ia akan menuntut!”
Imam Suraji, ustad desa, menimpali, “Benar, kita harus mendoakan. Tapi jangan sampai terjebak dalam ketakutan. Arwah itu milik Allah, bukan penunggu pohon.”
Perdebatan terjadi. Sebagian warga condong pada doa-doa agama, sebagian lain percaya harus ada ritual adat.
---
Pertanda di Senja Hari
Hari itu menjelang sore, kabut turun lebih cepat dari biasanya. Yusuf, penjaga sekolah, berjalan pulang melewati lapangan dekat beringin.
Ia berhenti. Di bawah pohon itu, ia melihat sosok perempuan berdiri menghadap senja. Rambut panjang, gaun putih, dan selendang merah di leher.
Jantung Yusuf berdegup kencang. Ia tahu itu mustahil Asti. Tapi sosok itu begitu nyata.
Sosok itu perlahan menoleh. Wajah pucat dengan mata melotot lurus ke arah Yusuf.
> “Senja… belum berakhir…”
Yusuf menjerit sekuat tenaga dan berlari tunggang-langgang menuju rumah.
---
Mak Rukiah Bicara
Di malam itu, orang-orang berkumpul di rumah Mak Rukiah, dukun tua desa yang dikenal masih menjaga adat lama. Tubuhnya bungkuk, matanya tajam, dan rambutnya memutih.
“Aku sudah tahu ini akan terjadi,” kata Mak Rukiah pelan.
“Perempuan itu mati dengan hati penuh dendam. Ia dipermalukan, ditertawakan, dan memilih mati di pohon keramat. Arwahnya akan menuntut orang-orang yang menyakitinya.”
“Siapa saja yang akan jadi korban, Mak?” tanya Lilis, pemilik warung kopi, dengan suara gemetar.
“Siapa pun yang membuatnya menangis sebelum kematian,” jawab Mak Rukiah lirih.
“Dan ingat… dia akan muncul setiap akhir senja, ketika cahaya matahari dan gelap saling berebut.”
Semua orang menunduk. Nama Fadli, Herdi, dan Krisna langsung terlintas di benak mereka.
---
Gangguan Makin Keras
Beberapa hari kemudian, teror makin menjadi.
Fadli melihat wajah Asti muncul di permukaan air sumur.
Herdi mendengar langkah kaki perempuan mengikuti ke mana pun ia pergi.
Krisna makin parah; tubuhnya kurus, wajahnya pucat, matanya kosong seperti kehilangan jiwa.
Bahkan orang-orang lain mulai terganggu. Fitri, gadis desa, hampir pingsan karena melihat Asti berdiri di pintu rumah saat magrib.
Sari, anak kecil yang polos, berkata pada ibunya,
“Aku diajak Kak Asti main di bawah beringin. Dia bilang, nanti aku ikut dia kalau senja tiba.”
Ibunya langsung menjerit histeris dan melarang Sari keluar rumah saat sore.
---
Rahasia yang Tersimpan
Di tengah kekacauan itu, muncul satu kabar baru. Samsul, sahabat Zainal, yang malam terakhir ikut melaut, akhirnya membuka suara.
“Aku tidak pernah cerita ini sebelumnya karena takut,” katanya dengan wajah tegang.
“Malam itu, aku dan Zainal melihat cahaya aneh di tengah sungai. Seperti bola api, tapi bergerak perlahan di atas air. Zainal bilang ia harus mendekat, karena merasa ada sesuatu yang memanggil. Aku larang, tapi dia keras kepala. Ia mendayung ke arah cahaya itu… lalu tiba-tiba dia hilang. Perahu kami terbalik, aku terseret arus, tapi aku berhasil selamat. Zainal tak pernah muncul lagi.”
Semua orang terdiam.
“Apakah mungkin… Zainal sebenarnya tidak mati?” tanya Rahmat, pemuda desa.
“Kalau pun dia hidup, dia dibawa oleh makhluk gaib. Aku yakin,” jawab Samsul.
Cerita itu menambah ketakutan. Kini bukan hanya arwah Asti yang gentayangan, tapi juga misteri hilangnya Zainal yang belum terjawab.
---
Peringatan Senja
Malam itu, Mak Rukiah kembali memberi peringatan.
“Esok lusa, saat senja jatuh, akan ada tanda besar. Kalau tidak segera dilakukan ruwatan, desa ini akan ditimpa malapetaka. Arwah Asti akan semakin kuat.”
Pak Juhri bingung. Imam Suraji berkeras dengan doa-doa. Usman mendesak dengan ritual adat. Warga terbelah, sementara waktu terus berjalan menuju senja berikutnya.
Dan di antara itu semua, tatapan Asti masih terasa, menghantui siapa pun yang melewati beringin tua.
---
𝐓𝐞𝐫𝐨𝐫 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚
Senja turun perlahan di Desa Lamanungin. Cahaya oranye merambat di langit, menyusup di antara rimbunnya pohon-pohon hutan. Burung-burung yang biasanya ribut menjelang malam kini sepi, seolah tahu ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada gelap.
Di tepi lapangan, pohon beringin menjulang kokoh. Daun-daunnya bergoyang pelan meski angin hampir tak berhembus. Seakan-akan, pohon itu bernapas sendiri.
Orang-orang desa menutup pintu lebih cepat hari itu. Anak-anak dilarang bermain keluar.
---
Fitri dan Bayangan di Jendela
Di rumah panggungnya, Fitri sedang menyalakan lampu minyak. Ia menoleh ke arah jendela, dan hampir menjerit.
Di balik kaca, wajah seorang perempuan pucat dengan rambut basah menempel di pipi menatap lurus ke arahnya.
“Asti…” Fitri berbisik dengan tubuh gemetar.
Ia buru-buru menutup tirai dan merapatkan pintu. Tapi suara lirih terdengar dari luar:
> “Fitri… ayo main di bawah beringin…”
Fitri menutup telinga, menangis ketakutan.
---
Lilis di Warung Kopi
Sementara itu, Lilis, pemilik warung kopi, sedang membereskan meja. Tiga pemuda—Fadli, Herdi, dan Dedi—masih duduk di sana.
“Sudah hampir magrib. Pulanglah, jangan kelamaan di sini,” kata Lilis dengan wajah tegang.
“Ah, apa sih yang ditakutkan. Cuma cerita orang tua,” jawab Dedi sambil tertawa, mencoba menutupi rasa gugup.
Namun saat itu, piring-piring di meja berguncang sendiri. Gelas kopi yang masih setengah penuh terjatuh ke lantai, pecah.
Semua terdiam. Lilis pucat pasi, Fadli menelan ludah, Herdi langsung bangkit berdiri.
Dari arah pintu warung, angin dingin masuk. Aroma tanah basah dan wangi bunga kamboja menyeruak.
“Dia ada di sini…” bisik Lilis dengan suara hampir tak terdengar.
---
Rahmat dan Nadia
Di tempat lain, Rahmat, pemuda desa yang diam-diam menyukai Asti, menemani Nadia, sahabat Asti, di rumahnya. Mereka berdua masih syok dengan kematian Asti.
“Aku merasa bersalah, Rahmat,” ucap Nadia. “Seandainya aku selalu menemaninya, mungkin dia tidak akan merasa sendirian…”
Rahmat menatap lantai. “Aku juga… aku seharusnya berani mengungkapkan perasaanku. Kalau saja dia tahu ada orang lain yang mencintainya…”
Tiba-tiba lampu minyak di rumah itu bergetar, nyala api mengecil lalu membesar sendiri.
