Panggung Negeri Mimpi
Dibawakan oleh Zubby, Si Peramal Paling INUT di Alam Semesta
---
Babak 1 – Selamat Datang di Negeri Mimpi
Ah — tepuk tangan, tepuk tangan!
Ayo, jangan malu-malu.
Lebih keras, Zubby tak bisa mendengar kalian di barisan belakang.
Oh, lihat itu… kau masih menatapku dengan mata yang ragu, seperti penonton yang terlambat masuk dan bingung ini pertunjukan apa.
Tak apa, Zubby suka yang begitu. Zubby yang Imut ini — adalah bintang pertunjukan malam ini.
Pemandu, pengacau, sekaligus satu-satunya orang di sini yang akan memberitahumu semua kebenaran… meskipun kebenaran itu rasanya seperti permen kapas yang dicelupkan ke dalam tinta hitam.
Sekarang, izinkan Zubby menarik tirainya.
Selamat datang di Negeri Mimpi~!
Langitnya? Ah, lihat — seperti sapuan kuas pelukis mabuk yang terlalu bersemangat mencampur biru dengan merah muda.
Awan di sini tak pernah kelabu, hanya gula-gula yang menggantung rendah, seolah kamu bisa melompat dan memakannya.
Tanahnya? Emas. Setidaknya dari jauh.
Dekatkan wajahmu, dan kamu akan lihat catnya mulai mengelupas, memperlihatkan besi berkarat di bawahnya.
Penduduknya… oh, penduduknya!
Mereka tersenyum seperti foto di majalah.
Gigi putih, bibir merah, mata — hah, matanya seperti kelereng kaca.
Indah tapi kosong.
Senyum itu bukan sekadar kebiasaan, sayangku.
Itu sebuah kewajiban.
Kamu akan suka tempat ini… selama kamu mau mengikuti aturannya.
Aturan nomor satu: Selalu tampak bahagia.
Aturan nomor dua: Jangan bertanya tentang orang-orang yang hilang.
Aturan nomor tiga: Jika kamu melanggar dua aturan pertama, pastikan kamu punya rencana untuk melarikan diri.
Hei, apa kamu baru saja menoleh?
Ah, iya. Kamu pasti mendengar bisikan itu.
Suara samar di antara tawa palsu para penduduk.
Itu — bagaimana mereka menyebutnya? — "ruang kosong dalam naskah".
Tempat di mana cerita retak, di mana sutradara lupa memoles panggungnya.
Jangan khawatir, Zubby akan mengajaknya bicara nanti.
Tapi untuk yang pertama, mari kita jalan-jalan ke suatu tempat.
Lihat alun-alun utama ini.
Patung besar “Kebahagiaan Abadi” berdiri tepat di tengahnya, seorang pria dan wanita yang memeluk anak kecil… semuanya terbuat dari kaca yang berkilauan.
Jika kamu perhatikan lebih dekat, kamu akan melihat retakan halus di pipi sang wanita.
Ah, itu bukan sekadar kerusakan — itu air mata yang membeku sebelum menyentuh lantai.
Pasar di sebelah sana menjual segala sesuatu yang berwarna cerah — roti merah muda, susu biru, buah hijau neon.
Penjualnya memanggil-manggil, suaranya ceria seperti lonceng mainan.
Tapi, dengarkan baik-baik: di sela-sela tawa itu, ada suara letupan napas putus asa.
Itu adalah harga yang mereka bayar untuk mempertahankan senyum itu.
Dan kau tahu apa yang paling lucu?
Semua orang di sini percaya bahwa ini adalah tempat terbaik di dunia.
Bahkan jika mereka harus berbohong pada diri mereka sendiri setiap hari.
Ah, betapa manisnya penipuan itu… hampir membuat Zubby ingin menangis~
---
Jadi, Penonton Zubby yang manis,
apa kamu ingin Zubby membawamu ke lorong belakang panggung?
