╔═══════ ೋღ 🌺 ღೋ ═══════╗
'Sagara,taranga,sainya adalah saksi tentang amorfati yang akan amerta.'
╚═══════ ೋღ 🌺 ღೋ ═══════╝
"Heyy"sapa gadis yang sedang berjalan ke kursi di depan warung,lengkap dengan senyum manis yang tak lekang dari bibir nya.
"Hay,kamu kesini lagi ternyata,sama siapa? " tanya nya dengan mata yang menatap penuh pada gadis di samping nya.
"Hum,sendiri.Memang nya kapan aku pergi gak sendiri" balas nya dengan mata memandang lekat ombak pantai di depan nya,walau ia tahu sedang diperhatikan.
"Berhenti menatap ku seperti itu,tatapan kasihan yang sangat menggelikan"lanjut nya dengan ekspresi yang tak terbaca, walau ada sedikit ekspresi yang ntah apa itu.
"Iyah"mengalihkan perhatian nya pada air pantai di depan.
Keheningan cukup lama tercipta antara kedua nya, tak ada yang ingin memulai walau hanya sekedar basa basi yang tak bermutu.
"Yasudah,aku akan pulang"ucap Isan dan beranjak berdiri.
"See you"
"Yeah"
Pertemuan singkat yang justru berulang kali terjadi, entah apa yang semesta dan Tuhan rencanakan untuk mereka.
Namun, pastinya itu hal yang akan mengubah sebagian atau mungkin seluruh hidup mereka.
Ntahlah, lihat saja bagaimana kedepan nya.
Gadis itu pun ikut beranjak dari duduk nya dan pergi ke ayunan yang terletak di bawah pohon besar.
----
Plak.
Tamparan yang sekian kalinya ia dapat untuk hari ini, "Saya sudah bilang, jangan keluar rumah kalau saya larang" bentak Della yang merupakan mama nya.
"Maaf" ucap Inayah lirih dengan kepala tertunduk dan mata yang menatap pada marmer berwarna abu di rumah nya.
"Gitu aja terus,kamu punya telinga kan? Punya otak kan? Gunanya apa kalau gak didengar? Gak diingat?,capek tau gak saya ingetin" bentak Della dengan berapi rapi.
"Ma,kenapa sih aku gak boleh ke pantai.Padahal kan cuma sekedar main ,pantai nya juga dekat sini kok, gak jauh" sahut Inayah dengan pengucapan yang pelan dan penuh kehati hatian.
"Apa kamu bilang? Sekedar? Nanti kalau kamu hilang kayak mana? Kalau kamu terbawa ombak gimana?" balas nya berteriak,dengan membahas segala hal yang selalu menjadi alasan ia melarang Inayah untuk pergi kepantai.
"Aku bisa berenang,aku bisa melawan kalau itu semua memang terjadi" pekik Inayah yang mulai muak dengan pembahasan itu.
Bukan nya membuat mama nya merenung justru malah semakin berang.
"Heyy,udah mulai yah.Siapa yang ngajarin kamu ngelawan, hum?" nada penuh kelembutan yang justru membuat badan merinding.
"Mah... " lirih nya.
"Sini kamu, sinii" teriak Della dengan kayu rotan ditangan nya, ia berteriak melihat Inayah yang lari.
"Heyy—
-----
"kenapa,kenapa kaki jenjang ini memiliki banyak luka?,siapa yang menyakiti mu seperti ini.Kenapa tidak kamu laporkan polisi? Kamu takut? Kamu bisa minta bantuan sama aku" pertanyaan beruntun yang sarat akan kecemasan.
"Tidak apa, ini hanya hukuman biasa" balas Inayah dengan enteng nya.
"Kan sudah aku bilang, kalau butuh bantuan bisa telpon atau chat aku" ucap Isan yang mengingatkan bahwa mereka sudah saling tukar nomor waktu itu.
"Tak apa, hanya luka biasa. Tidak sampai sebulan juga pasti sembuh" balas nya dengan meyakinkan.