Di dinding kayu, bayangan Asti muncul—tubuh tergantung dengan selendang merah.
Nadia menjerit histeris, Rahmat langsung berlari memeluknya.
Bayangan itu lenyap, meninggalkan bau menyengat seperti daun terbakar.
---
Sari dan “Kak Asti”
Di rumah kecil dekat sungai, Sari, bocah tujuh tahun, duduk di lantai sambil menggambar di atas kertas lusuh. Ia tersenyum-senyum, seakan berbicara dengan seseorang.
“Iya, Kak Asti… Sari ikut main besok, ya?” katanya riang.
Ibunya, yang sedang menanak nasi, langsung mendekat. “Sari, kau bicara sama siapa?”
Sari menoleh polos. “Kak Asti berdiri di jendela, Ma. Dia senyum ke Sari.”
Ibunya terbelalak, langsung memeluk anaknya erat-erat.
---
Arman Menantang
Di pos ronda, Arman, kakak Krisna, duduk bersama beberapa pemuda, termasuk Dedi. Ia kesal karena adiknya terus diganggu sampai sakit parah.
“Aku tak percaya ini ulah hantu. Pasti orang yang sengaja nakut-nakuti kita,” katanya keras.
“Kalau begitu, coba kau buktikan sendiri, Man,” sahut Dedi dengan wajah menantang.
Arman berdiri, matanya menatap ke arah beringin yang samar-samar terlihat di kejauhan. “Malam ini aku akan datang ke pohon itu. Aku ingin lihat apa benar Asti gentayangan.”
Pemuda lain saling pandang. Tak ada yang berani ikut.
---
Suara dari Beringin
Saat senja hampir habis, beberapa warga yang lewat dekat beringin mengaku mendengar suara aneh. Tangisan perempuan bercampur dengan suara serak memanggil nama-nama:
> “Fadli…”
“Herdi…”
“Krisna…”
Tangisan itu berubah jadi tawa melengking, membuat burung-burung berhamburan.
Usman, tetua adat, yang kebetulan melewati tempat itu dengan membawa obor, langsung menancapkan tongkat kayu di tanah sambil berbisik doa-doa lama.
“Arwah itu sudah bangkit. Dia mencari balas,” katanya pada beberapa orang yang ikut bersamanya.
---
Imam Suraji dan Doa
Di surau desa, Imam Suraji mengumpulkan beberapa warga untuk membaca doa bersama. Suaranya tenang, meski wajahnya jelas menahan kekhawatiran.
“Kita jangan kalah dengan rasa takut. Bacalah doa. Lindungi rumah masing-masing dengan ayat-ayat Allah,” pesannya.
Namun bahkan di dalam surau, beberapa orang merasa angin dingin masuk. Seorang pemuda tiba-tiba terjatuh pingsan setelah mengaku melihat bayangan putih berdiri di pintu.
Imam Suraji menutup mata, hatinya bergumam: Ya Allah, lindungilah desa ini dari gangguan makhluk yang tersesat.
---
Teror di Senja Pertama
Malam itu menjadi malam paling mencekam sejak Asti mati.
Fitri histeris karena bayangan di jendela.
Lilis menemukan warungnya didatangi angin misterius.
Rahmat dan Nadia hampir pingsan karena melihat bayangan di dinding.
Sari dengan polos bercerita bermain dengan “Kak Asti.”
Arman bersumpah akan menantang arwah itu di beringin.
Sementara Fadli, Herdi, dan Krisna semakin terpuruk dalam ketakutan.
𝐊𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚
Senja keempat setelah kematian Asti datang dengan langit kelabu. Matahari tenggelam lebih cepat, seakan menolak menatap Desa Lamanungin yang dicekam ketakutan.
Orang-orang menutup pintu rapat-rapat. Anak-anak disuruh berdoa sebelum tidur. Dan di lapangan, pohon beringin tua berdiri muram, daunnya bergoyang pelan tanpa angin.
---
Saidin dan Halimah
Di rumah panggung kayu, Saidin duduk dengan wajah keras, menatap lampu minyak. Di sampingnya, Halimah masih lemah, tubuhnya sering batuk hingga wajahnya pucat.
“Kematian Asti membuat orang-orang heboh. Mereka menyalahkan pohon keramat, menyalahkan arwah. Padahal itu hanya takdir,” ujar Saidin dengan nada kesal.
Halimah menunduk, suaranya parau. “Tapi, Bang… aku merasa anak kita belum pergi tenang. Aku mimpi dia menangis, memanggil namaku.”
“Cukup! Jangan lagi percaya mimpi dan bisikan orang. Itu hanya permainan setan!” bentak Saidin.
Namun batuk Halimah pecah, disertai air mata. “Kalau saja kita lebih mendengar isi hatinya… mungkin Asti tidak memilih jalan itu.”
Saidin terdiam. Untuk pertama kalinya, mata kerasnya bergetar.
---
Pak Juhri dan Rapat Desa
Di balai desa, Pak Juhri memanggil para tokoh. Hadir pula Usman, Imam Suraji, dan beberapa pemuda.
“Kita tidak bisa membiarkan kepanikan ini. Warga ketakutan, ladang tak dikerjakan, anak-anak tidak bersekolah. Desa bisa lumpuh,” kata Pak Juhri serius.
“Karena itulah, aku minta kita adakan ruwatan. Hanya itu caranya,” usul Usman, tetua adat.
“Tapi itu syirik,” bantah Imam Suraji. “Yang kita butuhkan adalah doa. Kita harus kembalikan semuanya pada Allah.”
Suasana rapat memanas. Sebagian mendukung ritual adat, sebagian lagi menolak.
Pak Juhri akhirnya mengetuk meja. “Baik. Kita akan jalankan keduanya. Malam Jumat ini, kita gelar doa bersama di surau. Setelah itu, siang harinya, kita adakan upacara adat di beringin. Semoga tidak ada yang menolak.”
Semua terdiam. Mereka tahu, ini bukan soal adat atau agama lagi, tapi soal bertahan hidup.
---
Samsul Bersuara
Setelah rapat bubar, Samsul menghampiri Pak Juhri. Wajahnya cemas.
“Pak, ada yang belum saya ceritakan,” katanya lirih.
“Apa lagi, Samsul?”
“Sejak malam Zainal hilang, aku sering bermimpi. Dia memanggilku dari sungai. Suaranya jelas, tapi tubuhnya dipenuhi lumpur dan akar-akar. Seakan-akan dia ditahan sesuatu di dasar air.”
Pak Juhri terperangah. “Kau yakin itu bukan halusinasi?”
Samsul menggeleng. “Kalau Zainal masih ada… bisa jadi arwah Asti tidak akan tenang sebelum menemukannya.”
---
Arman di Pohon Beringin
Malam itu, Arman benar-benar menepati sumpahnya. Ia membawa obor, berjalan seorang diri ke arah pohon beringin.
“Kalau kau memang ada, Asti, muncullah. Jangan hanya menakuti orang lemah,” katanya dengan suara lantang.
Daun beringin berguncang, meski udara tenang. Dari balik kabut senja yang tersisa, muncul sosok perempuan bergaun putih. Rambut panjang, wajah pucat, selendang merah melilit lehernya.
Asti.
Mata Arman terbelalak. Obor di tangannya gemetar.
Sosok itu mendekat perlahan, kakinya tak menyentuh tanah.
> “Kau kakaknya Krisna…” suara lirih bergema, serak namun jelas.
