Kepulan asap dari segelas kopi yang berada di depanku kini sudah tidak terlihat lagi. Secangkir kopi yang biasanya habis dalam sekejap, kini terabaikan begitu saja karena aku yang memilih terjun ke dalam sebuah lamunan sejak tiga puluh menit yang lalu.
Duduk sendirian di sebuah bangku yang berada tepat dekat jendela, memerhatikan orang-orang berlalu lalang di jalanan sana, kendaraan yang bergerak lambat dan terkadang berhenti mendadak sebab kemacetan yang tak bisa terelakkan.
Sudah biasa, jalanan di Jakarta memang selalu seperti ini.
Aku menghela napas, pikiranku sedang kacau saat ini. Bayangan tentang dirimu yang mengenakan gaun putih menjuntai, dengan kain yang menutupi kepalamu secara keseluruhan, riasan natural yang benar-benar memancarkan kecantikanmu membuat aku tak mampu memikirkan apa pun lagi selain hal itu.
Seketika, aku terpaku, terpesona ketika melihatmu datang bersama dua orang perempuan yang berjalan di sampingmu. Mengantarmu menuju ke sebuah kursi untuk duduk berdampingan dengan seorang pria yang telah mengucapkan kalimat ijab kabul, pertanda jika kau sudah terikat sehidup semati dengannya saat ini.
Aku hanya bisa tersenyum meskipun hatiku meronta ingin berteriak pada semua orang, pada semesta ini jika kau adalah milikku. Tapi, aku tak bisa melakukan hal itu. Aku tak bisa menentang takdir Tuhan yang sudah tergaris sejak kita belum lahir ke dunia ini.
Waktu itu, aku mengarahkan kamera yang terkalung di leherku ke arahmu, mengambil gambarmu yang tengah menunduk sambil menadahkan tangan ketika sosok pria yang sudah resmi menjadi suamimu itu tengah menempatkan sebelah telapak tangannya di kepalamu, sambil merapalkan ayat-ayat yang tercantum dalam kitab agamamu.
Aku hanya mengambil gambarmu satu kali, sadar jika tak seharusnya aku masih menyimpan foto seseorang yang sudah menjadi milik orang lain. Meskipun sebelumnya, kau adalah milikku.
Ketika aku duduk di salah satu kursi tamu, sementara kau duduk di atas pelaminan bersama suamimu seraya mendengarkan petuah yang tengah diucapkan oleh ayahmu, mata kita saling bertemu.
Tatapan itu, aku tahu maksudnya. Tatapan sendu yang kau jatuhkan padaku, membuat hatiku teriris. Aku membalasnya dengan senyuman, seraya mengucapkan kalimat "selamat" tanpa mengeluarkan suara. Dan, aku tahu saat itu kau tengah menahan sesuatu dari matamu agar tidak keluar, kau memilih memalingkan wajah sementara aku tetap memandang wajahmu dari kejauhan.
Aku tersenyum tipis ketika mengingat itu, tanganku mengambil secangkir kopi yang sudah dingin, kemudian menyesapnya sedikit.
Ah, rasanya tak semanis ketika kau menemaniku menikmati kopi ini.
Kau tahu? Hal yang paling menyakitkan bagiku, bukanlah saat melihatmu bersanding dengan seseorang di atas pelaminan waktu itu. Tapi, ketika kau menangis di depanku satu bulan sebelum pria itu memasangkan sebuah cincin di jari manismu.
Saat itu, aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku yang salah waktu itu. Sejak awal, iman kita sudah berbicara jika kita tak mungkin bersama, tapi aku terlalu menjadi seseorang yang pemaksa. Padahal, ayahmu sudah berbicara padaku secara empat mata, jika agamanya tidak memperbolehkan kita untuk saling berhubungan lebih dari sebatas teman.
Ingin aku hapus air mata yang mengalir di pipimu, tapi aku menggantungkan tanganku di udara. Sadar jika tak seharusnya aku melakukan hal itu, aku sedikit tahu jika agamamu melarang umatnya untuk saling bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan pasangannya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Tuhanku, keluargaku, dan agamaku. Kita memang tercipta, untuk membuat kisah singkat yang akan menjadi sebuah kenangan nantinya. Tuhan, tidak menciptakan kita untuk saling bersama selamanya."
Itu adalah pernyataan yang aku ucapkan padamu, rasanya sangat berat ketika aku harus melepasmu.
Waktu itu, aku tersenyum padamu. Menatap wajah rupawan yang sepertinya Tuhan ciptakan sepenuh hati, cukup lama aku menatapmu seperti itu, karena aku tahu jika pertemuan kita ini adalah pertemuan terakhir sebelum kau dipinang oleh seseorang yang aku yakini, bisa membuatmu bahagia nantinya.
"Aku yakin, pria pilihan ayahmu adalah pria yang baik akhlaknya, dan pria yang bisa menuntunmu ke surga Tuhanmu," ujarku waktu itu.
Kau semakin terisak, membuat aku ingin sekali menarikmu ke dalam pelukanku. Sebisa mungkin aku menahannya, aku mengepalkan tangan sampai buku-buku tanganku memutih.
Aku hanya bisa mengembuskan napas pelan. "Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, kau membuatku sadar akan banyak hal."
"Ah... pria itu sangat beruntung karena bisa memilikimu. Kau wanita baik-baik, semoga Tuhan memberikan kebahagiaan untukmu."
Aku menggelengkan kepalaku, mencoba untuk keluar dari ingatan tentang pertemuan terakhir kita yang begitu menyakitkan. Tentang kau yang membalikkan tubuhmu lalu pergi menjauh dariku sambil menghapus air mata. Tentang kisah kita yang benar-benar berakhir saat itu juga.
.
.
.
.
.
.
.
Selesai.
Sumedang, 19 September 2020.