Sebagai seorang Idol, Calvin Dion sosok yang sedang di gilai remaja saat ini, ia selalu di puja-puja oleh semua orang. Saat ini, ia akan segera merilis film barunya yang bertajuk Sweet Enemy. Film itu sangat ditunggu-tunggu oleh para fans-nya yang jumlahnya semakin bertambah saja semakin hari.
"Cal, bagaimana dengan tawaranku agar kamu bermain di sebuah reality show, kamu tertarik?" tanya seorang pria yang sejak kemarin, tidak berhenti mengikuti Calvin, hanya untuk menawari Calvin pekerjaan.
"Tidak."
Calvin tetap saja menolak. "Buat apa aku ikut acara seperti itu. Apa nama reality show mu itu?"
"Ah, kamu pasti akan bertambah terkenal. ini sangat bagus untuk karirmu." Orang itu tidak berhenti membujuk Calvin. Berharap artis papan atas itu akan menerima tawarannya.
"Aku sudah terkenal, lagipula aku tidak mau ikut acara seperti itu," tolak Calvin yang tetap pada pendiriannya.
"Cal, My Sweet Idol adalah terobosan baru, aku yakin kamu yang akan membuat reality show ini meledak! Akan ada banyak Fangirl yang ikut serta nanti."
"Hahaha, merepotkan." Calvin menggeleng.
"Ayolah, Calvin." Pria bernama Pak Satria itu tidak pernah menyerah, baginya hanya Calvin yang cocok untuk ikut serta dalam programnya kali ini.
"Astaga. Pak Satria, bisakah kamu cari aktor lain? Bukankah masih banyak yang lebih oke dibandingku?" ucap Calvin sambil mengenakan kacamatanya. Ia bergegas bangun, dan bermaksud pergi meninggalkan tempat itu.
"Calvin, hanya kamu yang aku inginkan. Aku mohon, tidak ada yang cocok selain kamu."
Tentu saja, mengingat popularitas Calvin yang luar biasa, sudah pasti Pak Satria berharap rating acaranya akan meledak karena keikutsertaan Calvin di dalam programnya.
"Huh, aku akan mempertimbangkannya. Berikan proposalnya, biar aku pelajari. Kalau saja tidak karena kamu telah banyak membantuku dulu, maka aku tidak akan mau. Jujur, aku malah ingin pensiun saja dari dunia hiburan. Aku lelah," dengus Calvin.
"Kamu tidak boleh seperti itu, Cal. Kamu satu-satunya aktor yang begitu rendah hati dan juga memiliki prestasi tanpa cacat. Kamu harus terus maju," ungkap Pak Satria.
Calvin hanya tersenyum tipis. "Mana proposalnya?" tanyanya lagi.
Pak Satria pun memberikan sebuah map berisikan proposal mengenai program acara yang akan ia buat. Bertuliskan, My Sweet Idol. Itu adalah judul dari program tersebut.
"Baiklah, aku akan menelepon jika sudah mendapatkan keputusan, jangan terlalu berharap." Calvin pergi meninggalkan Pak Satria, dan ia pun memasukkan map tersebut ke dalam tasnya.
"Huh, aku ingin segera sampai ke apartemen." Calvin berjalan menuju tempat parkir mobilnya.
"Cal, semoga kamu mau menerimanya. Aku hanya ingin kamu yang memerankan tokoh idol itu." Pak Satria tidak pernah merasa ragu, baginya sosok Calvin adalah orang yang paling tepat untuk acaranya itu.
***
Apartemen Calvin Dion.
"Astaga, lelahnya. Aku ingin libur walau hanya satu hari saja. Besok masih ada jadwal pemotretan. Tunggu dulu, Pak Satria bilang kalau di acaranya, aku dapat berlibur dan bersantai keluar kota. Karena acaranya akan dibuat dengan konsep natural, apakah aku terima saja pekerjaan ini ya? Lumayan, aku bisa mengatakan untuk tidak membuat jadwal acara lain, aku akan fokus pada acara ini." Calvin bergumam, sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding ranjangnya.
"Hm, benar juga. Kalau begitu, aku mandi dulu setelah itu aku akan menelpon Pak Satria," ucapnya sambil membuka pakaiannya menuju kamar mandi.