“Adikmu… menertawakanku…”
Arman mencoba menahan diri, tapi tubuhnya kaku.
> “Sekarang giliranmu…”
Tiba-tiba obor padam. Gelap pekat menelan lapangan. Terdengar jeritan panjang menusuk telinga.
---
Korban Pertama
Keesokan paginya, warga menemukan tubuh Arman di bawah pohon beringin. Matanya terbuka lebar, wajahnya membiru seperti dicekik.
Di lehernya, bekas lilitan merah terlihat jelas.
Orang-orang panik. Histeris. Ada yang langsung jatuh pingsan.
“Arwah Asti sudah mengambil korban!” teriak seseorang.
Pak Juhri datang dengan wajah pucat. Imam Suraji segera membaca doa. Usman menancapkan tongkat kayu di dekat mayat.
“Ini baru permulaan,” bisik Usman lirih. “Arwah itu belum puas. Akan ada korban berikutnya setiap senja tiba.”
---
Halimah Meratap
Berita itu sampai ke rumah Asti. Halimah menangis histeris. “Kenapa anak kita jadi begini? Kenapa arwahnya menuntut balas?”
Saidin hanya terdiam, wajahnya pucat pasi. Meski keras kepala, kali ini ia tak bisa menyangkal lagi.
Ia tahu, pohon beringin itu sudah mengambil putrinya—dan kini menuntut jiwa lain.
---
Fadli, Herdi, dan Krisna
Di tempat berbeda, tiga pemuda yang dulu mengolok Asti kini semakin tertekan.
Fadli hampir tak tidur, matanya cekung. Ia selalu merasa bayangan mengikuti di belakangnya.
Herdi sering mendengar suara tangisan dari bawah ranjang setiap malam.
Krisna semakin parah: tubuhnya lemah, matanya kosong, dan mulutnya sering bergumam, “Asti… jangan tatap aku…”
Mereka sadar: cepat atau lambat, giliran mereka akan datang.
---
Senja Kembali
Malam itu, ketika matahari kembali tenggelam di ufuk barat, desa terbungkus ketakutan.
Orang-orang mengurung diri, doa-doa dipanjatkan, dan semua mata menoleh ke pohon beringin.
Apakah arwah Asti akan mengambil korban kedua?
---
𝐌𝐢𝐬𝐭𝐞𝐫𝐢 𝐙𝐚𝐢𝐧𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚 𝐁𝐞𝐫𝐝𝐚𝐫𝐚𝐡
Hari setelah kematian Arman, desa Lamanungin gempar. Orang-orang kini yakin: arwah Asti benar-benar bergentayangan.
Rumor menyebar semakin liar. Ada yang bilang Asti berubah jadi kuntilanak, ada yang bilang ia menjadi roh penunggu beringin. Namun, bisik-bisik yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah dugaan bahwa Asti belum bisa pergi karena Zainal Tanaku—tunangan yang dikabarkan mati melaut—belum benar-benar tiada.
---
Pak Juhri Mengambil Keputusan
Di balai desa, suasana rapat kembali panas.
“Kalau kita biarkan, besok akan ada korban lagi,” kata Usman, tetua adat, dengan wajah keras. “Arwah itu harus ditenangkan dengan upacara. Itu aturan nenek moyang!”
“Tidak!” bantah Imam Suraji dengan tegas. “Upacara adat itu mengundang syirik. Jalan satu-satunya adalah doa dan taubat. Kita semua harus mendekat pada Allah, bukan pada pohon itu!”
Suara orang-orang bercampur. Sebagian mendukung Usman, sebagian membela Imam Suraji.
Akhirnya, Pak Juhri mengetukkan meja.
“Cukup! Kita tidak bisa terus berdebat. Aku sebagai kepala desa memutuskan: kita lakukan keduanya. Malam ini, kita doa bersama di surau. Besok siang, kita lakukan upacara adat di beringin. Semoga salah satunya membuat arwah itu tenang.”
Semua terdiam. Tak ada yang berani membantah lagi.
---
Samsul Bicara tentang Zainal
Setelah rapat bubar, Samsul menghampiri Rahmat dan Nadia. Wajahnya pucat, matanya penuh beban.
“Aku harus jujur pada kalian,” katanya lirih.
“Jujur soal apa?” tanya Nadia.
“Malam Zainal hilang, aku bersamanya. Kami melihat cahaya aneh di tengah sungai. Seperti bola api. Zainal bilang itu panggilan… dan dia mendayung ke sana. Lalu tiba-tiba, aku lihat akar-akar besar muncul dari bawah air, melilit tubuhnya, menariknya ke dalam.”
Rahmat menelan ludah. “Akar-akar? Apa mungkin itu hanya bayanganmu?”
Samsul menggeleng. “Aku masih ingat jelas. Dan sejak itu, aku selalu mimpi dia memanggil dari dasar sungai. Tubuhnya dipenuhi lumpur, matanya menatapku. Dia masih terperangkap.”
Nadia menutup mulut, wajahnya pucat. “Kalau begitu… mungkin Asti tidak akan tenang sebelum bertemu Zainal…”
---
Doa Malam di Surau
Malam itu, seluruh warga berkumpul di surau. Imam Suraji memimpin doa dengan suara lantang, sementara warga menangis memohon perlindungan.
Namun, di tengah doa, suara tangisan lirih terdengar di luar surau.
Beberapa pemuda memberanikan diri mengintip keluar. Mereka melihat bayangan putih berdiri di bawah pohon kelapa, menatap ke arah surau dengan mata menyala merah.
“Dia mendengarkan kita…” bisik salah seorang pemuda, tubuhnya gemetar.
Tiba-tiba, lampu-lampu minyak di surau padam serentak. Suasana gelap gulita. Hanya suara Imam Suraji yang terus membaca doa dengan lantang, mencoba melawan rasa takut yang menyesakkan.
---
Upacara Adat di Beringin
Keesokan harinya, di bawah terik matahari, Usman memimpin upacara adat di pohon beringin.
Warga berkumpul, sebagian berdoa dalam hati, sebagian lagi menutup mata tak sanggup melihat.
Usman menaburkan beras kuning di sekitar akar, menyalakan kemenyan, dan mengikat sehelai kain putih di dahan beringin.
“Wahai arwah yang resah, kembalilah ke jalanmu. Jangan ganggu manusia lagi…” ucap Usman dengan suara berat.
Namun, tiba-tiba angin kencang bertiup. Daun beringin berguncang hebat. Kain putih terlepas, melayang ke udara, lalu jatuh ke tanah berlumuran darah segar.
Orang-orang berteriak panik. Beberapa langsung lari terbirit-birit.
“Astiiiii…” suara lirih terdengar dari batang pohon.
Dan saat itu, sosok bergaun putih muncul di dahan beringin. Rambut panjang, wajah pucat, selendang merah di leher. Ia menatap semua orang di bawahnya dengan mata kosong.
---
Korban Senja Berdarah
Di tengah kekacauan itu, Dedi, yang sejak awal menantang keberadaan arwah, mencoba berteriak lantang.
“Ini hanya tipuan! Jangan takut! Itu bukan Asti, hanya bayangan!”
Namun, tiba-tiba tubuh Dedi terangkat ke udara. Lehernya seperti dicekik oleh tangan tak terlihat.
Orang-orang menjerit histeris.
Dedi meronta, wajahnya membiru. Dari lehernya, bekas lilitan merah muncul.