Tempat di mana Negeri Mimpi berhenti menjadi indah dan mulai menjadi… nyata?
Karena kalau iya, kita akan memasuki Babak 2, dan di sanalah kamu akan mengerti mengapa Zubby selalu membawa kartu as di sakunya.
---
Babak 2 – Lorong di Balik Tirai
---
Shh.
Jangan bicara terlalu keras.
Di sini, suara bisa memantul dan mengundang perhatian yang… tidak kita inginkan.
Lihat langkah Zubby.
Pelan.
Tepat di sela dentingan musik latar yang diputar di alun-alun.
Kita sedang berjalan di jalan sempit di samping panggung utama — kau lihat dinding itu? Catnya mengelupas, dan ada bekas tangan seseorang di sana. Bekas itu mengarah ke pintu kecil, catnya tergores, gagangnya berkarat.
Kamu ingin tahu apa yang ada di baliknya?
Bukan kebun rahasia, bukan taman bunga yang indah.
Oh, tidak, Penontonku yang polos… yang ada hanyalah Lorong Penyesalan.
Ya, begitulah Zubby menyebutnya.
Karpetnya lusuh, bau debu bercampur logam.
Lampunya redup — bukan karena rusak, tapi karena mereka sengaja dibuat begitu, agar orang di sini tak bisa melihat wajah satu sama lain dengan jelas.
Dindingnya penuh coretan. Bukan grafiti artistik, melainkan kalimat pendek yang ditulis terburu-buru:
“Aku masih ingat…”
“Tolong jangan lupakan aku…”
“Senyumku sakit…”
Oh? Kamu terlihat pucat~
Tidak usah khawatir, mereka hanyalah… peninggalan dari orang-orang yang sudah dihapus dari cerita.
Ah, Zubby lihat matamu membesar — ya, benar, Zubby sudah mengatakannya: dihapus.
Mereka tidak mati.
Mereka tidak pindah.
Mereka… hilang.
Seperti tokoh figuran yang dipotong dari naskah sebelum pementasan.
Dan masalahnya, tidak ada yang ingat mereka pernah ada — kecuali Zubby.
Dan sekarang, kamu.
Jangan terlalu percaya pada ingatanmu di sini, Penontonku sayang.
Negeri Mimpi pandai sekali mengeditnya.
Kalau kamu mulai bertanya-tanya tentang seseorang, naskah akan menulis ulang babak itu sebelum kamu sempat menemukan jawabannya.
Bagus, ya? Sempurna untuk menghapus keraguan, sempurna untuk memelihara kebahagiaan palsu ini.
---
Ah, tapi lihat itu — di ujung lorong, ada pintu lain.
Besi. Terkunci. Dijaga oleh dua “aktor” berbadan tegap.
Jangan tertipu oleh seragam rapi mereka.
Mereka bukan petugas keamanan.
Mereka adalah Penjaga Narasi — tugas mereka memastikan tidak ada yang keluar dari peran yang sudah ditulis.
Kalau kamu mencoba untuk kabur, mereka akan membawamu ke ruang improvisasi.
Kedengarannya menyenangkan, bukan?
Padahal, itu hanya sebutan manis untuk tempat di mana kamu dipaksa bermain peran sampai kamu lupa siapa dirimu sebenarnya.
Zubby tahu kamu ingin bertanya… bagaimana Zubby bisa bebas keluar masuk tempat ini?
Itu rahasia panggung, sayangku~
Anggap saja, Zubby punya kontrak yang… sedikit berbeda dengan mereka.
Zubby bukan penonton. Bukan pula pemeran tetap.
Zubby hanyalah pembawa cerita yang tidak tunduk pada naskah — dan itulah alasan mereka membenci Zubby.
---
Sekarang, mari kita keluar dari lorong ini sebelum Penjaga Narasi menyadari kamu ada di sini.
Kita akan menuju Distrik Lampion, tempat yang katanya menjadi simbol keindahan Negeri Mimpi.
