Aku sangat menyayangi ibuku. Kami hanya tinggal berdua saja karena ayahku sudah tiada.
"Dimakan ya, Bu! Bambang mau pergi bekerja dulu," ujarku, sambil menaruh sarapan di meja samping tempat tidurnya.
Sepulang bekerja, kulihat ibuku sedang duduk diam di sofa ruang tamu.
"Sudah sore. Ibu mandi dulu, ya!" kataku sambil membantu ibuku bangun dari duduknya.
Setelah selesai mandi, aku membantunya memasang pakaian dan mengikatkan pita putih di kepalanya.
Saat malam tiba, aku tidur di sampingnya. Aku tidak bisa membayangkan kalau ibu tidak ada, pasti aku akan merasa sangat kesepian.
"Bambang ..." terdengar suara lirih ibuku.
Aku menoleh ke samping, tampak ibuku tidak bergerak. Mungkin dia sedang mengigau. Aku kembali memejamkan mataku.
"Bambang ..." Lagi-lagi terdengar suara ibu memanggilku.
Kulirik lagi ke samping, ibuku masih terlihat pulas tak bergerak. Aku mencoba untuk kembali tidur.
"Bambang!!!" terdengar suara teriakan ibu yang membuat aku segera terbangun dari tidurku.
Aku menoleh lagi ke arah ibuku. Kali ini ibuku sudah tidak ada.
Aku segera mencari sosoknya. Ternyata ibuku sedang duduk di sofa ruang tamu. Aku membantunya kembali ke kamar dan membaringkannya di ranjang. Mungkin tadi dia sedang berjalan dalam mimpi.
"Bambang!!! Bambang!!! Keluar kamu!!!" terdengar suara orang-orang berteriak memanggilku.
Aku membuka pintu dan mendapati warga desa sedang mengepung rumahku. Beberapa orang menerobos masuk.
"Mayatnya ada disini!" teriak salah seorang warga. Mereka segera menggotong tubuh ibuku yang terbungkus kain kafan itu.
"Tidak! Jangan bawa ibuku!" teriakku.
"Ini peringatan terakhir, Bambang! Kalau kau masih menggali kuburan ibumu dan mencuri mayatnya, kami akan mengirimmu ke RSJ!" ancam Pak RT.
Aku hanya bisa pasrah melihat warga desa membawa ibuku dan menguburkannya kembali.
"Tenang saja, Bu! Nanti aku jemput ibu pulang ke rumah lagi." Aku tersenyum sambil menutup pintu rumahku.
"Ibu sudah pulang ..." terdengar suara lirih ibuku dari dalam kamar.
-TAMAT-