Seketika, tubuhnya terhempas ke tanah dengan keras. Ia tak bergerak lagi.
Darah mengalir dari mulutnya. Matanya terbuka lebar.
Korban kedua telah jatuh.
---
Desa dalam Ketakutan
Halimah pingsan ketika mendengar kabar Dedi mati di beringin. Saidin terdiam, tak lagi bisa menyangkal bahwa ada sesuatu yang jauh di luar kendalinya.
Pak Juhri gelisah, merasa bersalah karena memutuskan menggabungkan doa dan adat. Imam Suraji makin yakin harus ada kekuatan doa lebih besar. Usman semakin keras, bersikeras bahwa Asti hanya bisa ditenangkan dengan ruwatan jiwa.
Dan di antara semua itu, Fadli, Herdi, dan Krisna semakin ketakutan. Mereka tahu, nama mereka sudah disebut oleh arwah itu sendiri. Cepat atau lambat, giliran mereka akan tiba.
---
Akhir Senja
Malam turun. Pohon beringin berdiri semakin angker. Suara tangisan samar terdengar, diikuti tawa melengking yang menggema ke seluruh desa.
“Senja… belum berakhir…”
---
𝐊𝐫𝐢𝐬𝐧𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐁𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧
Senja itu turun lebih cepat dari biasanya. Langit berwarna merah darah, seakan pertanda buruk bagi Desa Lamanungin. Warga semakin gelisah; dua korban sudah jatuh, dan semua bertanya: siapa selanjutnya?
---
Jumar, Penjaga Malam
Malam itu, Jumar berkeliling desa dengan lampu petromaks di tangan. Pekerjaannya sebagai penjaga malam membuatnya harus tetap terjaga, meski sebagian besar warga memilih mengurung diri.
Saat ia melewati tepi lapangan, lampunya berkedip-kedip. Angin dingin berhembus, membuat bulu kuduknya berdiri.
“T-tidak boleh takut… ini cuma angin,” gumamnya.
Namun ketika ia menoleh, Jumar melihat bayangan seorang perempuan bergaun putih melayang di antara dahan beringin. Rambutnya terurai panjang, wajahnya samar, tapi matanya merah menyala.
Jumar terjatuh, lampu hampir padam. Tapi anehnya, sosok itu hanya menatap… lalu menghilang ke arah rumah Krisna.
---
Krisna Terhantui
Di rumahnya, Krisna semakin kurus. Matanya cekung, wajahnya pucat. Ia jarang tidur, karena setiap kali memejamkan mata, ia melihat wajah Asti dengan selendang merah di leher.
“Kenapa kau menatapku begitu?” Krisna berbisik dalam gelap. “Aku hanya bercanda… aku tidak berniat jahat…”
Tiba-tiba suara tangisan terdengar dari bawah ranjang. Pelan, namun jelas.
Krisna gemetar, menunduk, dan melihat sepasang mata merah menyala menatap balik dari bawah ranjang. Ia menjerit, tubuhnya terbanting ke belakang.
Namun ketika pintu rumah terbuka, hanya Lina yang berdiri di sana, membawa sebuah mangkuk berisi bubur.
“Krisna? Kau baik-baik saja?” tanya Lina dengan wajah cemas.
Krisna terengah-engah, menatap Lina. “Jangan masuk! Kau tak boleh di sini! Dia ada di sini…”
Lina bingung, tapi ia tahu Krisna sedang dihantui rasa bersalah. Ia meletakkan bubur di meja lalu pergi dengan hati berat.
---
Baharuddin Bicara tentang Zainal
Di tepi sungai, Baharuddin berbicara dengan Rahmat dan Nuraini.
“Perahu yang dipakai Zainal waktu itu milikku,” kata Baharuddin pelan. “Aku masih ingat jelas. Malam itu, dia menyewanya dariku. Katanya mau mencari ikan di hulu.”
Rahmat mengangguk. “Dan sejak itu dia hilang.”
Baharuddin menunduk. “Yang aneh, perahu itu kembali sendiri dua hari kemudian. Terdampar di tepi sungai, kosong… tapi ada lumpur hitam pekat di dalamnya. Lumpur yang baunya busuk, bukan lumpur biasa.”
Nuraini menutup mulutnya, merinding. “Jadi… mungkin dia bukan tenggelam, tapi ditelan sesuatu.”
---
Tamin Mengisahkan Legenda
Sementara itu, di rumah panggungnya, Tamin—orang tua yang sering bercerita—didatangi beberapa pemuda yang ketakutan.
“Apa benar arwah Asti bergentayangan, Tamin?” tanya seorang pemuda.
Tamin menghela napas panjang. “Kalian anak muda tidak tahu. Pohon beringin itu bukan sekadar pohon. Sejak zaman dulu, orang bilang ada penunggu di sana. Sosok perempuan tua, kadang terlihat muda, kadang menakutkan. Dia suka mengambil jiwa-jiwa yang mati dalam kesedihan.”
Para pemuda saling pandang.
“Kalau Asti mati di pohon itu, berarti jiwanya dijadikan bagian dari penunggu itu,” lanjut Tamin lirih. “Dan sebelum dendamnya selesai, ia akan menuntut darah.”
---
Senja Berdarah di Rumah Krisna
Menjelang senja, Krisna terduduk di sudut kamarnya. Tubuhnya lemah, napasnya tersengal. Ia merasa semua orang menatapnya, meski rumah kosong.
Tiba-tiba jendela terbuka sendiri. Angin dingin menerpa, membawa suara lirih:
> “Kau menertawakan aku… Krisna…”
Krisna menutup telinganya, berteriak. “Maafkan aku! Aku tidak tahu kau akan bunuh diri! Aku tidak tahu, Asti!”
Bayangan putih muncul di depan jendela. Asti berdiri di sana, matanya merah, selendang merah menjuntai di leher.
> “Senja ini… giliranmu…”
Teriakan Krisna mengguncang seluruh rumah. Tetangga berlari, termasuk Jumar yang mendengar dari jauh.
Ketika pintu didobrak, Krisna sudah tergantung di balok kayu rumahnya. Selendang merah melilit lehernya, matanya terbuka menatap kosong ke arah senja.
Di lantai, bubur yang dibawa Lina tadi tumpah, bercampur dengan darah yang menetes dari mulut Krisna.
---
Ketakutan Warga
Warga berteriak histeris. Lina pingsan ketika melihat jasad Krisna. Fadli dan Herdi, yang mendengar kabar itu, semakin kalut.
“Dia sudah datang… Asti akan habisi kita satu per satu…” Herdi berbisik dengan wajah pucat.
Sementara itu, di kejauhan, pohon beringin tampak berguncang, meski tak ada angin. Dari balik rimbunannya, terdengar tawa melengking yang memecah senja.
---
𝐊𝐫𝐢𝐬𝐧𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐁𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧
Senja itu turun lebih cepat dari biasanya. Langit berwarna merah darah, seakan pertanda buruk bagi Desa Lamanungin. Warga semakin gelisah; dua korban sudah jatuh, dan semua bertanya: siapa selanjutnya?
---
Jumar, Penjaga Malam
Malam itu, Jumar berkeliling desa dengan lampu petromaks di tangan. Pekerjaannya sebagai penjaga malam membuatnya harus tetap terjaga, meski sebagian besar warga memilih mengurung diri.
Saat ia melewati tepi lapangan, lampunya berkedip-kedip. Angin dingin berhembus, membuat bulu kuduknya berdiri.
“T-tidak boleh takut… ini cuma angin,” gumamnya.
