Aku memandang ke luar jendela. Tepat di depan sana ada sebuah rumah yang dulunya kosong, terpaut oleh pagar tembok setinggi tiga meter.
Dan sejak kemarin ada penghuni barunya. Sepasang suami istri dan seorang anak perempuan. Anak perempuan itu sebaya denganku. Tapi kemarin saat Aunty Freya berkunjung ke rumahku-mengenalkan diri selaku tetangga baru-anaknya tidak ikut. Aunty bilang bahwa putrinya sedang sakit, jadi tidak bisa ikut.
Aku berdiri. Mengambil mantel dan menenteng sepatu boots hitam . Aku tidak melihat siapapun sejak aku keluar kamar dan menuruni tangga. Seingatku tidak ada orang rumah yang berpamitan pergi.
Lantas kemana mereka? Ahh, iya, paling sedang sibuk di halaman belakang.
"Mom? Dad?" panggilku keras. Tidak ada sahutan, mungkin mereka tidak dengar.
"Aku pergi main ke rumah Arabelle, ya!" tanpa pusing-pusing menunggu jawaban aku langsung pergi.
Aku menatap pagar besi yang menjulang di depan rumah Arabelle. Gadis pindahan yang kuceritakan tadi. Setelah ditinggal pemilik sebelumnya, rumah ini terlantar.
Lihat saja, warna catnya yang kusam, dengan lumut yang tumbuh di bagian bawah tembok, lalu pagar besi yang berkarat. Orang tua Arabelle pasti belum sempat merenovasi rumah dua lantai dengan loteng ini. Karena mereka baru saja beli dan keburu harus pindah.
Aku menekan tombol bel. Tak lama kemudian seorang wanita ramping seumuran dengan mommy-ku datang membukakan pagar. Dia tersenyum ramah. Aku membalas senyumnya.
"Wahh, Kimberly! Aunty senang sekali kau datang berkunjung," sapa Aunty Freya.
"Hi, Aunty! Arabelle ada?" tanyaku langsung.
"Ada, dia di kamarnya, ayo masuk!"
Aunty Freya merangkul bahuku, mengajakku masuk ke rumahnya. Hawa aneh terasa di sekitarku, dan semakin mencengkam setelah aku melewati pintu. Tapi aku diam saja. Berusaha untuk tidak menunjukkan reaksi aneh yang mungkin akan menyinggung.
Aunty memintaku untuk duduk di sofa ruang tengah, karena ruang tamunya masih kosong tanpa perabotan. Aunty kemudian pergi ke kamar Arabelle yang ada di lantai satu ini.
Tak lama kemudian sesosok gadis berambut panjang keluar. Dia duduk di kursi roda dengan pakaian serba putih-mirip pakaian rumah sakit. Aunty Freya mendorong kursi roda putrinya mendekat ke arahku.
Aku tersenyum, berusaha terlihat normal, walau naluriku mengatakan ada yang aneh di sini.
"Hi, Arabelle! Namaku Kimberly, Aku tinggal di rumah sebelah," ujarku mengawali perkenalan.
Arabelle tidak melihatku. Gadis berkulit pucat itu setia menunduk. Dan hal itu membuatku merasa semakin canggung.
"Ahh, maaf ya Kim, Ara memang orangnya pendiam. Dia pasti malu bertemu dengan orang baru," jelas Aunty Freya. Merasa bersalah atas sikap putrinya yang acuh tak acuh padaku.
"Tidak apa-apa, Aunty. Aku juga kadang begitu, kok."
"Bagaimana kalau kalian mengobrol berdua dulu, Aunty mau ambil jus dan kue dulu, ya," pamit Aunty.
Aku mengganguk. Aunty pun segera pergi ke dapur. Aku kembali menatap Arabelle. Baju putihnya terlihat rapi, tapi rambut panjangnya kusut. Seperti belum disisir. Dan melihat kulit pucatnya, aku yakin Arabelle tidak pernah keluar dari rumah.
"Ara? Kau..eh, apa hobimu?" tanyaku kikuk. Suasana rumah yang asing dan kurangnya respon Arabelle membuatku gugup.
