Langit Jakarta belum sepenuhnya terang. Tapi suara klakson, pekikan pedagang, dan langkah kaki yang tergesa-gesa sudah memenuhi gang sempit di belakang terminal Kampung Melayu. Kontrakan reyot di ujung lorong itu nyaris roboh, dindingnya mengelupas dan atapnya bocor jika hujan turun.
Nadina Azzahra Maheswari, dipanggil Nina oleh almarhum ayahnya… Duduk termenung di ambang pintu. Kakinya menggantung di atas lantai semen yang dingin, sementara bau got dan asap rokok dari kontrakan sebelah menusuk hidung. Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
“Dunia ini kejam…” bisiknya lirih. “...tapi aku nggak bisa nyerah.”
Matanya menatap bingkai kayu tua di pangkuannya. Foto keluarga yang warnanya sudah pudar. Sang ayah, berjanggut rapi dengan senyum penuh kasih. Ibunya masih sehat waktu itu, memeluk Nina kecil, sementara Adit masih bayi dalam gendongan. Rani belum lahir saat itu.
Ayahnya meninggal ketika ia kelas empat SD karna Kanker lambung. Tak ada biaya, tak ada harapan. Dan setelah kematian sang ayah, Nina memutuskan untuk putus sekolah, Dia pintar, namun sayang karna ekonomi yang buruk, di tambah kematian sang ayah membuatnya harus putus sekolah.
Di usianya yang kini 12 tahun, Nina harus bekerja di pasar untuk menjual gorengan.
Berbanding terbalik dengan anak-anak seusianya yang seharusnya belajar, bermain, dan tumbuh, namun… Nina tidak, dia adalah tulang punggung, dan juga seorang kakak.
Sejak itu, Nina menjadi kakak sekaligus tulang punggung.
Suara batuk keras terdengar dari dalam rumah. Ibunya, Bu Sari, batuk berkepanjangan lagi. Tuberkulosis makin menggigit paru-parunya hari demi hari. Nina buru-buru masuk, meninggalkan segalanya sejenak, menuju suara yang membuatnya paling takut: suara orang yang ia cintai, pelan-pelan sekarat.
Di kamar yang pengap dan redup cahaya, Bu Fatimah Sari Maheswari terbungkuk, batuknya berdahak dan menyayat. Napasnya berat, tubuhnya menggigil.
“Bu! Pelan-pelan... Tarik napas dulu,” ucap Nina panik sambil menopang bahu ibunya.
“Maaf... Uhuk uhuk... Maafin Ibu, Nak...” gumam Bu Sari dengan suara parau, hampir tak terdengar.
Nina segera berlari ke dapur, mengambil air hangat, lalu kembali dan menyodorkannya dengan kedua tangan. Ibu meneguknya perlahan, tangan tuanya gemetar.
“Jangan minta maaf terus, Bu,” Nina berusaha tersenyum, meski suaranya ikut bergetar. “Nina nggak papa. Ibu istirahat aja, ya... nanti juga reda batuknya.”
“Ibu... Harusnya yang kerja... Bukan kamu...” suara Bu Sari semakin lirih, matanya berkaca-kaca. “Kamu masih kecil, Nadina…”
Panggilan itu menusuk jantung Nina. Hanya Ibu yang memanggilnya “Nadina” selalu di saat-saat paling lembut, atau paling rapuh.
“Kita cuma lagi diuji, Bu...” bisik Nina sambil menyeka peluh di dahi ibunya. “Yang penting Ibu sembuh. Rani sama Adit butuh Ibu.”
Air mata mengalir dari sudut mata Bu Sari. Ia menggenggam tangan Nina pelan, tapi erat.
“Maafin Ibu ya... Udah bikin kalian lahir di dunia seberat ini...”
“Bu...” Nina menunduk, berusaha menyembunyikan gemetar suaranya. “Jangan ngomong kayak gitu. Yang salah bukan Ibu… Yang salah itu dunia.”