**
Di rumahnya, Pak Satria mondar-mandir sambil memandangi ponselnya yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Ia menunggu Calvin meneleponnya.
"Kenapa belum juga ada telepon? Berapa lama kira-kira ia akan menghubungi aku?" ucapnya merasa cemas, tak sabar ingin mendengar jawaban Calvin.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Alangkah terkejutnya ia sampai menjengit, kaget.
"Astaga, jantungku hampir copot." Sambil mengusap dadanya, ia segera meraih ponsel. Ditatapnya layar sentuh tersebut. Betapa kagetnya lagi, saat ia tahu itu adalah panggilan dari Calvin.
"Ya Tuhan, Cal-Cal-Calvin!" Satria terbata-bata.
"Lama sekali sih, kenapa belum juga diangkat!" Calvin berdecak kesal, sambil menunggu, Pak Satria mengangkat panggilannya.
Halo ...
Suara Satria dari ujung telepon.
Kenapa lama sekali, mengangkatnya !
Calvin merasa kesal. Tapi, Satria langsung meminta maaf. Ia mengatakan bahwa dirinya hampir tidak percaya bahwa Calvin akan langsung menghubunginya. Tentu saja, ia pikir Calvin bahkan tidak akan menelponnya. Meskipun, ia memang menunggu telepon tersebut.
Aku mau menerima tawaranmu.
Seketika, Satria seperti disengat listrik.
Apa? Be-benarkah?
Rasanya, Satria tidak percaya.
Kamu mau menerimanya, Cal?
Calvin menggaruk alisnya.
Ya, apa kamu tidak jadi menyewaku?
Astaga. Mana mungkin!
Satria sampai tidak dapat berkata-kata lagi, intinya ia bahagia karena Calvin mau menerima tawarannya.
Telepon itu pun terputus, setelah keduanya sepakat menandatangani kontrak di kantor Satria besok. Calvin juga akan mulai shooting esok harinya.
***
Keesokan harinya.
"Cal, jadi hari ini kamu akan bertemu dengan seorang wanita, dimana ia adalah gadis yang akan menjadi partner-mu dalam acara My Sweet Idol ini," tutur Satria.
"Hm, apa dia adalah fans-ku?" tanya Calvin.
"Bukan, dia justru sebaliknya. Dia tidak mengenal kamu."
Calvin yang tadinya tidak fokus mendengarkan, mendadak terkejut.
"Apa? Tidak mengenalku? Maksudmu, tunggu dulu. Apa dia tidak kenal aku?"
Tentu saja ini agak lucu bagi Calvin. Meskipun ia tidak merasa dirinya populer, tapi ia merasa lucu ketika ada orang yang tak mengenal dirinya. Apalagi seorang gadis.
"Astaga. Berapa umurnya? Jangan bilang dia sudah tua?" tambah Calvin.
Satria terkekeh. "Dia masih muda, baru 20 tahun dan dia cantik."
Calvin kembali terheran, "dia benar tidak kenal aku?" ulangnya.
Satria mengangguk. "Ya, benar. Jadi ini adalah konsepnya. Kamu akan membuat gadis tersebut berubah jadi mengidolakan kamu setelah ia bersamamu selama seminggu di sebuah pulau pribadi yang telah kami sewa."
"Pulau? Kamu menyewa pulau untuk acara ini?" Satria tampak bertambah kaget.
"Ya, ini demi keberhasilan acara ini. Menurutku, menyewa sebuah pulau adalah konsep yang romantis dan sweet, seperti tema program ini." Satria menerangkan hal itu kepada Calvin.
"Baiklah. Aku akan ikut saja, yang terpenting aku ingin liburan," ucap Calvin.
Satria tersenyum simpul. "Ini bukan sekedar liburan, ini akan membuatmu merasa lebih bahagia lagi. Kehidupanmu sebagai aktor, pasti membuatmu kesulitan mendapatkan waktu untuk dirimu sendiri, untuk sekedar membuat dirimu bahagia. Bukan, begitu?"
Kali ini Calvin setuju dengan kata-kata Satria, ia tersenyum dan mengangguk. "Benar, aku lelah."
