"Bagaimana rasanya di hianati oleh sahabat, sakit bukan?" Killa hanya tersenyum sinis memandang Nirmala.
Killa, adalah seorang pembunuh. Ia membunuh bukan tanpa sebab, melainkan untuk memuaskan nafsunya. Hal itu membuat dirinya menjadi incaran para polisi.
Mendengar sahabatnya menjadi buronan, Nirmala tak tinggal diam. Ia melakukan segala cara, agar Killa, sahabatnya menjadi normal.
***
Ia adalah seorang ilmuan jenius, berkat kepintarannya ia berhasil menciptakan sebuah mesin waktu. Hari ini, ia memutuskan akan melakukan perjalanan waktu.
"Killa, aku akan menyelamatkanmu, mesti waktu yang kumiliki hanya 1 jam, tapi itu sudah lebih dari cukup" Ucapnya sembari memandang foto dirinya bersama sahabatnya itu, Killa.
Terlihat, dinding dinding itu di penuhi oleh koran-koran berita tentang Killa dan juga fotonya bersama sahabatnya itu.
Ia mengambil foto itu dan menyimpannya kedalam saku. Setelah itu, ia berjalan memasuki mesin waktu.
Wushhh....
Alat itu membuat tubuhnya melayang, dan membawanya pergi ke masa lalu.
"Ughh"
Ia terbangun pada sebuah kursi di pinggir taman. Tengok kanan dan kiri, "Ahhh, akhirnya aku bisa menyelamatkannya"
Dong...
Lonceng jam kota berbunyi tepat pukul 12.00 sebentar lagi, kejadian mengerikan itu akan terjadi.
"Killa" Ia berlarian menuju rumah sahabatnya itu tanpa melihat sekitar.
Brukk... Brukk...
Ia tak peduli dengan orang orang sekitar yang ia tabrak, asalkan ia dapat menyelamatkan sahabatnya. Mungkin baginya, Killa adalah sebuah cahaya yang datang di tengah tengah kegelapan. Menyelamatkannya dari kegelapan yang memerangkap dirinya.
***
"Bocah sialan, kamu harus berterimakasih karena aku membelimu dari pasar loak itu. Mulai sekarang kamu akan bekerja disini tanpa upah, tenang saja aku akan memberimu pakaian bekas, kamar tidur, dan beberapakali fasilitas pokok" Kata seorang wanita tua.
"Baik"
Saat itu, ia sama sekali tak mengerti apa itu tujuan hidupnya. Selama ia masih di beri makan, baginya itu tak apa apa. Ia hidup menyendiri tanpa adanya seseorang yang mau berbagi suka dan suka dengannya.
Hingga, seorang anak kecil mengulurkan tangannya kepadanya, ia adalah Killa.
"Mau jadi temanku?"
"Memangnya boleh?"
"Tentu saja, karena mulai sekarang kamu temanku"
"Baik"
***
Masa masa yang indah itu, tentu saja tak dapat ia lupakan begitu saja.
"Ahh, tinggal menunggu beberapa menit lagi, maka pembunuhnya akan ketahuan" Ujarnya yabg sedang bersembunyi di celah celah gang kecil, antara dua rumah.
Tapp...Tapp...Tapp...
Terdengar langkah kaki seseorang yang sedang berjalan menuju rumah sahabatnya itu.
Terlihat kedua orang tuannya Killa beserta keluarganya sedang berada di depan rumah dan mengenakan baju yang rapi. Tampaknya mereka akan menghadiri sebuah acara. Setidaknya hampir semua anggota keluarganya muncul, terkecuali paman dan Killa itu sendiri.
Wajar jika Killa tak ada, mungkin saja itu acara untuk orang dewasa. Lagi pula ia memiliki penyakit jantung, jadi ia tak diperbolehkan untuk berpergian dan mengikuti berbagai acara.
Begitu juga dengan sosok pamannya. Pamannya sangat membenci keluarganya, setidaknya hal itu bermulai ketika kakeknya memilih ayahnya untuk menjadi kepala keluarga. Padahal ia adalah seorang adik, sedangkan anak tertua itu sendiri adalah pamannya.
"Heh" Sosok berjubah hitam itu tersenyum sinis. Wajahnya tak terlihat, kecuali senyuman yang menakutkan itu.
Sosok itu lalu berjalan menghampiri keluarga Killa, dan berdiri dengan tegap.
"Sial" Gertak Nirmala sambil mengigit jarinya, ia tak sabar untuk melihat wajah pelaku di balik semua kejadian itu.
"Si-siapa kamu?"
"A-y-a-h, ayah"
"Hah"
Sosok itu membuka jubahnya dan benar, pembunuhan itu di lakukan oleh Killa sendiri. Nirmala duduk termenung, dan memikirkan semua hal yabg terjadi. Bagaimana bisa pembunuh dari keluarga Killa itu adalah Killa itu sendiri?!
"Hah? Ki-ki-killa"
Sosok gadis bertubuh mungil itu hanya terdiam beserta pisau daging yang ia pegang di tangan kanannya. Seluruh keluarganya pun hanya berdiri diam, dan ketakutan melihat anaknya itu berubah menjadi monster.
"Hahahaha!" Ia tertawa keras sembari menikmati hal hal yang ia lakukan, membunuh.
