Di sebuah desa kecil yang dikelilingi perbukitan hijau dan hamparan sawah luas, hiduplah seorang pemuda bernama Aksa. Sejak kecil, ia tumbuh bersama kakeknya, Pak Dirga, seorang pemahat batu yang dihormati karena keahliannya. Aksa sering duduk di samping kakeknya, memperhatikan tangan renta itu mengukir batu dengan penuh kesabaran. Setiap guratan yang dihasilkan selalu memiliki makna, seolah batu-batu itu menyimpan cerita yang tak akan pernah pudar.
Seiring berjalannya waktu, Aksa mulai memahami bahwa setiap pahatan kakeknya bukan sekadar seni, melainkan warisan yang mengandung kenangan dan pesan kehidupan. Namun, saat remaja, ia mulai kehilangan minat terhadap seni pahat. Ia lebih tertarik mengejar impian di kota besar, meninggalkan desa dan pekerjaan yang dianggapnya kuno.
Ketika Aksa beranjak dewasa, ia memilih melanjutkan pendidikan di kota. Kehidupan di sana memberinya perspektif baru, tetapi juga membawa tantangan yang tidak pernah ia duga. Ia berusaha keras menyesuaikan diri dengan lingkungan yang serba cepat, berusaha membuktikan dirinya mampu meraih kesuksesan. Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin terasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.
Hingga suatu hari, kabar duka datang. Kakeknya meninggal dunia. Aksa segera kembali ke desa dengan hati yang dipenuhi penyesalan. Sepanjang perjalanan, kenangan bersama kakeknya berputar dalam benaknya, tawa hangatnya, nasihat bijaknya, serta tangan kasar yang selalu sabar membimbingnya.
Saat tiba di rumah kakeknya, suasana sepi menyambutnya. Ia berjalan menuju bengkel pahatan yang kini tampak berdebu. Tatapannya tertuju pada sebuah batu besar di tengah ruangan. Di sana, ukiran terakhir kakeknya belum selesai. Aksa mendekat dan meraba pahatan itu. Sebuah perasaan hangat menjalar dalam dadanya, seolah sentuhan kakeknya masih terasa.
Di sudut ruangan, ia menemukan sebuah buku tua yang berisi sketsa-sketsa pahatan dan catatan tangan kakeknya. Salah satu halaman tertulis, “Batu akan tetap ada, bahkan ketika kita telah tiada. Namun, hanya yang mengukir dengan hati yang akan meninggalkan jejak.”
Aksa terdiam lama, meresapi setiap kata. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memahami makna sebenarnya dari pekerjaan sang kakek. Pahatan bukan sekadar seni, tetapi warisan yang menyimpan kenangan, nilai, dan cinta.
Hari-hari berlalu, dan Aksa mulai belajar memahat. Awalnya sulit, tetapi perlahan, tangannya mulai terbiasa. Ia melanjutkan pahatan terakhir kakeknya, berusaha memahami setiap guratan yang telah dibuat. Dalam proses itu, ia menemukan kembali kedamaian yang lama hilang.
Suatu sore, seorang anak kecil datang ke bengkel pahatan dan bertanya, “Apa yang sedang Kakak buat?”
Aksa tersenyum dan menjawab, “Aku sedang menyelesaikan cerita yang belum selesai.”
Anak itu menatapnya dengan mata berbinar. “Aku ingin belajar memahat juga.”
Aksa mengangguk. Ia sadar bahwa apa yang diwariskan kakeknya tidak boleh berhenti padanya. Ia harus meneruskan jejak itu, memastikan bahwa kenangan yang terukir dalam batu tidak akan pudar oleh waktu.
Bertahun-tahun kemudian, bengkel pahatan itu kembali hidup. Aksa bukan hanya menjadi seorang pemahat, tetapi juga seorang guru yang mengajarkan anak-anak desa tentang seni yang hampir terlupakan. Di sudut ruangan, pahatan terakhir kakeknya berdiri megah, melambangkan cinta dan dedikasi yang tidak akan pernah mati.
Aksa akhirnya mengerti, bahwa dalam setiap guratan, terdapat jejak yang akan tetap ada, meski orang yang mengukirnya telah tiada. Dan kini, ia pun telah menemukan jalannya, bukan sebagai seseorang yang sekadar mengejar impian di kota, tetapi sebagai penerus warisan yang penuh makna.