Satria mengambil sebuah lembaran berisikan data diri gadis yang akan menjadi partnernya dalam acara tersebut.
"Baca dulu, dia adalah Aluna, bisa kamu panggil Luna."
Calvin meraih kertas tersebut, ia melihat data-data yang normal, seorang gadis 20 tahun, menyukai coklat dan sesuatu yang manis. Suka menyendiri, dan tidak suka keramaian. Sepertinya itu yang agak membuat Calvin memikirkan kenapa gadis itu mau menerima ajakan bermain di realiti show ini, padahal ia seorang yang suka menyendiri.
"Hm, kenapa dia mau mengikuti acara ini? Disini tertulis bahwa dia tidak menyukai keramaian, dan suka menyendiri." Calvin menatap lurus ke mata Satria.
"Ya, karena hal itu tidak terduga sebelumnya. Saat itu aku sedang membutuhkan seorang gadis untuk menjadi partnermu dalam acara tersebut, tapi sangat sulit mencari gadis yang awalnya tidak mengenal dirimu, Cal. Sampai akhirnya, aku bertemu Luna, disebuah rumah sakit. Ia sedang menangis sendirian di kursi tunggu pasien, kebetulan aku baru saja menjenguk teman. Lalu, aku bertanya padanya, dan dia berkata bahwa ibunya sedang butuh biaya untuk operasi. Tapi, ia tidak memiliki uang sebanyak itu, aku pun merasa kasihan padanya, entah kenapa saat melihatnya aku malah kepikiran bertanya padanya dengan menunjukkan fotomu, dan secara mengejutkan dia menggeleng, dia mengatakan bahwa dia tidak tahu siapa kamu, di situ aku merasa ini jawaban, bahwa ia adalah sosok yang paling tepat untuk program ini," tutur Satria.
Calvin mendengarkan dengan seksama, lalu ia kembali mengajukan pertanyaan.
"Lalu, apa kamu menawarkan uang untuk operasi ibunya, lalu meminta dia ikut program acaramu?"
Satria mengangguk. "Dia merasa terbantu dan dia bersedia, saat ini ibunya bahkan sudah menjalani operasi dengan lancar, dia sedang diperjalanan menuju kesini," jawabnya.
Calvin terdiam, baginya itu cukup masuk akal. Satria mengambil keuntungan, tapi gadis itu juga merasa terbantu, sehingga itu sama seperti simbiosis mutualisme, baginya. Hanya saja, ia tidak menyangka, dan merasa ini menarik bahwa ada gadis yang bahkan tidak mengenalnya.
Suara ketukan pintu terdengar, tak lama Satria membuka pintu, dan seorang gadis berusia 20 tahun itu sedang berdiri menunggu dengan senyuman manisnya.
"Selamat siang," ucapnya lembut.
"Siang, Luna. Ayo masuk," ajak Satria.
Luna mengangguk. "Iya, terima kasih."
Satria pun mengajak Luna menemui Calvin yang sedang duduk sambil memandangi ponselnya, ia menekan tombol switch off pada layar ponselnya, sambil merasa kesal karena terus diberikan setumpuk jadwal oleh manajernya.
"Cal, kenalkan ini Luna. Luna, kenalkan ini Calvin, yang akan menjadi partnermu dalam program acara ini," tutur Satria.
Calvin mengangkat wajahnya, ia terpana melihat wajah Luna, yang baginya sangat manis. Padahal, banyak wanita yang mengejarnya, tapi kenapa wajah Luna baginya begitu lembut dan juga memiliki aura yang begitu manis.
"Hai, aku Luna." Gadis itu mengulurkan tangannya pada Calvin.
"Ah, iya. Aku Calvin," jawab Calvin kaku. Ini seperti bukan dirinya, mengapa ia malah merasa gugup.
