Dulu aku selalu merasa dunia harus berputar sesuai keinginanku. Nilai di sekolah bagus? Sudah pasti. Ranking? Jangan ditanya. Semua guru memujiku, teman-teman mengagumiku. Aku pikir aku yang paling hebat. Kalau ada yang berbeda pendapat, aku langsung mencibir, "Paling juga iri."
Namaku Arga. Dan dulu, aku terlalu besar kepala.
Aku masih ingat ketika Rani—teman sekelasku yang pendiam dan sederhana—menjadi ketua kelompok dalam tugas presentasi sejarah. Saat pembagian tugas, aku langsung memotong, “Udah, bagian kamu aku kerjain aja. Biar bagus.”
Dia diam. Aku kira dia setuju. Tapi malam itu, saat aku buka dokumen yang dikirim Rani, aku terkejut. Isinya rapi, lengkap, dan cara penjelasannya sangat matang. Jauh lebih bagus dari yang pernah kubuat.
Namun, bukannya memuji, aku malah marah. "Kamu pengen kelihatan lebih pintar dari aku, ya?" kataku sinis saat di sekolah. Dia hanya tersenyum kecil dan berkata, “Bukan begitu, Arga. Kita satu kelompok.”
Waktu itu aku tak peduli. Aku tetap memaksakan draf versiku untuk dipakai. Saat presentasi, hasilnya justru biasa saja. Guru kami tak terlalu terkesan. Dan parahnya, Rani tak protes sedikit pun. Ia hanya diam—lagi.
Tahun berlalu. Kini aku duduk di bangku SMK, dan perlahan semua berubah. Bukan aku lagi yang paling cemerlang. Di kelas, banyak yang lebih hebat, lebih kreatif, lebih rendah hati. Sementara aku—yang dulu merasa paling pintar—jadi seperti bayangan diriku sendiri.
Suatu hari, aku bertemu Rani lagi, saat ada acara gabungan antar sekolah. Dia menjadi perwakilan dari sekolahnya, membawakan pidato luar biasa yang membuat semua kagum. Aku berdiri di antara penonton, hanya bisa diam.
Setelah acara selesai, aku mencoba menyapanya. Dia masih seperti dulu: ramah, tenang, dan tetap sederhana.
“Rani... kamu hebat,” kataku dengan jujur.
Dia tersenyum. “Kamu juga, Arga. Dulu aku kagum sama kamu, walau kamu sering... terlalu percaya diri.”
Aku tertawa kecil, sedikit menunduk. “Iya. Ternyata dulu aku terlalu besar kepala.”
Dia tak membalas, hanya tertawa pelan. Tapi di matanya, tak ada dendam. Hanya pengertian.
Sejak hari itu, aku belajar untuk mendengar lebih banyak, dan bicara lebih sedikit. Dunia tak harus selalu tentang aku. Kadang, orang yang diam itulah yang paling tahu apa yang sedang mereka lakukan.