Sesaat, yang terdengar hanya napas berat dan batuk pelan, seolah waktu ikut terdiam, menyaksikan dua jiwa saling berpegangan di tengah reruntuhan harapan.
Di sudut rumah, Jihan Rani Maheswari yang berusia 6 tahun sedang menyisir rambut boneka rusak dengan sendok plastik. Aditya Pratama Maheswari, si kecil berusia empat tahun, mengunyah roti kering sisa semalam. Mereka tidak mengerti dunia sedang menghimpit. Tapi Nina tahu. Ia merasakannya setiap hari, setiap malam, setiap detik.
…
Pagi baru belum sempat menjanjikan harapan ketika Nina sudah bangkit dari kasur tipis yang hampir rata dengan lantai. Cahaya matahari belum sepenuhnya menembus celah atap seng rumah kontrakan mereka, tapi bau amis dari got depan rumah sudah lebih dulu menyapa.
Ia bangkit tanpa suara, hanya menarik napas dalam, lalu perlahan bangkit untuk menjalani rutinitasnya. Pertama-tama ia ke dapur, memeriksa persediaan beras. Masih ada setengah kaleng kecil. Cukup, setidaknya untuk pagi ini. Ia mulai menanak nasi, memotong tahu dan tempe yang sudah ia rendam semalam untuk digoreng nanti di pasar.
Suara batuk ibunya terdengar dari kamar belakang. Bukan batuk biasa, batuk yang dalam, berat, dan berdarah. Tapi Nina sudah terbiasa. Bukan terbiasa dalam arti baik, tapi terbiasa memendam panik.
Ia menghampiri ibunya, membawa air hangat dan kain basah. “Bu... Bangun dulu ya, aku lapin dulu,” ucapnya lembut.
Bu Sari menggeleng pelan, tapi matanya basah. “Maafin Ibu, Nak... Ibu jadi beban, harusnya kamu sekolah, bukan gini...”
Nina memaksakan senyum dan duduk di samping ibunya. “Nina nggak apa-apa. Sekolah itu buat yang mampu. Sekarang yang penting Rani sama Adit bisa makan.”
Tak lama kemudian, ia mandikan adiknya Adit yang masih setengah mengantuk dan membantu Rani memakai baju. Di luar, suara tetangga sudah mulai ramai, dan Nina harus bersiap.
Nina dan ibu pun pergi ke pasar, di jalan. Ibu jalan dengan bungkuk, usia sang ibu baru 33 tahun, namun fisiknya sekarang sangatlah lemah
Langkah kecil Nina mengikuti ibunya menyusuri jalan sempit yang dipenuhi jemuran, sepeda motor yang parkir sembarangan, dan anak-anak kecil yang berlarian tanpa alas kaki. Udara pagi itu terasa lengket oleh bau gorengan, asap knalpot, dan suara televisi dari rumah-rumah berdinding tripleks.
Di atas kepala mereka, kabel-kabel listrik berseliweran seperti jaring laba-laba. Bangunan-bangunan reyot bertumpuk seperti kotak kardus yang dipaksa berdiri di tanah yang sempit. Udara pengap, penuh sesak oleh deru kehidupan yang tak pernah benar-benar tidur.
Nina menoleh ke kejauhan, ke arah gedung tinggi yang menjulang di balik deretan rumah seng. Dindingnya bersih, kacanya memantulkan cahaya pagi. Di sana, hidup tampak seperti berada di dunia yang berbeda, lebih tenang, lebih teratur, dan tak tersentuh debu jalanan yang melekat di pipinya.
Ada jeda hening dalam benaknya. Jarak antara tempatnya berdiri dan gedung itu mungkin hanya dua kilometer, tapi terasa seperti dua dunia yang tak bisa saling menyentuh. Di sini, orang-orang berdesakan untuk air bersih. Di sana, mereka mungkin memiliki kolam renang di lantai atas.
Nina menggenggam tangan ibunya dengan lebih erat.