Namun ketika ia menoleh, Jumar melihat bayangan seorang perempuan bergaun putih melayang di antara dahan beringin. Rambutnya terurai panjang, wajahnya samar, tapi matanya merah menyala.
Jumar terjatuh, lampu hampir padam. Tapi anehnya, sosok itu hanya menatap… lalu menghilang ke arah rumah Krisna.
---
Krisna Terhantui
Di rumahnya, Krisna semakin kurus. Matanya cekung, wajahnya pucat. Ia jarang tidur, karena setiap kali memejamkan mata, ia melihat wajah Asti dengan selendang merah di leher.
“Kenapa kau menatapku begitu?” Krisna berbisik dalam gelap. “Aku hanya bercanda… aku tidak berniat jahat…”
Tiba-tiba suara tangisan terdengar dari bawah ranjang. Pelan, namun jelas.
Krisna gemetar, menunduk, dan melihat sepasang mata merah menyala menatap balik dari bawah ranjang. Ia menjerit, tubuhnya terbanting ke belakang.
Namun ketika pintu rumah terbuka, hanya Lina yang berdiri di sana, membawa sebuah mangkuk berisi bubur.
“Krisna? Kau baik-baik saja?” tanya Lina dengan wajah cemas.
Krisna terengah-engah, menatap Lina. “Jangan masuk! Kau tak boleh di sini! Dia ada di sini…”
Lina bingung, tapi ia tahu Krisna sedang dihantui rasa bersalah. Ia meletakkan bubur di meja lalu pergi dengan hati berat.
---
Baharuddin Bicara tentang Zainal
Di tepi sungai, Baharuddin berbicara dengan Rahmat dan Nuraini.
“Perahu yang dipakai Zainal waktu itu milikku,” kata Baharuddin pelan. “Aku masih ingat jelas. Malam itu, dia menyewanya dariku. Katanya mau mencari ikan di hulu.”
Rahmat mengangguk. “Dan sejak itu dia hilang.”
Baharuddin menunduk. “Yang aneh, perahu itu kembali sendiri dua hari kemudian. Terdampar di tepi sungai, kosong… tapi ada lumpur hitam pekat di dalamnya. Lumpur yang baunya busuk, bukan lumpur biasa.”
Nuraini menutup mulutnya, merinding. “Jadi… mungkin dia bukan tenggelam, tapi ditelan sesuatu.”
---
Tamin Mengisahkan Legenda
Sementara itu, di rumah panggungnya, Tamin—orang tua yang sering bercerita—didatangi beberapa pemuda yang ketakutan.
“Apa benar arwah Asti bergentayangan, Tamin?” tanya seorang pemuda.
Tamin menghela napas panjang. “Kalian anak muda tidak tahu. Pohon beringin itu bukan sekadar pohon. Sejak zaman dulu, orang bilang ada penunggu di sana. Sosok perempuan tua, kadang terlihat muda, kadang menakutkan. Dia suka mengambil jiwa-jiwa yang mati dalam kesedihan.”
Para pemuda saling pandang.
“Kalau Asti mati di pohon itu, berarti jiwanya dijadikan bagian dari penunggu itu,” lanjut Tamin lirih. “Dan sebelum dendamnya selesai, ia akan menuntut darah.”
---
Senja Berdarah di Rumah Krisna
Menjelang senja, Krisna terduduk di sudut kamarnya. Tubuhnya lemah, napasnya tersengal. Ia merasa semua orang menatapnya, meski rumah kosong.
Tiba-tiba jendela terbuka sendiri. Angin dingin menerpa, membawa suara lirih:
> “Kau menertawakan aku… Krisna…”
Krisna menutup telinganya, berteriak. “Maafkan aku! Aku tidak tahu kau akan bunuh diri! Aku tidak tahu, Asti!”
Bayangan putih muncul di depan jendela. Asti berdiri di sana, matanya merah, selendang merah menjuntai di leher.
> “Senja ini… giliranmu…”
Teriakan Krisna mengguncang seluruh rumah. Tetangga berlari, termasuk Jumar yang mendengar dari jauh.
Ketika pintu didobrak, Krisna sudah tergantung di balok kayu rumahnya. Selendang merah melilit lehernya, matanya terbuka menatap kosong ke arah senja.
Di lantai, bubur yang dibawa Lina tadi tumpah, bercampur dengan darah yang menetes dari mulut Krisna.
---
Ketakutan Warga
Warga berteriak histeris. Lina pingsan ketika melihat jasad Krisna. Fadli dan Herdi, yang mendengar kabar itu, semakin kalut.
“Dia sudah datang… Asti akan habisi kita satu per satu…” Herdi berbisik dengan wajah pucat.
Sementara itu, di kejauhan, pohon beringin tampak berguncang, meski tak ada angin. Dari balik rimbunannya, terdengar tawa melengking yang memecah senja.
---
𝐅𝐚𝐝𝐥𝐢 𝐝𝐢 𝐒𝐮𝐧𝐠𝐚𝐢 𝐆𝐞𝐥𝐚𝐩
Setelah kematian Krisna, seluruh desa Lamanungin kian dicekam ketakutan. Fadli hampir gila karena tahu giliran berikutnya mungkin dirinya. Herdi pun tak jauh berbeda; mereka berdua tak lagi berani keluar rumah saat senja.
Namun, rasa bersalah Fadli jauh lebih berat. Dialah yang pertama kali menertawakan Asti, dialah yang paling sering melontarkan olok-olok tentang Zainal.
---
Halimah Mulai Terguncang
Di rumah panggungnya, Halimah—ibu Asti—duduk termangu menatap pintu. Rambutnya kusut, wajahnya pucat.
“Asti… anakku… pulanglah…” bisiknya setiap malam.
Saidin, suaminya, mencoba menenangkan. “Sudah, Limah. Jangan bicara begitu, itu hanya membuat arwahnya semakin kuat.”
Namun Halimah malah menatap tajam. “Kau tahu, Din? Aku dengar suara dia setiap malam. Dia memanggilku ‘Ibu…’ dari arah beringin.”
Saidin terdiam, wajahnya suram. Ia tak berani mengakui, tapi ia juga mendengar suara itu.
---
Pak Juhri Memanggil Orang Pintar
Karena korban bertambah, Pak Juhri akhirnya memutuskan mendatangkan Rasman, seorang orang pintar dari kampung seberang.
Rasman datang dengan pakaian serba hitam, membawa tongkat kayu dan botol berisi minyak wangi.
“Arwah ini tidak sekadar gentayangan,” katanya dengan suara berat. “Ada ikatan dendam dan ada sesuatu yang mengurungnya di sini. Jika ikatan itu tidak diputus, korban akan terus berjatuhan.”
“Bagaimana cara memutusnya?” tanya Imam Suraji.
Rasman menatap pohon beringin dari kejauhan. “Kita harus mencari tahu siapa yang menahannya… dan mungkin jawabannya ada di sungai tempat Zainal hilang.”
---
Fadli Dipaksa Menyusuri Sungai
Malam itu, beberapa pemuda—termasuk Yusuf dan Samsul—dipaksa ikut Rasman menyusuri sungai. Fadli juga didesak ikut.
“Kenapa aku harus ikut?! Ini bukan salahku!” teriak Fadli panik.
Namun Rasman menatapnya tajam. “Justru karena kau yang paling dekat dengan dosa ini. Kalau kau tidak ikut, arwah itu akan lebih cepat menjemputmu.”