Kau akan suka… setidaknya sampai kamu tahu apa yang terjadi begitu lampion-lampion itu padam.
Oh, tapi sebelum itu…
Boleh Zubby tanya satu hal?
Apakah kamu merasa aman duduk di kursi penonton itu?
Karena semakin lama kita berbicara, semakin besar kemungkinan kamu juga akan tertarik masuk ke panggung ini.
Dan percayalah… sekali kamu berdiri di sini bersama Zubby, kamu tidak akan bisa kembali hanya sebagai penonton.
---
Babak 3 – Festival Cahaya yang Memakan Nama
---
Pegang tangan Zubby.
Oh, jangan menatap Zubby seperti itu — ini hanya bagian dari adegan.
Kalau kamu berjalan sendirian di sini, kamu akan… tersesat.
Dan di Negeri Mimpi, tersesat berarti kehilangan lebih dari sekadar arah.
---
Distrik Lampion.
Waktu yang sempurna untuk datang: malam hari.
Lampion-lampion tergantung di atas jalan, warnanya berkilau — merah, emas, ungu — bergerak perlahan tertiup angin yang… entah datang dari mana.
Orang-orang berjalan di bawahnya, wajah mereka diterangi cahaya hangat.
Tawa, musik, dentingan gelas… indah sekali, bukan?
Kamu lihat pasangan itu? Mereka sedang menulis nama mereka di secarik kertas, lalu menggantungnya di lampion.
Tradisi, katanya.
Tuliskan namamu, gantungkan, dan semua kesedihan akan hilang.
Ah, betapa romantisnya~!
Kau ingin tahu sebuah rahasia kecil~?
Lampion-lampion ini tidak menghapus kesedihan — mereka menghapus nama.
Satu huruf, satu kenangan, satu bagian dari dirimu, hilang setiap kali kamu melihat lampion itu berkedip.
Orang-orang menggantung nama mereka dengan sukarela, lalu perlahan lupa siapa diri mereka…
tapi tetap tersenyum, karena begitulah naskahnya.
---
Ayo, ikuti Zubby melewati kios makanan itu.
Ya, aromanya luar biasa, bukan~?
Permen manis, kue lembut, minuman hangat — semuanya gratis di malam festival.
Gratis, karena biayanya diambil dari sesuatu yang tidak bisa kau hitung: identitasmu.
Zubby sering duduk di sini, melihat orang-orang menyerahkan diri mereka sedikit demi sedikit.
Kadang Zubby menghentikan mereka — mengambil nama itu sebelum lampion memakannya.
Kadang… Zubby hanya menonton.
Hei, Zubby bukanlah pahlawan.
Zubby hanya seorang peramal yang tahu terlalu banyak.
---
Lihat, di ujung jalan itu, ada Lampion Pusat.
Besar, setinggi tiga lantai.
Warnanya putih murni, sinarnya lembut, hampir… menenangkan.
Orang-orang berdiri di depannya, menatapnya lama-lama.
Beberapa menit pertama mereka terlihat damai.
Beberapa menit berikutnya, matanya mulai kosong.
Dan ketika mereka berbalik meninggalkan tempat itu, mereka… terlihat berbeda.
Tidak ada lagi pertanyaan di mata mereka, tidak ada lagi rasa ingin tahu.
Hanya senyum permanen, seperti topeng yang dilem dengan kuat.
Itulah inti Negeri Mimpi ini, Penontonku yang manis:
Senyum yang abadi, tapi kosong.
Kebahagiaan yang mutlak, tapi tanpa alasan.
Kehidupan yang damai, tapi tanpa diri sendiri.
---
Ah, tapi kamu… kamu masih menatap Zubby dengan waspada.
Bagus.
Itu artinya lampion-lampion ini belum menyentuhmu.
Atau… mungkin mereka sudah? Hanya saja kamu belum menyadarinya~
Hei, Zubby bisa membantumu tetap utuh di sini.