Beberapa jam kemudian, Nina berdiri di lapak kecil di sudut pasar bersama ibunya. Wajah ibunya pucat, tapi masih memaksakan diri menggoreng. Seorang ibu-ibu langganan datang. “Tahu gorengnya keras! Kamu ngasih makan orang atau ngasih makan batu?” katanya nyinyir.
Nina hanya menunduk sedikit. “Maaf ya, Bu. Saya gantiin, yang ini baru goreng.”
Dalam hati, ia bergumam, “Sabar, demi uang beli beras…”
Beberapa waktu kemudian
“Nina, jangan lupa bilang makasih ke Bu Sari nanti, ya. Ibu utang cabai kemarin,” ujar Ibu sambil menggenggam erat tangan anaknya.
“Iya, Bu…” jawab Nina pelan, suaranya tenggelam dalam keramaian anak-anak kecil yang bermain bola plastik di gang.
Mereka berhenti sejenak di ujung gang. Di sana, sebuah jalan lebih besar terbentang, dan dari celah bangunan yang terpotong, Nina bisa melihatnya, gedung bertingkat dengan kaca berkilauan, menjulang seakan menyentuh langit mendung.
Nina mendongak. Matanya terpaku.
“Bu… Itu gedung apa ya? Baru liat.” tanyanya lirih.
Ibunya ikut menoleh, matanya menyipit menahan silau.
“Entah… Mungkin apartemen baru,” jawab sang Ibu datar, lalu menarik pelan tangan Nina agar kembali berjalan.
Di sekelilingnya, rumah-rumah sempit berderet tanpa jarak. Kabel-kabel listrik menjuntai seperti akar-akar tua yang menolak mati. Air tergenang di lubang aspal, mencerminkan langit kelabu yang sama, tapi tidak pernah mencerminkan dunia di balik kaca-kaca tinggi itu.
“Kenapa rumah kita nggak kayak gitu, Bu?” tanya Nina lagi, masih menatap gedung itu.
Ibunya tidak langsung menjawab. Suaranya lambat, tapi hangat.
“Karena kita hidup di sisi kota yang harus kerja lebih keras untuk sekadar tinggal. Dunia ini kapitalis... Yang kaya akan semakin kaya, yang miskin akan semakin miskin..."
Nina hanya terdiam, lalu menoleh ke gedung tadi. Dia pun mengalihkan pandangan dari gedung itu dan kembali fokus ke pelanggan.
Lalu, seseorang berdiri tak jauh dari lapak itu. Seorang cowok tinggi, bersih, dengan kemeja santai dan tas selempang, rambutnya sedikit awut-awutan, tampak seperti aktor drama Korea yang nyasar ke pasar tradisional. Ia mencatat sesuatu di buku kecilnya, lalu menatap Nina yang sedang menyusun tomat. Ia mulai mendekat perlahan, ragu-ragu.
“Permisi…” suaranya lembut. “Kamu… Nina, ya?”
Nina menoleh, agak terkejut, matanya refleks mencari wajah yang dikenalnya. Namun tak menemukan. Ia menunduk sedikit, lalu menjawab pelan.
“I-iya… Maaf, kita pernah ketemu sebelumnya?”
Cowok itu mengangguk kecil, cepat-cepat tersenyum agar tak terkesan aneh.
“Aku Steven Reka Gunawan. Mahasiswa dari UI. Lagi magang sosial di kampus. Sering ke sini beberapa hari terakhir. Boleh ngobrol bentar nanti, kalau nggak sibuk?”
Nina belum sempat menjawab, ketika suara batuk terdengar dari dalam rumah—keras, dalam, dan lama. Bu Sari muncul dari balik pintu, wajahnya pucat, matanya cekung tapi tetap memperhatikan laki-laki itu dengan tatapan waspada.
Reka refleks menunduk sopan.
“Permisi, Bu… Saya cuma ingin sedikit wawancara, untuk bahan dokumentasi tugas. Soal kehidupan warga sekitar sini, khususnya yang mandiri meski dalam keterbatasan.”
Bu Sari menghela napas, sejenak menatap Nina, lalu kembali ke Reka. Tatapannya lembut tapi tajam, seperti seseorang yang belajar berhati-hati setelah terlalu sering dikecewakan.