Dengan wajah pucat, Fadli akhirnya naik ke perahu bersama Yusuf, Samsul, dan Rasman.
---
Kengerian di Sungai
Perahu melaju pelan di sungai yang gelap. Airnya hitam, seakan menyimpan rahasia.
Tiba-tiba, dari dasar sungai, muncul gelembung-gelembung besar. Bau anyir menyengat.
“Zainal…” bisik Fadli gemetar.
Seketika, bayangan tubuh lelaki muncul di permukaan air. Wajahnya penuh lumpur, matanya kosong, tubuhnya terseret akar-akar hitam. Itu Zainal Tanaku.
“Astiii… aku di sini…” suara seraknya menggema.
Fadli menjerit, hampir jatuh dari perahu. Yusuf berusaha menariknya, tapi tangan dingin tiba-tiba mencengkeram kaki Fadli dari dalam air.
“Aaaaaahhh!” Fadli berteriak, meronta.
Rasman cepat membaca mantra, memercikkan minyak ke sungai. Akar-akar itu terlepas, tapi Fadli sudah kehilangan keseimbangan dan tercebur.
---
Pertemuan Fadli dengan Asti
Di dalam air, Fadli melihat jelas wajah Asti. Rambutnya terurai, gaun putihnya melayang-layang. Selendang merah di lehernya masih melekat.
> “Kau menertawakan aku, Fadli… Kini rasakan penderitaanku…”
Fadli menjerit dalam air, gelembung-gelembung keluar dari mulutnya. Tangannya meronta, tapi tubuhnya ditarik semakin dalam, menuju akar-akar hitam yang melilit Zainal.
“Tidakkk! Maafkan aku, Astiiii!”
Namun, suara tawa melengking memenuhi sungai.
---
Senja Berdarah Kembali
Perahu berguncang keras. Yusuf dan Samsul berteriak histeris, mencoba menarik Fadli. Namun yang muncul ke permukaan hanyalah tubuhnya yang sudah tak bernyawa, wajahnya pucat, lehernya penuh bekas lilitan akar.
Rasman menatap muram. “Dia sudah menjadi tumbal. Arwah itu semakin kuat.”
Yusuf menangis ketakutan. “Kalau begini terus, desa kita bisa habis…”
Samsul hanya bisa terdiam, tatapannya kosong ke arah beringin yang tampak dari kejauhan.
Di puncak pohon itu, sosok Asti terlihat samar, melayang dalam kabut senja, menatap mereka dengan tatapan akhir yang menusuk.
---
𝐇𝐞𝐫𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐚𝐡𝐚𝐬𝐢𝐚 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚
Setelah Fadli ditemukan mati di sungai, desa Lamanungin benar-benar terpuruk. Tiga pemuda yang dulu mengolok-olok Asti kini tinggal satu: Herdi.
Ia berjalan di desa dengan wajah pucat, mata cekung, tubuh gemetar. Semua orang tahu, giliran berikutnya adalah dirinya.
---
Bisikan Janda Tua
Di jalan setapak menuju rumahnya, Herdi dicegat oleh Murni, janda tua penjual jamu yang matanya sayu namun tajam.
“Herdi…” suaranya serak. “Kau tidak bisa lari. Senja sudah menunggumu.”
Herdi menelan ludah. “Jangan bicara begitu, Mak. Aku… aku sudah minta maaf.”
Murni tersenyum miring. “Maaf tak akan menutup mulut arwah yang lapar. Kau lihat saja… di bawah beringin itu, dia sudah memanggil namamu.”
Herdi buru-buru berlari meninggalkan Murni, tapi suara tawanya yang parau terus mengikuti dari belakang.
---
Kedatangan Yati
Sore itu, Yati, sepupu Asti, datang dari desa tetangga. Ia mengenakan kain panjang dengan wajah berduka.
“Kenapa kalian biarkan ini terjadi?” katanya kepada Pak Juhri. “Asti sudah mati dengan tragis. Dan sekarang arwahnya… arwahnya menuntut!”
Imam Suraji mencoba menenangkan. “Kami sedang mencari jalan, Nak Yati. Orang pintar sudah dipanggil.”
Yati menatap pohon beringin dari jauh. “Aku bermimpi Asti setiap malam. Dia bilang sesuatu yang belum selesai. Ada rahasia yang disembunyikan di balik kematian Zainal.”
---
Herdi dan Andi
Malam itu, Andi, sahabat lama Herdi, datang membawakan nasi bungkus.
“Herdi, makanlah. Kau sudah tiga hari tak makan.”
Herdi hanya duduk termenung, menatap dinding. “Aku melihatnya, Di. Setiap malam dia berdiri di sudut kamarku. Selendang merahnya melayang, matanya menatapku. Aku tak bisa tidur…”
Andi menepuk bahunya. “Kau harus kuat. Mungkin ada jalan kalau kau bicara jujur.”
Herdi menoleh cepat. “Jujur tentang apa?”
Namun Andi hanya terdiam. Ia tahu sesuatu, tapi tak berani mengatakannya.
---
Farid dan Tatapan Senja
Sore berikutnya, Farid, anak kecil yang nakal, bermain dekat pohon beringin meski sudah dilarang. Ia membawa gasing kayu dan memutarnya di tanah berlumut.
Saat gasing berhenti, Farid melihat seorang kakak perempuan cantik berdiri di antara akar pohon. Bajunya putih, rambutnya panjang.
“Kakak siapa?” tanya Farid polos.
Perempuan itu tersenyum samar, lalu berjongkok, menatap Farid. Tangannya yang pucat menunjuk ke arah rumah Herdi.
“Pergi ke sana… panggil Herdi keluar…”
Farid mengangguk, lalu berlari kecil menuju rumah Herdi. Ia tidak tahu, sosok yang menatapnya bukan manusia.
---
Senja di Rumah Herdi
Saat langit memerah, Farid tiba di rumah Herdi dan memanggil dengan riang.
“Kak Herdi! Ada yang mau bertemu! Kakak cantik dekat pohon beringin panggil Kakak!”
Herdi yang mendengar itu langsung pucat pasi. Ia menendang kursi, berlari ke pintu, namun kakinya terasa berat.
Dari jendela, ia melihat bayangan putih Asti berdiri di jalan, selendang merahnya berkibar ditiup angin senja.
> “Herdi…” suara lirih itu memanggil. “Saatnya…”
Herdi berteriak, mendorong Andi yang mencoba menahannya. Ia berlari ke dalam rumah, tapi pintu-pintu terbuka sendiri. Angin dingin berhembus, menutup semua jalan keluar.
Andi berusaha membacakan doa, tapi tiba-tiba lampu padam.
Dalam kegelapan, Herdi menjerit panjang.
Ketika lampu kembali menyala, Herdi sudah tergantung di ambang pintu rumahnya, dengan selendang merah melilit lehernya.
Farid menatap dengan polos, tidak mengerti apa yang baru saja ia lihat. Sementara Andi hanya terduduk, menangis histeris.
---
Murni Berbisik di Tengah Warga
Warga berkerumun di rumah Herdi. Murni berjalan pelan melewati kerumunan, matanya menatap jasad Herdi.
“Dia sudah dapat yang ketiga,” bisiknya. “Dan senja belum selesai.”
Tatapannya beralih ke Farid, anak kecil yang masih berdiri di sana.
“Anak itu… sudah disentuh arwah. Hati-hati, mungkin dia yang akan jadi jembatan berikutnya.”
Warga terdiam, ngeri mendengar kata-kata itu.