"Bagaimana rasanya? Kalian selalu menyiksaku, dan berpura-pura menjadi keluarga yang baik, kini rasakan akibat dari perbuatan kalian." Ucap gadis itu sambil menatap orang orang yang ia bunuh itu dengan tatapan sinis.
Kobaran api membakar rumah keluarga Bilqis, ya itu adalah nama keluarganya. Killa Putri Bilqis adalah namanya.
Nirmala, menutup mulutnya dengan air mata yang tak henti mengalir dari matanya. Ia tak menyangka akan melihat adegan berdarah itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Ughh"
"Cepatlah keluar, kamu yang bersembunyi di sana" Ujar Killa dengan nada datar.
"Ki-killa"
"Ahh...kamu mirip dengan temanku, siapa ya namanya...um...ahh iya Nirmala"
"Kamu..."
"Ahh...aku pernah mendengar kasus time travel, apakah kamu dia dari mana depan? Jika iya beritahu aku seperti apa aku di mana depan? Apakah aku akan menjadi pembunuh yang hebat?" Ia tertawa terbahak-bahak tanpa adanya rasa penyesalan di hatinya.
Iap bukannya Killa yang dulu. Sahabat Nirmala. Sosok yang ia kenal dahulu.
"Kamu... bukanlah Killa yang aku kenal. Killa yang aku kenal adalah gadis kecil lemah lembut, kamu bukan dia!" Kata Nirmala, air mata itu membasahi pipinya yang chubby.
Kini, sosok yang berhadapan dengannya bukanlah Killa, tapi Bilqis. Sang malaikat iblis.
Yah...memang itulah asal usul keluarganya. Bisnis keluarganya sendiri adalah pembunuh bayaran, wajar bukan?!
"Ka-ka-kamu, 12 tahun mendatang kamu akan menjadi buronan polisi dan kemudian di tangkap dan di hukum mati" Ia menggenggam erat tangannya.
"Wahh, benarkan? Akhirnya impianku tercapai, hahaha"
"Tapi sayangnya, hidupmu harus berakhir di sini" Ia lalu berlarian ke arah Nirmala sambil menodongkan pisau daging kearahnya.
"Nah, kamu mau aku bunuh bagaimana? Karena kamu sendiri cukup baik kepadaku, maka aku akan baik kepadamu" Sinis gadis itu.
"Tidak! Bukan kamu yang akan membunuhku, tapi aku akan membunuhmu. Karena kita sahabat, maka apa yang kamu lakukan harus aku lakukan juga. Jika kamu membunuh, maka aku akan membunuh juga"
"Wahh, sungguh menarik" Gadis psikopat ini memberikan senyuman kepada Nirmala.
"Tapi sayang, orang yang melihat kejadian ini harus...Mati!" Ia pun mengarahkan pisaunya kepada Nirmala. Ia berusaha untuk menghindar sari serangan Killa, namun tetap saja kemampuannya tak dapat menandingi Killa.
"Matilah!"
Nirmala berlari untuk menghindari serangan Killa yang membabi buta itu. Kekiri dan kekanan. Brukk!!! Kakinya tak sengaja tersandung batu yang membuatnya terjatuh. Ia tak bisa bangun, karena Killa telah berdiri tepat di hadapannya.
"Yah...aku tidak suka basa basi, jadi mari kita selesaikan dengan cepat, hehe" Ujar gadis psikopat itu.
"Tidak...tidak...tidak" Nirmala terus menggelengkan kepalanya, apa yang akan terjadi jika ia mati, apakah masa lalu dan masa dengan akan berubah sepenuhnya?
"Bagaimana rasanya di hianati oleh sahabat, sakit bukan?" Killa hanya tersenyum sinis memandang Nirmala.
"Hehe"
JLEBBB...
"Tidak!"
"Nir-ma-la" Ucap Killa dengan nada terbanta-banta. Pisau itu tak mengenai Nirmala sama sekali, justru mengenai Killa, dirinya sendiri.
"Heh, teryata kamu memegang ucapanmu"
"Ma-maaf" Tubuhnya terpaku, dan lagi matanya tak henti henti untuk menangis. Ini adalah pertama kalinya ia membunuh makhluk hidup.
"Ahahaha, lucu sekali bukan? Aku yang bercita-cita menjadi pembunuh berantai terkenal malah terbunuh oleh sahabatku sendiri, heh" Ia hanya menatap Nirmala dengan tatapan sinis.
Brukk...
Tubuhnya sudah tak bertenaga dan akhirnya jatuh ke tanah. Nirmala pun memeluk tubuh sahabatnya itu dengan bersimbah darah.
Tiba-tiba, tubuhnya mulai menghilang perlahan-lahan. Dan berubah menjadi kepingan-kepingan kecil. Sudah 1 jam berlalu, kini ia harus kembali ke masa depan.
***
"Ughh" Ia mengucek matanya. Lalu bangun dari tempat ia pingsan tadi. Ia kemudian berjalan keluar dari ruangannya itu dan menghampiri foto foto dirinya bersama Killa. Kini, koran koran tentang Killa si pembunuh berantai menghilang begitu saja, hanya tersisa foto mereka.
"Siapa gadis yang bersamaku di foto itu?"
[End]
By Lisaa Lisaya