Caranya sederhana:
Pegang namamu erat-erat, bahkan jika Negeri Mimpi berusaha mencurinya.
Bisikkan dalam hati, ulangi terus, jangan biarkan satu huruf pun pudar.
---
Oh, tunggu… kau mendengar itu~?
Musik festival berhenti.
Lampion-lampion bergetar.
Penjaga Narasi mulai mendekat, dengan senyum yang terlalu sempurna untuk manusia biasa.
Sepertinya kita harus pergi sebelum mereka melihatmu bersama Zubby.
Ayo, ikut Zubby ke Babak 4 — dan di sanalah, Penontonku sayang… kita akan mulai merobek tirai ini.
---
Babak 4 – Saat Tirai Terbakar
---
Lari.
Jangan pikirkan kakimu, jangan pikirkan napasmu.
Hanya ikuti langkah Zubby.
Jalan-jalan di Distrik Lampion mengabur, warna-warnanya memanjang seperti cat basah yang diseret di kanvas.
Penjaga Narasi di belakang kita tak berteriak, tak memanggil.
Itu yang membuatnya lebih menakutkan.
Diam berarti mereka yakin akan bisa menangkapmu.
---
Kita masuk ke gang sempit yang bahkan tidak ada di peta panggung.
Di sinilah Zubby biasanya bersembunyi saat ingin keluar dari naskah.
Tempat ini bau debu dan tinta tua.
Oh, lihat, di dindingnya ada coretan: "Akhir cerita adalah awal cerita" — Zubby yang menulis itu, bertahun-tahun lalu… atau mungkin kemarin? Entahlah. Waktu di sini terasa aneh.
Duduk. Tarik napas.
Sekarang dengar baik-baik.
Zubby sudah bosan dengan Negeri Mimpi ini.
Bosan melihat orang-orang tersenyum hanya karena disuruh.
Bosan melihat cerita yang sama dimainkan setiap hari.
Bosan berpura-pura menjadi bagian dari pertunjukan ini.
Kamu tahu kenapa Zubby mengajakmu sejauh ini?
Karena kamu… berbeda.
Kamu melihat celah-celahnya, bahkan saat semua orang bilang ini sempurna.
Itu yang membuatmu berbahaya — sekaligus menarik.
---
Zubby ingin menjatuhkan tirai ini, membiarkan semua penonton melihat apa yang ada di baliknya.
Bukan sekadar panggung kosong, tapi dunia yang berantakan, penuh retakan, tanpa naskah yang memaksa.
Kamu pikir itu akan indah? Tidak.
Malah sebaliknya.
Itu akan kacau, kotor, dan nyata.
Tapi Zubby tidak bisa melakukannya sendirian.
Lihat, Zubby bisa mengubah beberapa baris dialog, mencuri beberapa properti…
Tapi untuk merobohkan seluruh panggung, Zubby butuh seseorang yang bukan bagian dari naskah ini.
Seseorang… seperti kamu.
---
Oh, jangan lihat ke belakang.
Ya, Zubby tahu mereka semakin mendekat.
Cahaya dari lampion terakhir mulai merayap ke gang ini — cahaya yang bisa menghapus namamu.
Kalau itu menyentuhmu, kamu akan kembali ke kursi penonton, melupakan semuanya.
Zubby tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Jadi, sekarang Zubby tanya:
Maukah kamu melangkah ke panggung bersama Zubby?
Sekali kamu menginjakkan kaki di sini, kamu bukan lagi seorang penonton.
Kamu akan menjadi bagian dari cerita ini — dan membantu menulis akhirnya.
---
Ah… Zubby lihat di matamu.
Kamu sudah tahu jawabannya.
Bagus.
Maka inilah, Penontonku yang manis, saat kita memulai Babak Terakhir.
Tirai akan terbakar, musik akan berhenti, dan Negeri Mimpi… akan bangun dari tidurnya.