---
𝐇𝐞𝐫𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐚𝐡𝐚𝐬𝐢𝐚 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚
Setelah Fadli ditemukan mati di sungai, desa Lamanungin benar-benar terpuruk. Tiga pemuda yang dulu mengolok-olok Asti kini tinggal satu: Herdi.
Ia berjalan di desa dengan wajah pucat, mata cekung, tubuh gemetar. Semua orang tahu, giliran berikutnya adalah dirinya.
---
Bisikan Janda Tua
Di jalan setapak menuju rumahnya, Herdi dicegat oleh Murni, janda tua penjual jamu yang matanya sayu namun tajam.
“Herdi…” suaranya serak. “Kau tidak bisa lari. Senja sudah menunggumu.”
Herdi menelan ludah. “Jangan bicara begitu, Mak. Aku… aku sudah minta maaf.”
Murni tersenyum miring. “Maaf tak akan menutup mulut arwah yang lapar. Kau lihat saja… di bawah beringin itu, dia sudah memanggil namamu.”
Herdi buru-buru berlari meninggalkan Murni, tapi suara tawanya yang parau terus mengikuti dari belakang.
---
Kedatangan Yati
Sore itu, Yati, sepupu Asti, datang dari desa tetangga. Ia mengenakan kain panjang dengan wajah berduka.
“Kenapa kalian biarkan ini terjadi?” katanya kepada Pak Juhri. “Asti sudah mati dengan tragis. Dan sekarang arwahnya… arwahnya menuntut!”
Imam Suraji mencoba menenangkan. “Kami sedang mencari jalan, Nak Yati. Orang pintar sudah dipanggil.”
Yati menatap pohon beringin dari jauh. “Aku bermimpi Asti setiap malam. Dia bilang sesuatu yang belum selesai. Ada rahasia yang disembunyikan di balik kematian Zainal.”
---
Herdi dan Andi
Malam itu, Andi, sahabat lama Herdi, datang membawakan nasi bungkus.
“Herdi, makanlah. Kau sudah tiga hari tak makan.”
Herdi hanya duduk termenung, menatap dinding. “Aku melihatnya, Di. Setiap malam dia berdiri di sudut kamarku. Selendang merahnya melayang, matanya menatapku. Aku tak bisa tidur…”
Andi menepuk bahunya. “Kau harus kuat. Mungkin ada jalan kalau kau bicara jujur.”
Herdi menoleh cepat. “Jujur tentang apa?”
Namun Andi hanya terdiam. Ia tahu sesuatu, tapi tak berani mengatakannya.
---
Farid dan Tatapan Senja
Sore berikutnya, Farid, anak kecil yang nakal, bermain dekat pohon beringin meski sudah dilarang. Ia membawa gasing kayu dan memutarnya di tanah berlumut.
Saat gasing berhenti, Farid melihat seorang kakak perempuan cantik berdiri di antara akar pohon. Bajunya putih, rambutnya panjang.
“Kakak siapa?” tanya Farid polos.
Perempuan itu tersenyum samar, lalu berjongkok, menatap Farid. Tangannya yang pucat menunjuk ke arah rumah Herdi.
“Pergi ke sana… panggil Herdi keluar…”
Farid mengangguk, lalu berlari kecil menuju rumah Herdi. Ia tidak tahu, sosok yang menatapnya bukan manusia.
---
Senja di Rumah Herdi
Saat langit memerah, Farid tiba di rumah Herdi dan memanggil dengan riang.
“Kak Herdi! Ada yang mau bertemu! Kakak cantik dekat pohon beringin panggil Kakak!”
Herdi yang mendengar itu langsung pucat pasi. Ia menendang kursi, berlari ke pintu, namun kakinya terasa berat.
Dari jendela, ia melihat bayangan putih Asti berdiri di jalan, selendang merahnya berkibar ditiup angin senja.
> “Herdi…” suara lirih itu memanggil. “Saatnya…”
Herdi berteriak, mendorong Andi yang mencoba menahannya. Ia berlari ke dalam rumah, tapi pintu-pintu terbuka sendiri. Angin dingin berhembus, menutup semua jalan keluar.
Andi berusaha membacakan doa, tapi tiba-tiba lampu padam.
Dalam kegelapan, Herdi menjerit panjang.
Ketika lampu kembali menyala, Herdi sudah tergantung di ambang pintu rumahnya, dengan selendang merah melilit lehernya.
Farid menatap dengan polos, tidak mengerti apa yang baru saja ia lihat. Sementara Andi hanya terduduk, menangis histeris.
---
Murni Berbisik di Tengah Warga
Warga berkerumun di rumah Herdi. Murni berjalan pelan melewati kerumunan, matanya menatap jasad Herdi.
“Dia sudah dapat yang ketiga,” bisiknya. “Dan senja belum selesai.”
Tatapannya beralih ke Farid, anak kecil yang masih berdiri di sana.
“Anak itu… sudah disentuh arwah. Hati-hati, mungkin dia yang akan jadi jembatan berikutnya.”
Warga terdiam, ngeri mendengar kata-kata itu.
---
𝐑𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐏𝐨𝐡𝐨𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧
Malam itu, seluruh desa Lamanungin berkumpul di dekat pohon beringin tua.
Udara terasa berat, angin kencang berputar seakan menolak kedatangan mereka.
Rasman, orang pintar yang dipanggil, berdiri paling depan.
Di sampingnya ada Murni yang membawa kendi berisi air kembang, serta Imam Suraji yang menggenggam kitab doa.
Pak Juhri, Saidin, Halimah, Yusuf, Samsul, Andi, dan warga lain berdiri melingkar dengan wajah tegang.
“Arwah Asti tidak bisa pergi,” kata Rasman dengan suara lantang.
“Dia terikat dendam bukan hanya pada tiga pemuda yang mengoloknya. Ada luka yang lebih dalam: kematian Zainal Tanaku. Malam ini kita akan meminta penjelasan darinya.”
---
Ritual Dimulai
Murni menaburkan bunga tujuh rupa di bawah akar beringin. Rasman menyalakan dupa, asap pekat melayang.
Imam Suraji mulai membaca doa, sementara Rasman menancapkan tongkat kayu ke tanah.
Suasana sunyi. Bahkan jangkrik pun tak terdengar.
Tiba-tiba, angin berputar kencang.
Dari balik kabut asap, sosok perempuan berbaju putih muncul perlahan: Asti Manairingrum.
Wajahnya pucat, matanya memerah, dan selendang merahnya terikat di leher.
“Kenapa kau masih di sini, Asti?” seru Imam Suraji dengan suara bergetar.
“Arwah yang tenang seharusnya pulang.”
Asti menatapnya lama.
> “Aku tidak bisa pergi… sebelum kebenaran Zainal terungkap. Dia tidak mati karena laut… dia mati karena manusia.”
Warga saling pandang, sebagian menutup mulut menahan jeritan.
---
Rahasia Kematian Zainal
Asti menunjuk ke kerumunan. Jemarinya gemetar, matanya menyala merah.
“Zainal… dikhianati. Ada yang menjatuhkannya ke laut. Dia tidak tenggelam karena badai… dia ditenggelamkan.”
Pak Juhri melangkah maju. “Siapa orang itu, Asti?”
Asti menoleh, lalu menatap seseorang di antara warga.
Sorot matanya berhenti tepat pada Andi.
Semua orang terperangah. Andi mundur beberapa langkah, wajahnya pucat.
“Bukan aku!” teriak Andi panik. “Aku… aku hanya ada di perahu waktu itu!”
