Di pertemuan berikutnya pak dimitri masih mencari-cari cara agar bisa mendekati yuni lagi.
Dia mulai tergila-gila pada murid nya, selesai mengajar bimbingan belajar seperti biasa dia meminta yuni mengantarkan absen ke ruang guru.
Gina sebagai sekretaris tak keberatan justru dia menjadi senang karena bisa langsung pulang, dia hanya menuliskan nama-nama murid kelasnya yang bolos setelah itu menyerahkan lembaran absensi pada yuni.
Sampai di ruang guru, ternyata pak dimitri masih mengobrol dengan beberapa guru yang baru selesai mengajar bimbingan belajar hari itu.
Tok..tok..
"Permisi pak, mau nganterin absensi" ucap nya
"Iya, masuk yun tunggu dulu duduk aja dulu" jawab pak dimitri setelah itu dia berbincang lagi dengan rekan guru nya. Beberapa saat barulah 2 orang guru itu berpamitan.
"Pak, itu yuni suruh nungguin apa? Kan bisa di simpan di meja absensinya" tanya salah satu guru namanya bu novetra.
"Oh, nungguin saya" jawab pak dimitri dengan lantang. "Rumah saya kan lewatin daerah rumah yuni, dari pada naik angkot udah sore mau maghrib mending bareng sama saya lebih aman". Jelasnya
"Iyah juga sih, bener tuh kamu bareng pak dimitri aja, sekarang ngeri banyak kasus" sahut bu novetra lalu dia berjalan keluar meninggalkan pak dimitri dan yuni.
Setelah merapihkan tas kerjanya, pak dimitri duduk di samping yuni.
"Mau bareng saya atau naik angkot yun?"
Tanya pak dimitri seperti biasa tangan nya mengelus bahu yuni.
Yuni menggerakan bahu nya "aduh kenapa pak dimitri mulai nyentuh lagi bahu aku sih" mimik wajah yuni tampak gelisah dia takut tubuh nya bereaksi lagi.
Beleum ada jawaban dari yuni. Pak dimitripun tetap mengelus bahu yuni "kok malah bengong?" Tanya nya.
"Eh iya pak,mmmm.." yuni belum selesai bicara pak dimitri sudah bertanya lagi.
"Kenapa kamu kok malah begitu muka nya?"
Yuni ragu untuk menjawab "mmmh, ini pak saya geli soal nya tangan bapak ngelus-ngelus bahu saya" ucap nya dengan malu-malu.
"Ohhh.. ini masa sih geli yun, enak kali" goda pak dimitri. Tanpa di duga dia menarik tali BH yuni dari balik baju seragam nya lalu melepaskan nya lagi.
Plakk... terdengar suaranya namun tak begitu keras hanya yuni dan pak dimitri yang dapat mendengarnya.
"Awww..pak, sakit tau" rengek yuni dengan wajah manja.
"Hehehe sakit yah, maaf-maaf tapi tali nya kaya kenceng banget yun, ini pasti karena isi nya besar dan berat, eh ngomong-ngomong tapi biasanya perempuan suka loh kalau di elus-elus gini.! Kamu suka gak?"
"Geli pak" jawab yuni.
"Itu tanda nya tubuh kamu mulai bereaksi yun, biasanya ada beberapa titik sensitif perempuan, kamu mau tau ga?"
Wajah yuni menatap pak dimitri seakan penasaran namun di balik rasa penasaranya, tubuh nya seakan menikmati sentuhan pak dimitri.
"Nih di sini yun" pak dimitri menyantuh bahu yuni,belakang leher nya, hingga telinga yuni, terakhir dia menatap bagian dada yuni.
"Mau tau ga dimana lagi?"
Yuni masih terdiam. Tak di sangka tangan pak dimitri menyentuh dadanya yang menonjol, sontak yuni terkejut.
"Nih disini yun" telapak tangan nya kini benar-benar menyentuh dada yuni.
"Pak jangan pak, saya geli" ucap yuni sambil ikut menyentuh punnggung tangan pak dimitri.
"Itu bukan geli yun, tapi kamu terangsang, apa lagi kalau di giniin" dia coba meremas lembut.
"Awww...shhhh" batin yuni. Dia bingung namun tubuh nya menikmatinya.
Tak lama terdengar suara langkah kaki, itu pasti mang arifin petugas kebersihan.
"Tapi enak kan, nanti saya kasih contoh lagi" bisik pak dimitri sambil merangkul yuni.
Benar saja tak lama mang arifin datang.
"Permisi, loh masih ada orang" ucap nya sambil langsung menuju meja-meja guru.
"Belum pulang pak?" Tanya nya.
"Ini kita baru mau pulang,saya duluan yah mang"
"Iyaah pak hati-hati"
Yuni pulang bersama pak dimitri menggunakan sepeda motor nya. Kali ini dia tak bisa menolak lagi.