“Nina bantu saya dari kecil, Mas,” ujarnya lirih tapi jelas. “Kalau memang niatnya baik, ya... kami nggak keberatan, asal nggak ganggu jualan.”
Reka langsung mengangguk.
“Nggak, Bu. Janji. Saya bisa tunggu sampai lapaknya tutup. Saya cuma ingin tahu lebih dalam, tentang perjuangan sehari-hari, hal-hal kecil yang mungkin luput dilihat orang lain…”
Nina menunduk sedikit. Wajahnya masih malu-malu, tapi kini ada sedikit rasa penasaran di matanya.
Reka duduk di bangku kayu panjang yang mulai lapuk di ujung gang sempit itu. Motor-motor berlalu lalang, klakson bersahutan, aroma gorengan, asap rokok, dan debu bercampur jadi satu. Ia menatap jam tangannya, sedikit resah.
Suara langkah tergesa mendekatinya.
“Mas Reka, ya?” tanya seorang perempuan paruh baya, membawa keranjang belanja berisi sayur. Logat Jawanya terasa kental.
Reka menoleh cepat dan berdiri sopan. “Eh iya, ada apa ya Bu?”
Perempuan itu berhenti sebentar, lalu berkata, “Ini, katanya Mas Reka mau interview si Nina ya? Nah, si Nina-nya gabisa datang, Mas. Tadi ibunya... TBC-nya kambuh parah. Jadi Nina nggak bisa tinggalin rumah.”
Reka tercenung. Matanya sedikit melebar, sebelum ia menghela napas panjang, menunduk penuh hormat.
“Ah, nggak apa-apa, Bu. Saya cuma mahasiswa, kok. Maaf malah merepotkan... Tolong sampaikan salam saya ke Nina, ya.”
Perempuan itu tersenyum kecil, lalu berlalu, kembali menyatu dengan keramaian pasar.
Reka masih berdiri di tempatnya. Matanya menatap jalan yang Nina lewati tadi pagi—sunyi sekarang. Langit mendung menggantung di atas Jakarta Barat yang ramai, namun tetap terasa sepi.
“Dia… Lebih muda dari adikku, tapi matanya seperti perempuan dewasa yang lelah,” batin Reka.
Seakan dunia menuntutnya tumbuh, tapi lupa memberinya waktu untuk belajar hidup.
Kilasan masa kecil Reka menari di benaknya. Sepatu sekolah basah karena hujan yang menerobos celah atap rumahnya di desa. Ia pernah duduk di bawah lampu minyak, menghafal rumus sambil menjaga adik yang demam. Beasiswa demi beasiswa dilaluinya, juga pekerjaan sambilan yang membuat waktu tidurnya tak utuh.
Namun, Nina berbeda. Ia bahkan belum cukup umur untuk bekerja... tapi ia sudah jadi tulang punggung.
Reka melangkah perlahan ke tenda relawan. Beberapa mahasiswa berkumpul sambil tertawa kecil, mencatat hasil observasi mereka.
Di meja sudut, seorang pria separuh baya dengan kemeja batik duduk sambil menandai lembar laporan. Namanya: Pak Guntur Hartawan, dosen pembimbing magang yang terkenal tegas tapi adil.
Pak Guntur menatap Reka dari atas kacamatanya. “Bagaimana dengan anak yang saya tugaskan untuk kamu observasi?”
Reka berdiri tegak. Hening sebentar sebelum menjawab.
“Saya mau lanjut observasi anak itu, Pak... Tapi sendiri.”
Pak Guntur mengangkat alis. “Sendiri? Bukankah kamu satu tim dengan Sani dan Restu?”
Reka mengangguk mantap. “Ya. Tapi saya... Saya merasa ini tanggung jawab yang ingin saya pegang langsung. Anak itu... saya nggak bisa diam saja setelah melihat kondisinya.”