"Yasudah"
"Atau jangan jangan gara gara orang tua mu yah? " tanya Isan yang belum mengetahui penyebab luka luka itu.
Inayah hanya diam tanpa berniat untuk mengiyakan ataupun menyanggah nya,dengan mata yang menatap pada ombak pantai yang terlihat indah dipandang.
"Nayah" panggil Isan membuyarkan lamunan Inayah.
"Yah" sahut nya menoleh ke samping,sepasang mata pun bertemu tuk sesaat sebelum salah satu diantaranya mengalihkan pandangan.
"Tetap sehat nayah" lirih nya dengan makna yang sangat berarti.
"Aku sehat Isan,sangat sehat" ucap Inayah tanpa menoleh.
Keheningan terjadi diantara dua manusia yang berada pada satu waktu yang sama, ada rasa dan kasih yang tak terucap dari bibir,namun terpatri dalam hati terdalam.
Isan yang menatap dalam pada Inayah, dan Inayah yang tetap setia menatap deburan ombak pantai dan langit yang memperlihatkan warna indah nya.
-----
"Saya mau keluar kota besok" ucap Della tak kala makan malam selesai.
"Berapa hari?" tanya Inayah.
"Tiga hari paling sebentar, satu minggu paling lama" jawab Della dengan menatap lekat pada anaknya.
"Ok"
"Jangan kepantai lagi Aya, nanti kalau terjadi apa apa gimana? Tolong dengar perkataan saya" ucap Della setelah sejenak diam.
"Iyah"
"Jangan cuma iyah iyah,buktiin"
"Iya mah, aya usahain"
Dan yap,hanya sampai situlah perbincangan anak dan mamah itu.
Ada rasa sayang yang tak dapat diutarakan, tapi perlakuan tak bisa membohongi.
Ia takut, ia takut akan kejadian yang akan terulang 'lagi'.
Ia tak siap, bahkan sangat tak siap,
'trauma' itu masih ada, bahkan hingga kini.
----
Sore itu.
Inayah terlihat duduk diatas bebatuan sendirian.Tanpa Isan seperti biasanya, kata temannya ia sedang sibuk untuk ujian kelulusan.
Duduk diam tanpa sadar akan hal paling mengejutkan yang kan menghampiri nya.
----
"AYAAAA, INAYAH" pekik Della masih dengan tangisan yang kian deras.
"AYAA,INI MAMAH" tubuh yang melemah dan berujung terduduk diatas pasir putih.
Inayah nya hilang,meninggalkan dirinya dalam kesepian.
"Hiks hiks" tangis nya melemah,tenaga nya sudah terkuras. Hingga akhir nya gelap menghampiri dan membuat kepalanya jatuh tertunduk.
Para petugas yang ada disekitar pun membawa nya ketempat aman untuk di rebahkan.
Ntah berapa lama ia akan sadar, tapi yang pasti.
Jiwanya terguncang akan kehilangan, lelah menggerogoti hingga terdalam.
Mungkin lama.
Trauma itu...
---
"Kamu yang menyerah, atau ombak yang menginginkanmu?" lirih lelaki itu.
"Bahkan setelah tiga bulan lalu kamu ditemukan, mata mu tak kunjung terbuka. Sekedar melihat cahaya matahari" ucap Isan di samping kasur rumah sakit.
Tak ada orang lain selain mereka berdua, dengan Isan yang menggenggam tangan gadis nya dengan erat, seakan takut akan kemungkinan kemungkinan menyakitkan yang bisa terjadi bila ia melepas genggaman itu.
"Tuhan, aku tahu ia suka senja.Tapi mengapa kejadian yang membuatku hampir kehilangan nya pun disaat senja juga?" tanya nya.
"Takdir memang serumit itu untuk dipahami"
Ia suka waktu senja, tapi waktu senja itu justru menjadi kenangan pahit yang membuat nya hampir kehilangan sang terkasih.
"Cepat sadar Inayah ku, mari hidup bahagia bersama"
Selesai.
╭──────༺♡༻──────╮
Inayah,Isan dan senja
╰──────༺♡༻──────╯