"Kalau aku suka bersepeda, kau belum tahu kan kalau kota ini indah sekali, kau harus mencoba untuk jalan-jalan, ya.." ujarku. Sedikit memelan di bagian akhir. Aku takut Arabelle tersinggung.
"Hei!" suara serak yang datar itu tiba-tiba mengusik pendengaranku. Dan entah mengapa aku merasa merinding.
"Apa kau baru saja bicara?" tanyaku memastikan.
"Apa kau mau jadi temanku?" suara serak Arabelle kembali muncul.
Bulu kudukku meremang. Aku menunduk, melihat kedua telapak tanganku yang basah oleh keringat dingin.
"Apa kau mau jadi temanku?"
Aku tersentak. Saat wajahku terangkat, mataku bertemu dengan iris gelap Arabelle. Seketika aku mematung.
Wajah itu...begitu pucat, seolah tidak ada aliran darah di sana. Aku menelan ludah, iris gelap Arabelle begitu dalam. Kosong dan tajam.
"Aku...ak-aku, tentu saja, tentu saja aku mau.." jawabku terbata.
***
Walau sudah beberapa hari yang lalu perkenalan itu terjadi, entah mengapa aku masih merasa aneh. Dengan rumah Arabelle, atsmosfer hunian itu, sikap Arabelle, dan tentu saja.. keadaan Arabelle itu sendiri.
Dan sejak hari di mana aku menyetujui permintaan Arabelle untuk menjadi temannya, aku merasa takut. Seolah aku seharusnya tidak melakukan itu. Seolah semua itu salah.
Aku mengayuh sepedaku lebih cepat. Hari ini mommy mau memasak Shepherd's Pie-makanan yang dibuat dari domba dan kentang cincang, tetapi bisa juga dibuat dari daging sapi. Itu makanan kesukaanku, dan setiap mommy membuatnya aku pasti akan gagal diet.
Karena ini musim dingin maka jalanan pun basah dengan lapisan es tipis di atasnya. Dan ternyata kecerobohanku terjadi hari ini.
Aku memaksa sepedaku menukik tajam di tikungan. Dan rem pun tidak akan berfungsi meski aku menekannya sekuat tenaga.
Bruakk
Sepedaku tergelincir. Aku jatuh terjerembab, lengan kananku membentur aspal dengan keras. Darah segar mengotori rambut pirangku.
Saat aku mendongak, meski hanya buram tapi aku bisa melihat dengan samar, bahwa ada truk yang menuju ke arahku. Aku hanya bisa menutup mata pasrah.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku menutup mata. Karena sudah tidak merasakan apa-apa, aku membuka kelopak mataku.
Awalnya silau, tapi lama kelamaan retinaku bisa menyesuaikan. Pemandangan pertama yang kulihat adalah...
Arabelle. Gadis itu di sana. Duduk di atas kursi roda. Setia dengan pakain serba putihnya dan wajah pucatnya. Wajah yang tidak menampilkan ekspresi sedikit pun.
Aku berjalan mendekatinya. "Kenapa? Ada apa?" tanyaku bingung.
Arabelle tersenyum. Untuk pertama kalinya. Dan aku yakin itu bukan senyum baik, tapi senyuman bengis.
"Kau sudah jadi temanku...untuk selamanya!" ujarnya. Lalu dia tertawa dengan kencang. Mengabaikan diriku yang masih kesulitan mencerna situasi.
"Lihat di sana!" Arabelle menunjuk.
Aku melihat ke arah yang dia maksud. Tunggu, itu adalah rumahku. Jadi aku ada di...rumah Arabelle? Bagaimana bisa?
Aku menatap rumahku yang ramai oleh orang dan wajah Arabelle bergantian. Masih tidak mengerti situasi ini.
"Kau sudah jadi temanku, Kimberly..." bisiknya.
Seketika baru kusadari. Bahwa semua luka yang kuperoleh sudah hilang, kini tergantikan oleh rasa hampa. Bahwa orang-orang yang mengerumuni rumahku semuanya berpakaian hitam.
Dan yang paling penting, Arabelle ternyata memegang pigura dengan foto diriku yang berbingkai darah. Oh, shit!
Kau jadi milikku selamanya, Kimberly!