Begitu sampai di ruang guru, aku coba mengelap keringat yang timbul di dahiku.
"Kenapa pak? Kepanasan ya, AC nya masih rusak sudah saya laporin tapi belum di perbaiki juga" ucap mang arifin petugas kebersihan kebetulan dia baru selesai membersihkan meja-meja guru, hanya 3 orang guru yang pulang telat hari ini karena harus mengajar dulu bimbel untuk kelas 9. Yang 2 orang baru saja berpamitan sedangkan 1 orang nya lagi adalah aku.
"Saya kebelakang dulu ya pak, ngecek kelas takut nya belum ada yan terkunci" ucap nya sambil berlalu. Aku hanya mengangguk.
Saat aku sibuk di meja guru membereskan barang-barangku tak lama ada yang mengetuk pintu, aku kira mang arifin balik lagi. Tak ku hiraukan aku hanya menyahuti "iya masuk" tanpa melihat nya.
"Maaf pak, saya mau mengantarkan absensi murid yang bolos bimbel hari ini, tadi gina ga sempat kesini jadi di titipin ke saya"
Aku terkejut mendengar suara nya, dan ternyata itu yuni. "Oh yuni" duduk dulu saja bapak lagi nyari sesuatu tunggu saja di sana" ucapku beralasan dan menyuruh dia duduk di sofa belakang pintu ruang guru. Aku berjalan ke arah pintu dan menutup nya sedikit sehingga jika terlihat dari luar sofa yang di belakang pintu tidak akan terlihat. Aku sengaja melakukannya agar bisa beralasan mendekati yuni.
Dengan memegang selembar kertas absensi dia duduk di sofa sepertinya dia merasa canggung. Aku sengaja membuka tutup berkas di mejaku, hampir beberapa menit kulirik gerak-gerik yuni mulai tak nyaman dia beberapa kali mengelap keringat di dahinya mungkin karena AC nya mati jadi sangat terasa panas. Di tambah pintu nya sedikit aku tutup walaupun tidak rapat.
Aku duduk menghadap sofa. Tak lama aku menghampiri nya dan sengaja aku duduk sangat dekat dengan nya.
"Mana sini yun absensinya" aku coba memeriksa.
"Banyak juga yah yang bolos? Apa mereka ini memang anak-anak bandel yang bermasalah di kelas?" Tanya ku.
Yuni mengangguk "iya pak" jawab nya singkat.
"Terimakasih yah yun, kamu mau ngenterin abesnsi ke sini padahal ini bukan tugas kamu" ucapku sambil menepuk bahu nya.
Yuni terhentak mendapati telapak tanganku menyentuh bahu nya. Sepertinya dia canggung.
"Iya pak sama-sama saya juga sekalian pulang"jawab nya
Tanganku belum ku lepaskan masih ku tempelkan di bahunya, ku coba mengelus lembut, dan dapat kurasakan tali BH di bahu nya yang nampak kencang mungkin saja karena menopang payuda*ranya yang padat dan besar.
Yuni coba menggerakan bahu nya. Namun dia tak menghindar.
"Kamu pulang sendiri?" Tanyaku basa-basi lagi
"Iya pak" dia tetap menjawab singkat
"Pakai apa?"
"Saya biasa naik angkot pak"
"Ini udah sore loh yun, memang masih ada angkot?" Tanyaku sengaja berlama-lama
"Masih pak, walaupun harus nunggu lama?"
"Kamu pulang kemana emang?" Tanyaku sambil memasukan berkas-berkas ke dalam tas ranselku.
"Ke daerah perum garden 3 pak"
"Wah lumayan jauh tuh, mau bareng saya gak?"
Yuni menggeleng sambil berdiri
"Gak usah pak saya gak enak, takut merepotkan, kalau begitu saya permisi"
"Eh tunggu yun, ini buat tambahan kamu naik angkot, anggap saja ucapan terimakasih dari saya" aku menyodorkan selembar uang.
Namun yuni menolaknya dengan canggung
Namun aku terus memaksa. Aku berjalan mendekatinya dan.. slupp..
Langsung ku masukan selembar uang itu ke dalam saku seragam nya.
Akhirnya dadanya yang menonjol itu dapat ku sentuh lagi.
Benar-benar padat membuat tubuhku seketika semakin panas.
Yuni sangat terkejut. Dia menyentuh punggung tanganku namun jari-jariku tak buru-buru aku lepaskan aku sengaja belum melepaskan uangnya. Aku gerakan sedikit jari telunjukku. Meskipun dia memakai BH namun aku dapat merasakan benjolan kecil sepertinya put*ing, aku coba menggesek secara lembut sambil terus mengajak yuni bicara dan memaksa yuni untuk menerima nya.
"Gak apa-apa ambil saja yah,jangan di tolak" ucapku dan ku pegang tangan nya namun kurasa benjolan itu mengeras, yups put*ing yuni mengeras mungkin payuda*ra nya terangsang saat mendapatkan sentuhan. Diapun mulai merasa tak nyaman akhirnya yuni melepaskan tanganku dari saku nya.
"Yaudah pak, saya terima sekali lagi terimakasih yah, saya permisi dulu" dia buru-buru keluar ruangan.
"Ah sialan senjataku baru saja mau bangun namun sudah kehilangan mangsa" batinku. Sambil melihat dia berjalan keluar ruangan dan tubuh nya dari belakangpun sangat menggoda dan,panta*t nya sangat bohay jika di lihat dari belakang. Rok nya yang ngepres membuat nya tercetak sempurna.
"Aku harus mencari cara lagi agar bisa dekat dengan anak itu"
Sampainya di rumah. Yuni langsung masuk ke kamar nya di menaruh ransel nya dan membuka blazer melepaskan hijab dan rok ngetat yang dia gunakan.. Saat hendak membuka kancing seragam nya yuni terdiam sejenak dia menatap cermin yang berada di kamar nya.
Dia meraba payuda*ra nya. Tubuh nya terasa berdeda saat mendapat sentuhan dari pak dimitri. Sebenarnya yuni selalu menghindari sentuhan ke tubuhnya. Karena dia sadar jika tubuh nya mudah sekali terangsang. "Apa karena dadaku yang besar, jadi saat pak dimitri tadi menyentuh dadaku sepertinya put*ingku mengeras" yuni berguman sendiri sentuhan dari pak dimitri tadi memberikan sensai berbeda pada tubuh nya.
Di lihat rumah nya masih sepi dia coba berjalan ke kamar ibunya, sepertinya ibu nya belum pulang dari rumah kakak nya padahal waktu sudah mau maghrib.