Keduanya pun saling melempar senyum. Satria merasa chemistry antara keduanya akan lebih mudah terbangun, setelah melihat reaksi mereka yang cukup positif, di permukaan keduanya bertemu. Mereka pun akhirnya segera bergegas menuju ke sebuah pulau yang telah disewa untuk acara tersebut, setelah Satria menjelaskan bagaimana susunan acaranya hingga mengharuskan keduanya tinggal dalam satu rumah, seperti resort dengan satu kamar. Tentu saja, Calvin dan Luna merasa canggung karena bagaimana bisa keduanya tidur dalam satu kamar? Untunglah, Calvin menemukan solusi dengan memilih tidur di sofa. Meskipun begitu, Calvin sejujurnya merasa bahagia di pulau itu, karena baginya pulau itu teramat indah dan yang terpenting dapat memberikan ketenangan untuknya.
Satu hari mereka lewati hanya untuk saling mengenal satu sama lain, keduanya mengobrol layaknya teman, tentu saja kamera selalu sedia merekam aktifitas mereka, acara itu mengedepankan interaksi sehari-hari antara Calvin dan Luna, yang ternyata benar-benar tidak mengenal sosok Calvin yang adalah seorang aktor ternama. Awalnya, Calvin merasa tidak percaya, tapi Luna menjelaskan, bahwa dirinya tidak punya waktu mengenal aktor. Jangankan membaca sosial media, menonton tv saja tidak pernah, karena hidupnya dipenuhi dengan setumpuk pekerjaan. Ia harus menjadi tulang punggung keluarga, mencari pekerjaan paruh waktu, demi mencari nafkah.
Calvin merasa kagum, karena Luna adalah gadis pekerja keras, berbeda dengan banyak gadis yang ia kenal kebanyakan. Baginya itu sangat menarik, bahkan Calvin malah merasa ingin tahu lebih banyak tentang Aluna Cantika.
"Luna, apa kamu suka coklat?" tanya Calvin sambil tersenyum menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya.
Luna tersenyum, "coklat? memangnya kenapa?"
"Hm, aku baca di bio mu. Bahwa kamu suka coklat, kebetulan aku punya coklat, ini dari fans. Tapi, aku ingin memberikan ini kepadamu, jujur saja Luna, aku merasa aku mulai ingin menjadi fans-mu."
Calvin begitu terus terang. Membuat Luna menjadi malu dan tidak enak, ia malah salah tingkah.
"Calvin, kamu ngomong apa, sih."
"Ambil coklat ini, anggaplah ini pemberian fans pertamamu, yaitu aku."
"Tapi, aku bukan artis. Bukannya seharusnya aku yang menjadi fansmu?" tanya Aluna polos.
"Lun, memangnya kamu mau menjadi fansku? Jujur, aku suka karena kamu tidak mengaliku sebelumnya. Bagiku, itu sangat menarik," ucap Calvin.
Luna terdiam, ia tidak mengerti apa yang dimaksud Calvin, ini adalah hari kelima, mereka berada di pulau itu. Dua hari lagi, acara ini akan berakhir. Sejumlah kegiatan telah mereka lakukan bersama, acara ini pun sukses besar, karena ditayangkan secara langsung selama tujuh hari kedepan, dari semenjak keduanya menginjakkan kaki di pulau tersebut.
Satria, merasa acaranya akan sukses besar terlebih ia melihat Calvin begitu menikmati programnya kali ini.
"Calvin, aku nggak paham maksud kamu apa. Tapi, makasih ya coklatnya," ucap Luna ramah.
Calvin meraih tangan Luna, lalu menggenggamnya. Kedua mata mereka saling beradu pandang. Luna menatap tangannya, yang sedang digenggam erat oleh Calvin.
"Calvin, ini?"
Calvin mengecup punggung tangan Aluna.
"Kamu? Ini bagian dari naskah ya?" tanya Luna yang mengira ini adalah bagian yang harus mereka lakukan dalam acara tersebut, karena kamera selalu On untuk merekam aktifitas mereka.
"Enggak, Lun. Sebenarnya ini tidak ada di naskah sama sekali, Luna, aku suka kamu."
Deg
Luna tak percaya apa yang baru saja ia dengar.
"A-apa?"
"Iya, Aluna Cantika, aku Calvin Dion, menyatakan perasaanku, meskipun kita baru lima hari bersama di sini, dalam acara reality show. Aku merasa tertarik, dan bukan sekedar ketertarikan biasa. Aku merasa kamu baik, dan juga berbeda dari gadis lainnya, apa kamu mau menerima perasaan ini?"