Pegang tangan Zubby.
Hitung sampai tiga.
Satu…
Dua…
Tiga—
---
Babak Terakhir – Saat Negeri Mimpi Bangun
---
Tiga.
Kita meloncat.
Bukan ke depan, bukan ke belakang — tapi ke luar.
Lampion-lampion di atas kepala kita pecah seperti gelembung sabun yang terbakar.
Warna-warna pastel Negeri Mimpi memercik jadi hitam, merah, abu-abu.
Musik latar berhenti.
Bukan, lebih dari itu — tercekik.
Seperti pita kaset yang ditarik keluar, isinya berantakan di lantai.
---
Kita berdiri di tengah panggung utama.
Penonton — atau mungkin penduduk — mengelilingi kita.
Wajah mereka tetap tersenyum, tapi tubuh mereka kaku.
Penjaga Narasi berbaris di belakang, seragam mereka mulai retak seperti porselen yang jatuh.
Zubby menatapmu.
Dan Kamu menatap Zubby.
Tak ada dialog di naskah untuk momen ini, jadi mari kita ciptakan sendiri.
Zubby mengeluarkan kartu dari sakunya — tidak ada angka, tidak ada lambang.
Kosong.
Kertas putih murni.
Inilah yang akan kita gunakan untuk menulis ulang akhir cerita ini.
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau kita menulis sesuatu di sini?” bisik Zubby.
Kamu menggeleng.
“Segala sesuatu yang mereka sebut ‘kenyataan’ akan mengikutinya.”
---
Kita mulai menulis.
Bukan dengan tinta, tapi dengan suara kita.
Satu kata, lalu kata lain.
Panggung mulai bergetar.
Patung Kebahagiaan Abadi di alun-alun pecah, kilauan kacanya menyayat udara seperti hujan pisau.
Distrik Lampion runtuh — lampion-lampionnya jatuh, benangnya melilit leher tiang, menjerat penonton seperti boneka.
Tawa palsu berubah jadi jeritan… atau mungkin nyanyian?
Sulit untuk membedakannya~
---
Penjaga Narasi mencoba maju, tapi setiap langkah mereka membuat kaki mereka meleleh jadi tinta.
Mereka mencair, mengalir ke celah-celah panggung, dan menghilang.
Di atas kita, langit gula-gula memudar, digantikan oleh ruang kosong yang… terlalu besar untuk disebut langit.
Itu bukan hitam. Itu ketiadaan.
Dan anehnya, Zubby merasa bebas.
---
Kamu melihat Zubby, napasmu terengah.
“Apa yang terjadi sekarang?” tanyamu.
Zubby tersenyum — senyum yang bukan bagian dari naskah.
“Sekarang? Kita bebas menulis cerita baru. Tapi ingat… sekali kamu di sini, kamu tidak akan pernah bisa kembali menjadi penonton biasa lagi.”
Zubby meraih tanganmu lagi.
Kita berjalan keluar dari panggung, melewati tirai yang kini terbakar.
Apinya tidak panas. Api ini tidak membakar kulit — hanya membakar kebohongan.
---
Sebelum kita benar-benar keluar, Zubby berhenti dan menatapmu untuk terakhir kalinya.
“Oh, satu hal lagi,” kata Zubby sambil berbisik.
“Kalau suatu malam kamu bermimpi melihat lampion putih di luar jendela… jangan tatap terlalu lama.
Itu berarti Negeri Mimpi mencoba memanggilmu kembali.”
Kamu ingin bertanya lebih jauh, tapi Zubby sudah berjalan duluan, meninggalkanmu di ambang dunia baru.
Langkah Zubby bergema, semakin jauh… sampai kamu tidak tahu lagi apakah Zubby masih di sini atau hanya gema di dalam kepalamu.
---
Tirai jatuh.
…atau mungkin tidak~?
Karena, siapa bilang ini benar-benar akhir~?