Pak Guntur terdiam sejenak. Lalu membuka map biru di hadapannya, mencoret dua nama dengan tinta merah, dan menulis nama "Steven Reka Gunawan" di bawah kolom "Penanggung Jawab Observasi Kasus Lapangan."
“Saya akan mencoret dua rekanmu dari daftar. Artinya, semua tanggung jawab pengamatan anak itu... Di tanganmu. Ini amanah, Reka.”
Reka mengangguk pelan, namun penuh keyakinan.
“Baik, Pak. Saya siap.”
…
Di keesokan harinya
Di hari itu, langit mendung menggantung di atas gang-gang sempit Jakarta Barat. Udara terasa lembap, aspal bekas hujan masih licin dan menyisakan aroma tanah basah bercampur debu. Reka menapaki lorong demi lorong sambil membawa sekantong roti tawar dan sebungkus susu bubuk. Ia sudah bertanya ke tiga warung, dua pedagang, dan satu anak kecil yang akhirnya menunjukkan rumah kontrakan reyot milik keluarga kecil itu.
“Nomor 17A… ini dia,” gumamnya pelan.
Reka mengetuk pelan pintu kayu yang catnya sudah terkelupas.
Di dalam, Nina sedang duduk bersila di lantai semen yang dingin. Di pangkuannya, Adit tertidur pulas dengan tangan menggenggam baju kakaknya. Nina sedang mencampur adonan gorengan dengan tangan, pelan-pelan agar tidak membangunkan adiknya. Ketukan pelan di pintu membuatnya mendongak.
Ketika pintu dibuka, matanya membulat kaget.
“Kak Reka? Kakak tau dari mana rumah aku?”
Reka tersenyum santai. “Aku bertanya ke warga sekitar. Mereka ramah-ramah, langsung kasih tahu.”
Nina tergagap sebentar. “A-aku… Maaf, ya kak. Kemarin aku nggak bisa datang... Ibu tiba-tiba kambuh parah. Aku… Aku udah siap kok sekarang, kalau kakak masih mau interview.”
Reka melambaikan tangan pelan sambil duduk bersila di lantai depan rumah.
“Nggak usah, Nina. Aku ke sini bukan buat interview kok. Aku cuma mau bantu. Ada yang bisa aku bantu sekarang?”
Nina menatapnya heran. Matanya masih menyimpan letih semalam, tapi juga ada sedikit bingung… Kenapa seseorang yang tidak dikenalnya dengan baik, mau datang sejauh ini hanya untuk membantu?
“Kakak… Nggak ada urusan kampus?”
“Ada. Tapi aku lebih pengen ke sini dulu.” jawab Reka singkat sambil tertawa pelan.
Hari itu, Reka hanya membantu menyendokkan adonan ke dalam ember dan mencuci piring yang menumpuk. Tak banyak bicara, hanya sesekali bercanda dengan Rani yang sedang main boneka kertas buatan sendiri.
Hari-hari berikutnya, Reka kembali lagi. Kadang hanya duduk sambil memandangi gerobak gorengan yang dilapisi koran bekas. Kadang membantu angkat galon, menjaga Rani saat Nina ke pasar atau warung. Kadang diam saja, tapi keberadaannya membawa rasa aman yang jarang Nina rasakan dari orang luar.
Warga mulai memperhatikan. Bisik-bisik pelan mulai terdengar. “Si anak UI itu sering banget ya ke rumah si Sari?” “Jangan-jangan suka sama Nina…” Tapi Reka tak peduli.
“Biarkan,” katanya suatu kali saat ditanya kawannya sesama relawan. “Kalau kehadiranku bisa meringankan beban dia, aku akan terus datang.”
…
Malam turun dengan derasnya hujan. Angin menusuk celah-celah dinding triplek yang sudah lapuk. Langit tak ramah, dan atap rumah kontrakan bocor lagi di beberapa sudut. Nina menggulung Rani dan Adit dalam selimut tipis yang sudah bolong di beberapa bagian, lalu berdiri pelan, menadahkan ember bekas cat ke arah tetesan air yang bocor dari langit-langit.