Luna langsung melepas genggaman tangan Calvin, ia menggeleng cepat. Baginya, hal ini tidak boleh terjadi.
"Enggak, Cal. Kamu pasti becanda. Aku mau masuk ke kamar dulu ya," ujar Luna yang langsung meninggalkan Calvin.
Satria terkejut, padahal ia merasa ini adalah momen yang langka, sepertinya Calvin jatuh cinta pada partner mainnya, dan ini sangat bagus untuknya.
"Kenapa, Luna kok malah meninggalkan Calvin?" gumam Satria. Ia melihat Calvin mengetuk pintu kamar Luna, tapi Luna tidak juga mau merespon.
"Ah, apa aku terlalu cepat? Tapi, aku merasa yakin dengan perasaannku." Calvin mengacak rambutnya, ia merasa kesal karena Luna malah pergi darinya begitu saja. Padahal, baru kali ini ia merasa begitu tertarik pada seorang wanita.
Keesokan harinya. Ini adalah hari terakhir Luna dan Calvin berada di pulau pribadi tersebut. Luna dan Calvin hari ini akan dijadwalkan bermain di pinggir pantai. Mereka akan berjalan-jalan berdua sambil mengobrol, saat itu tentu saja Calvin menggunakan kesempatan tersebut untuk menanyakan perihal masalah kemarin.
"Luna, apa kamu marah?" tanya Calvin.
Luna menggeleng. "Enggak, kok."
"Terus, kenapa kamu lari?" tanya Calvin lagi.
"Hm, aku merasa tidak cocok dengan kamu." Luna begitu terus terang, ia merasa dirinya berbeda dengan Calvin, meskipun jujur saja Calvin adalah sosok yang sempurna, buatnya.
Tapi, justru karena kesempurnaan Calvin yang membuatnya merasa mustahil untuk memulai hubungan yang lebih dekat lagi.
"Kenapa kamu mikir gitu? Aku nggak pernah anggap kamu gak cocok dengan aku. Aku merasa kamu luar biasa, Lun."
"Itu cuma karena aku nggak kayak gadis lain, kamu hanya merasa penasaran saja," jawab Luna.
Calvin menghentikan langkah kakinya. Lalu meraih tangan Luna.
"Bukan, ini semua dari dalam hati aku, Luna. Aku merasa nyaman saat dekat kamu," ungkapnya.
Luna berkaca-kaca. "Tapi itu nggak mungkin, Cal. Kita di sini hanya karena sebuah program acara. Aku berbeda, aku nggak cocok dengan kamu."
"Enggak, kamu yang aku suka. Aku yakin, Aluna."
Calvin tetap pada pendiriannya. Ia sangat yakin dengan perasaannya saat ini terhadap Luna.
Luna melepaskan tangan Calvin. "Besok kita pulang, dan kita nggak akan bertemu lagi," ucapnya.
Calvin menghela napas berat, ia merasa Luna hanya tidak mau menatapnya sejak tadi.
"Luna, tatap aku. Kamu bisa bedakan mana yang tulus dan tidak. Apa karena aku aktor? Kamu kira ini hanya akting? Sumpah, Aluna aku suka kamu dari hatiku," ucapnya tanpa keraguan.
Baru kali ini Luna merasa jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Perasaan yang begitu aneh, ketika ia berada di sisi Calvin.
Ia masih terdiam di posisinya, mengepalkan kedua tangannya. Tanpa diduga Calvin berjalan ke hadapan Luna, dan menyentuh kedua pipi gadis itu. Kamera sudah merekam mereka dari jauh, semuanya kaget, saat melihat Calvin mencium bibir Luna dengan begitu spontanitas.
Luna juga hanya dapat membulatkan matanya, mendapati ciuman dari Calvin tersebut.
"Luna, aku sayang kamu."
Dunia seolah terhenti saat keduanya saling menatap satu sama lain. Aluna Cantika, hanya gadis biasa, tapi siapa sangka Calvin begitu menyukainya.
Lalu apa yang akan dikatakan Luna?
Tunggu, kelanjutan ceritanya 🤣🤣🤣🤣