“Katamu Zainal terpeleset!” bentak Yusuf, sahabatnya. “Jangan bilang kau…”
Andi gemetar, lalu berlutut. “Aku… aku tidak bermaksud! Waktu itu aku iri pada Zainal… dia tunangan Asti… sementara aku…”
Air matanya jatuh. “Aku dorong dia… aku pikir dia bisa berenang kembali. Tapi arus menyeretnya… aku takut, aku bohong bilang dia jatuh sendiri…”
Seluruh warga terdiam ngeri.
Halimah berteriak histeris, mencoba menyerang Andi, namun ditahan Saidin.
---
Asti Menuntut
Sosok Asti menunduk, lalu menatap Andi dengan tatapan mengerikan.
> “Kau… yang merenggut hidup Zainal… Kau juga yang membuatku kehilangan segalanya…”
Andi menjerit, “Maafkan aku, Asti! Aku tidak ingin kau mati!”
Namun Asti hanya tersenyum dingin. Selendang merahnya menjulur panjang, melilit tubuh Andi meski ia masih hidup.
Andi terjatuh, tubuhnya terangkat di udara, lalu tercekik hingga mati di depan seluruh warga.
Semua orang berteriak panik.
Rasman berusaha memutus ikatan dengan bacaan mantra, namun selendang itu hanya mengencang hingga Andi terdiam tak bernyawa.
Asti menoleh pada warga.
> “Bukan hanya olokan yang kubalas… dendam Zainal juga harus terbayar. Aku belum selesai…”
Lalu sosoknya menghilang bersama kabut.
---
Warga Ketakutan
Setelah ritual itu, jasad Andi dikuburkan dengan tergesa.
Namun seluruh desa tahu, arwah Asti kini semakin kuat.
Ia tidak hanya memburu para pengolok, tapi juga pembunuh tunangannya.
Murni berbisik lirih, “Sekarang arwahnya bisa menjemput siapa saja yang masih terkait dengan peristiwa itu. Jangan pernah keluar saat senja… karena tatapan terakhirnya adalah ajal.”
Pak Juhri dan Imam Suraji menatap warga.
“Akan kita buat aturan baru. Mulai besok, tidak ada seorang pun yang boleh keluar rumah setelah jam 5 sore. Itu satu-satunya cara agar kita bisa bertahan.”
---
𝐋𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚
Sehari setelah kematian Andi yang mengerikan di bawah beringin, wajah desa Lamanungin benar-benar berubah.
Warga tidak lagi duduk di beranda, tidak ada anak-anak bermain di jalan tanah merah, tidak ada suara obrolan di warung kopi Pak Yusuf.
Pukul lima sore, gong tua di balai desa dipukul tiga kali oleh Saidin.
Suara dentang itu menjadi tanda: semua orang harus pulang ke rumah. Tidak boleh ada yang berkeliaran setelah senja.
---
Tanda Larangan
Pak Juhri, Kepala Desa, memasang tanda-tanda larangan di perbatasan desa:
“Batas Senja. Setelah jam 5 sore, jangan melewati jalan ini. Yang melanggar, nyawanya jadi taruhan.”
Bambu kuning dipasang sebagai penanda, dan di tiap sudut desa ditancapkan dupa serta janur kuning.
Imam Suraji memimpin doa agar perlindungan Tuhan menaungi setiap rumah.
Namun di hati warga, ketakutan tetap membara.
Mereka tahu, aturan ini bukan hanya simbol — melainkan benteng terakhir dari teror arwah Asti.
---
Malam Pertama Larangan
Malam pertama larangan senja, desa benar-benar sunyi.
Pintu-pintu terkunci, lampu minyak dipadamkan agar tidak menarik perhatian.
Hanya suara angin yang menggerakkan daun-daun pisang di halaman.
Tiba-tiba, suara tangisan perempuan terdengar dari arah pohon beringin.
Tangisan lirih, lalu semakin keras.
“Zaaii… naaal…”
Suara itu memanggil nama tunangannya.
Halimah, yang rumahnya tak jauh dari beringin, menggigil ketakutan sambil memeluk anaknya.
Ia mendengar suara langkah kaki menyeret di luar rumahnya.
Ketika ia intip dari celah jendela, terlihat kain putih panjang melayang tertiup angin, lalu menghilang di tikungan jalan.
---
Farid Melanggar
Namun tidak semua patuh. Farid, anak kecil yang polos, tidak tahan dikurung di rumah.
Ia menunggu ibunya tertidur, lalu diam-diam membuka pintu dan keluar sambil membawa gasing kesayangannya.
Di jalan sunyi, ia memutar gasing kayu itu.
Tiba-tiba, gasing berhenti bukan karena jatuh, melainkan seolah diinjak seseorang.
Farid mendongak, dan di depannya berdiri Asti, wajah pucat dengan selendang merah yang melayang.
“Ayo ikut Kakak, Farid…” bisiknya halus. “Kita main di bawah pohon beringin.”
Farid tersenyum polos dan hendak mengikuti.
Namun tiba-tiba suara keras terdengar, “Farid! Masuk ke rumah sekarang juga!”
Itu suara Samsul, pemuda desa yang kebetulan berjaga di balai. Ia berlari dan menarik Farid.
Namun ketika menoleh ke arah Asti, sosok itu sudah hilang.
Hanya terdengar tawa pelan, meninggalkan hawa dingin yang menusuk tulang.
---
Pertanda Korban Baru
Keesokan paginya, warga menemukan bekas tapak kaki basah di tanah, mengarah dari sungai menuju desa.
Di setiap tapak, ada jejak darah tipis.
Murni, si janda tua, menunduk sambil bergumam.
“Dia belum selesai… Dia masih mencari. Korban berikutnya… bukan anak kecil. Tapi orang yang dulu ikut menyembunyikan kebenaran tentang Zainal.”
Semua mata memandang satu sama lain.
Ketakutan merayap. Siapa lagi yang tahu rahasia itu?
Dan siapa yang akan jadi korban berikutnya?
---
Bayangan di Senja
Hari itu, gong kembali dipukul pukul lima sore.
Semua warga bergegas masuk rumah, pintu ditutup rapat.
Namun Pak Juhri, Imam Suraji, Murni, dan Rasman tetap berjaga di balai desa.
Dari kejauhan, mereka melihat bayangan putih berdiri di bawah beringin.
Kali ini, Asti tidak hanya menangis. Ia menoleh ke arah balai desa, menatap mereka dengan mata merah menyala.
“Giliran siapa?” bisik Murni dengan suara serak.
Rasman menggenggam tongkatnya erat-erat.
“Aku rasa… korban berikutnya bukan sembarang orang. Dia akan menjemput yang paling berdosa dalam rahasia malam itu.”
---
( 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠)......
𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 : 𝐌𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐝𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐨𝐬𝐚 , 𝐧𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐰𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐢𝐚𝐥𝐚𝐡 " 𝐊𝐚𝐫𝐦𝐚 ".
𝔸𝕂𝔸ℕ 𝕊𝔸𝕐𝔸 𝕄𝔼𝕃𝔸ℕ𝕁𝕌𝕋𝕂𝔸ℕ 𝔻𝔸𝕃𝔸𝕄 𝕊𝔼𝔹𝕌𝔸ℍ ℕ𝕆𝕍𝔼𝕃 𝔻𝔸ℝ𝕀 𝕌ℝ𝔹𝔸ℕ 𝕃𝔼𝔾𝔼ℕ𝔻???