Ibunya menggigil di kasur kapuk, napasnya sesekali terhenti oleh batuk panjang yang basah dan dalam. Nina mengatupkan bibir, mencoba tak panik.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki berlari dari luar gang sempit.
“Nina?” terdengar suara yang familiar. “Kalian butuh bantuan?”
Nina menoleh. Di bawah payung hitam, Reka berdiri, pakaiannya agak basah, namun ia tetap tersenyum. Di tangannya ada dua termos, satu untuk bubur, satu lagi untuk teh hangat.
“Eh? Kak Reka? Ah iya kak! Kami butuh bantuan!” ujar Nina terburu-buru, tetap memeluk erat ember di tangannya.
Melihat keadaan rumah, Reka langsung bergerak. “Tunggu di dalam. Aku ambil sesuatu dulu.”
Ia berlari kembali ke ujung gang, lalu datang lagi membawa tas perkakas, selembar terpal plastik, dan beberapa potongan seng bekas.
Malam itu, di bawah hujan deras, Reka memperbaiki sebagian atap rumah kontrakan Nina, memaku, menambal, dan menutup bocor seadanya. Di dalam, Nina menuangkan teh ke gelas plastik dan menyendokkan bubur untuk adik-adiknya.
Setelah semuanya tenang, Reka duduk lelah di sudut rumah. Ia membuka sebuah buku dari tasnya dan mulai membaca, membiarkan suasana tenang meredakan lelahnya. Nina, yang duduk tak jauh, mengusap rambut Adit dan Rani yang sudah tertidur di pelukannya.
Lalu, suara Nina terdengar pelan.
“Kakak bukan yang pertama...”
Reka menoleh. “Apa?” Reka bertanya dengan nada bingung.
Nina menatap ke arah lampu temaram yang menggantung di atas. “Sebenarnya… Ada tiga mahasiswa yang pernah datang ke sini sebelumnya. Tapi… Semuanya cuma datang buat interview. Duduk, nanya-nanya, lalu pergi begitu saja…”
Ia menghela napas. “Kami nggak pernah berharap banyak. Tapi... Rasanya kayak mereka tuh datang cuma buat numpang tugas. Mereka ramah sih, tapi cuma formalitas. Aku bisa lihat... Nggak ada empati di mata mereka.”
Reka terdiam. Hanya suara rintik hujan dan napas tidur adik-adik Nina yang menemani.
“Tapi kakak...” lanjut Nina pelan, menoleh ke arah Reka. “Kakak beda. Sudah tiga minggu kakak bantu kami. Kakak dateng terus, bantu ini itu… Tapi nggak pernah maksa, nggak pernah nanya yang aneh-aneh. Kakak... Tulus. Kakak datang dengan hati.”
Nina menggigit bibir, matanya berkaca-kaca. Lalu dengan suara lirih, ia menoleh ke dua adiknya.
“Terima kasih… Kak Reka…”
Reka menutup bukunya pelan, menatap langit-langit bocor yang kini sudah tak netes lagi.
Monolog batin Reka
"Kenapa orang sebaik ini harus menderita? Anak seumur dia harusnya sibuk belajar, main, tumbuh. Tapi dia di sini… Bertarung sendiri demi hidup. Sistem ini… Benar-benar cacat. Dunia ini nggak adil."
…
Di suatu hari… Tubuh Bu Sari makin melemah. Batuknya sudah tak hanya berdarah, tapi juga disertai sesak yang membuatnya sulit tidur. Suatu malam, ia ambruk di dapur kecil, tepat saat ingin mengambil air panas. Nina panik. Tetangga terdekat datang membantu. Dalam hujan yang kembali turun, mereka membawa Bu Sari ke puskesmas, lalu dirujuk ke rumah sakit daerah.
Biayanya? Nina bahkan tak mampu membayar transportasi ambulans.
Dengan napas tersengal dan tangan gemetar, ia duduk di ruang tunggu rumah sakit, memangku Rani yang menangis diam-diam. Tak ada sanak saudara, tak ada uang, dan tak ada pilihan.
