Malam di Mavk Town selalu diselimuti kabut tipis, bagaikan tirai yang melindungi rahasia kelam kota itu. Di tengah istana megah berdiri seorang wanita dengan aura yang tak terbantahkan. Dialah Ratu Evenly, vampir terkuat yang pernah ada. Kecantikannya bagaikan bulan purnama yang memikat, tatapannya lembut namun berbahaya. Setiap gerakannya penuh pesona, tetapi di balik kelembutan itu tersembunyi kekejaman yang tak terbayangkan.
1. Perjumpaan Takdir
Di balik bayangan, seorang pria tampan berdiri dengan tatapan dingin. Aiden, tangan kanan Ratu Evenly, vampir yang tak pernah menunjukkan emosi. Ia hanya patuh pada sang ratu dan tak pernah mempertanyakan perintahnya. Namun, di dalam hatinya yang beku, ada ketertarikan yang tak bisa ia jelaskan.
Sementara itu, ada satu vampir lain yang selalu menunjukkan perasaannya dengan jelas. Vincent, seorang bangsawan vampir yang telah lama jatuh cinta pada sang ratu. Ia rela melakukan apa saja untuk mendapatkan hatinya, tetapi Evenly selalu menolaknya dengan dingin.
"Aku bisa memberikan dunia untukmu, Ratu," ucap Vincent suatu malam.
Evenly hanya tersenyum tipis. "Aku tidak butuh dunia. Aku sudah memilikinya."
Di sudut lain Mavk Town, seorang manusia bernama Leon hidup dalam kebencian terhadap para vampir. Ia kehilangan keluarganya karena mereka, dan yang paling ia benci adalah Ratu Evenly, pemimpin mereka. Namun, takdir punya rencana lain untuknya.
2. Cinta dalam Kebencian
Suatu malam, Evenly menemukan Leon yang terluka di hutan dekat perbatasan. Bukannya membunuhnya, ia justru membawanya ke istana.
"Mengapa kau tidak menghabisiku?" tanya Leon dengan tatapan tajam.
Evenly tersenyum lembut, tetapi ada bahaya di balik tatapannya. "Karena aku ingin melihat bagaimana kebencian bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih menarik."
Hari demi hari, Leon terjebak dalam pesona sang ratu. Ia membenci dirinya sendiri karena mulai mengagumi kecantikan dan kekuatannya. Di sisi lain, Evenly menikmati permainan ini. Ia senang melihat manusia itu tersiksa antara kebencian dan perasaan yang mulai tumbuh.
Aiden, yang selalu berada di sisi Evenly, diam-diam memperhatikan. Ia tahu betapa berbahayanya perasaan itu. Sementara itu, Vincent semakin marah. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa seorang manusia bisa mendapatkan perhatian lebih dari sang ratu, sementara dirinya yang abadi tetap ditolak.
3. Pengkhianatan dan Kenyataan
Suatu malam, Leon akhirnya mengungkapkan perasaannya.
"Aku tahu aku seharusnya membencimu. Tapi aku... aku tidak bisa lagi mengingkari perasaan ini."
Evenly tersenyum, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di matanya. Ia mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Leon.
"Kau memang menarik, Leon. Tapi pada akhirnya, kau tetap hanya manusia yang lemah."
Dalam sekejap, ia menancapkan kukunya ke dada Leon, membuatnya berlutut kesakitan.
Aiden yang melihat kejadian itu, untuk pertama kalinya, menunjukkan ekspresi terkejut.
"Ratu, cukup," ucapnya, mencoba menahan Evenly.
Vincent, yang selama ini mendambakan cinta Evenly, akhirnya mengerti. Ia tidak akan pernah bisa mendapatkan hati sang ratu, karena ratu itu tidak memiliki hati sejak awal.
Leon, dengan napas yang tersisa, menatap Evenly dengan mata penuh luka. "Jadi, ini akhirnya?"
Evenly tersenyum, lalu membisikkan kata terakhir. "Aku adalah Ratu Vampir. Aku tidak pernah bermain dengan perasaan—aku hanya bermain dengan mangsa."
Malam itu, suara angin berbisik lebih dingin dari biasanya di Mavk Town. Ratu Evenly tetap tak tergoyahkan, sementara hati yang berani mencintainya hanya berakhir dalam kehancuran.