Masih sama, rasa ini masih sama, dimana kamu pernah meninggalkan ku, semua orang satu persatu mulai membenciku, entah itu karena perbuatanku, atau seseorang yang memang membenciku dan menebar fitnah atau hoax.
Sakit ...
Jika kamu memang tidak ditakdirkan untukku, lantas mengapa kamu berhasil mengobrak abrikan perasaanku.
Jika memang kamu tak mencintaiku, mengapa kau memberi harapan bagiku?
Sakit nggak orang yang kalian sayang mulai membenci kalian?
Memang ya, rencana tuhan itu sungguh sangat amat membuat hambanya tersiksa, tapi dari ujian itu aku belajar bagaimana kerasnya hidup.
•^•^•^•^•
Disini, dimalam yang dingin ini. Seorang gadis cantik berusaha menahan isak tangisnya, rasanya hampa.
Bagaimana rasanya ketika masalalu kita datang kedua kalinya? Hati gadis itu seperti disayat oleh benda tajam, satu persatu mulai tersayati.
'Ra!'
Hah, gadis berambut coklat itu terkejut dengan seorang lelaki yang berada tepat di depannya.
'Siapa lo?' Tanya gadis berambut coklat itu, yang tak lain bernama Almaira Grizelda Nafrada.
'Ternyata kamu lupa ya? Aku, cinta pertamamu, Yang telah membuat seluk hatimu terluka. Masih belum ingat?' Tanya pria tampan itu mendekat ke arah Zelda.
'Eh ngapain lo Nat? Jangan mendekat!' Zelda berusaha mundur untuk menjauh dari pria tampan itu yang bernama Nata Frasiona Alwitama.
'Maafin aku Ra!' Kata Nata dengan mata sendunya.
"Arghh, kenapa juga dia datang lagi!! Gue capek!! Gue capek!!" Teriak Zelda dibalkon rumahnya.
"Kenapa takdir gue begitu rumit? Apa gue punya dosa besar sampek diuji kayak gini? Gue capek, gue mau ngeluh!" Tubuhnya begitu lemah untuk bangkit, tak kuat menahan bendungan yang sejak tadi gadis itu tahan, lolos juga semua air mata gadis itu.
Zelda, gadis mungil berambut gelombang dan berwarna coklat itu terus terisak. Rambutnya mulai acak acakan, tubuh mungilnya sungguh lelah, matanya terus membasahi pipi tirus gadis itu. Bibirnya pucat pasi, bagai persis orang sakit. Hidung mancungnya berwarna merah, matanya serasa sudah pedih dan sembab, hingga akhirnya gadis itu terlelap di balkon.
•^•^•^•^•
"Yaampun Al, kenapa mata lo? Kok bisa sampek sembab gitu? Lo abis nangis kan?" Sekar, sahabat karip Zelda itu sungguh kebingungan, ia terus mengikuti Zelda dan sesekali berlari untuk mengejar Zelda yang berjalan cepat ke kelasnya.
"Berisik!!" Hanya kata itu yang terlontar dimulut Zelda.
Zelda terus berjalan cepat, banyak orang berbisik bisik tentangnya, banyak anak yang membully Zelda secara terang terangan, dan banyak anak yang menatap ke arah Zelda, entah itu tatapan tajam, benci, kasian, prihatin, meremehkan.
'Kalo dasarnya jalang pasti jalang!'
'Cantik cantik kok suka ngerusak hubungan orang!'
'Kurang belaian.'
'Palingan semalam habis berdua sama om om!'
'Cantik karena om om? Iyuh kayak gak punya uang aja, eh iya 'kan dia emang gaada uang hahaha'
Zelda seperti sudah menulikkan telinganya, mencoba untuk tahan, di dalam lubuk hati paling terdalam gadis itu, ia sedang rapuh, sakit, marah, emosi. Saat Zelda melangkah tiba tiba.
Dukk!! Brukk!!
"ZELDA!!" Teriak Sekar berlari tergopoh gopoh untuk menghampiri sahabatnya itu.
"Upss sengaja!" Alenka, gadis yang terkenal sebagai Queen Bully yang sungguh tak menyukai Zelda dengan sengajanya menelantangkan kakinya hingga membuat Zelda tersungkur jatuh dipinggir koridor kelas.
Seketika semua siswa berkerumunan dikoridor, banyak pasang murid menertawakan Zelda, hingga membuat Sekar naik darah
"DIEM SEMUA!! Eh lo, kalo gak suka itu bilang! Jangan buat malu orang!! Apa tadi kata lo? Cantik karena om om? Eh Mbak nya nggak sadar diri? Ngaca Mbak ngaca! Gak punya kaca ya? Pantes miskin!" Sudah lah, Sekar tak menghiraukan bahwa ini sedang di halaman sekolah, ia sudah tak habis pikir, mengapa Alenka tak insecure.
"Eh hello, jangan bicara yang nggak nggak ya! Dasar mulut busuk!!" Alenka sudah emosi, ia tadi ingin melihat tontonan gratis tapi malah mendapatkan ucapan yang membuatnya tertohok karena itu memanglah faktanya.
"Gue tadi nggak salah dengerkan? Mulut busuk? Bukannya it--"
"Sudah lah Ama, nggak perlu diperpanjang, udah ya kita ke kelas aja!" Zelda menyela ucapan Sekar, jika diteruskan, bisa bisa ia dan Sekar malah masuk ke ruang Bk.