Namun, di hari berikutnya, secara mengejutkan, biaya rawat inap ibunya ditanggung oleh sebuah program bantuan sosial. Perawat memberitahu bahwa seorang mahasiswa bernama Steven Reka yang mengurus semuanya.
Dan di keesokan Harinya.
Di siang itu, Nina menemui Reka di ujung gang tempat mereka biasa berbincang. Wajahnya tegang. Tangan menggenggam plastik kosong, dan matanya sembab.
“Kenapa kakak ngelakuin itu?” suaranya datar, tapi terdengar getaran emosi.
Reka sedikit terkejut, namun tetap tenang. “Karena aku tahu kamu nggak akan pernah minta.”
“Tapi aku nggak minta dikasihani!” Nada Nina meninggi, matanya berkaca. “Kakak udah cukup bantu aku selama ini. Lebih dari cukup! Aku nggak mau dijadiin proyek amal, kak!”
Reka menghela napas, lalu berkata lembut, tapi tegas.
“Na… Aku nggak kasihan. Bukan itu.” Ia menatap mata Nina dengan sungguh-sungguh. “Aku cuma… Nggak tahan lihat kamu nyiksa diri sendirian. Kamu masih remaja. Tapi kamu terus-terusan mikirin semua orang, kecuali dirimu sendiri.”
Nina mengatup bibir, tangan mengepal. Matanya basah. Suara isaknya mulai pecah.
“Aku… Aku juga nggak kuat, Kak…” ucapnya lirih, tubuhnya mulai gemetar.
Ia mencoba menahan, tapi tak sanggup. Isaknya pecah. Dengan langkah kecil, ia maju, dan tiba-tiba memeluk Reka, erat. Seolah menumpahkan semua beban yang tak pernah sempat ia keluarkan.
“Terima kasih, Kak Reka... Terima kasih...” ucapnya di sela-sela tangis.
Reka tak berkata apa-apa. Ia hanya membalas pelukan itu dengan satu tangan yang mengusap kepala Nina pelan, dan satu tangan lagi menggenggam bahunya, seperti pelindung yang diam.
Dalam pelukan itu, tak ada cinta romantis. Yang ada hanya ketulusan. Hati yang ingin menguatkan, dan jiwa yang ingin dipeluk.
Beberapa minggu kemudian
Langit sore tampak jingga, memudar pelan di balik deretan atap rumah kontrakan. Semilir angin membawa aroma gorengan dari warung Bu Rini di ujung gang. Di dalam kontrakan sederhana itu, suara kertas dibalik dan gumaman pelan terdengar dari pojok ruangan.
“Deflasi itu penurunan harga barang secara umum dan terus-menerus...”
Nina membacanya pelan, lalu memandang ke arah Reka yang duduk bersila sambil menulisi sesuatu di bukunya.
“Benar,” jawab Reka sambil tersenyum kecil. “Tapi coba tambahkan contohnya. Misalnya...?”
“Ehm... Kalau harga cabe dan beras turun selama beberapa bulan?”
“Bagus! Lanjut.”
Nina tertawa pelan, matanya berbinar. Di antara halaman buku bekas dan coretan pensil di kertas HVS yang sudah menguning, dunia baru seolah membuka pintunya kembali.
Malam itu, mereka duduk berdua di atap kontrakan. Reka membawa dua gelas teh hangat dalam plastik, sementara Nina masih memeluk buku Ekonomi kelas X yang kertasnya mulai terkelupas di tepinya.
Bintang-bintang tak terlalu terang malam itu, tapi cukup untuk membuat langit terlihat luas dan jauh seperti mimpi-mimpi yang dulu tak berani dipikirkan Nina.
“Aku udah lama banget gak buka pelajaran begini,” kata Nina pelan. “Tapi ternyata... otakku masih bisa mikir ya.”
Reka menoleh, mengamati wajah Nina yang tampak tenang diterpa cahaya lampu jalan yang tembus samar dari bawah.
“Kamu bukan berhenti mikir, Nina. Kamu cuma berhenti diberi kesempatan,” ujar Reka. “Tapi sekarang... Kamu lagi ngasih kesempatan ke dirimu sendiri.”
Nina diam sebentar, menatap langit seperti sedang menyusun sesuatu yang lama terpendam.
“Aku pengen sekolah lagi, Kak... Suatu hari,” katanya dengan suara pelan, hampir seperti berbisik pada bintang.
Reka menatapnya. Senyumnya tidak lebar, tapi hangat dan tulus.
“Kamu bisa,” jawabnya yakin. “Kalau kamu mau, aku akan bantu.”
Keesokan harinya, Reka menyelipkan secarik kertas kecil ke dalam buku Nina:
“Orang yang paling tidak beruntung adalah orang yang menyerah sebelum mencoba.”
– Ditulis dengan tulisan tangan miring, dan ditandatangani: R.
Pagi itu, langit Jakarta mulai cerah setelah hujan semalam. Daun-daun masih basah, dan aroma tanah menguar di udara. Di depan kontrakan yang masih basah oleh embun, Reka berdiri dengan ransel di punggungnya.
Nina menatapnya sambil memeluk erat buku-buku pemberian Reka, dan juga sebuah ponsel sederhana yang masih terasa asing di tangannya.
“Jadi… Kakak beneran pergi?” tanyanya pelan, suaranya ditahan agar tak bergetar.
Reka mengangguk. “Tugas lapangan ku udah selesai. Tapi aku nggak akan benar-benar pergi. Kalau kamu butuh aku… Nomor yang aku kasih masih aktif. Hubungi kapan aja, ya?”
Nina menggigit bibir, lalu mengangguk pelan.
Reka menyunggingkan senyum. “Kamu udah cukup kuat, Na. Tapi ingat, kuat bukan berarti harus sendirian. Dunia emang jahat, tapi kamu nggak sendiri.”
Nina menunduk. Lalu, dengan suara hampir berbisik, ia berkata:
“Makasih, Kak Reka… Dunia memang jahat, tapi... Nggak semua orang jahat. Seperti kakak.”
Reka menatapnya, lalu menjawab lembut, “Terus hidup, Nina. Terus kuat, terus jadi kamu.”
Ia berbalik, mulai berjalan meninggalkan gang sempit yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama beberapa minggu terakhir. Tapi sebelum benar-benar pergi, ia berbalik lagi dengan senyum di wajahnya.
“Oh iya… Selamat atas beasiswa full-nya ya. Nadina..."
Nina terkejut, lalu tersenyum. Matanya berkaca-kaca, panggilan Nadina yang di ucapkan untuk pertama kalinya oleh Reka.
“Kak…” panggilnya. Ia berlari mengejar Reka, dan tanpa berkata apa-apa, langsung memeluknya. Dan menangis di pelukan Reka.
Reka tertawa pelan. “Kalau mau meluk, bilang-bilang dong.”
Tangannya terangkat, mengusap kepala Nina dengan lembut. Tak ada kata-kata lagi, hanya keheningan yang saling bicara.
Esok paginya, suara wajan dan tawa anak-anak kembali terdengar dari kontrakan kecil itu. Namun ada yang berbeda.
Nina mengikat rambutnya rapi, mengenakan seragam SMP putih biru yang baru, agak kebesaran, tapi bersih. Di dekat pintu, dagangan gorengan tetap ditata, tapi kini dijaga oleh tetangga yang menggantikan Nina sebentar.
Ibu Sari duduk bersandar, jauh lebih sehat, tersenyum melihat putrinya melangkah ke luar rumah.
Nina menatap ke arah jalan raya, ransel biru tua di punggung, dan buku bekas pemberian Reka di tangannya.
Hari ini adalah hari Senin. Hari pertama ia sekolah kembali, di SMP Negeri 169 Jakarta dengan beasiswa penuh dari sebuah organisasi sosial.
Langkah kakinya ringan. Matanya menatap ke depan.
Karena kini… Nina tak lagi hanya bertahan.
Ia mulai berjalan.
Menuju masa depan.