Mentari sore menyelinap di antara rimbunnya pohon pinus, menebarkan cahaya keemasan yang menenangkan. Aku duduk di bangku kayu, mengamati para anggota pramuka yang sedang berlatih di lapangan terbuka. Gerakan mereka lincah dan terkoordinasi, penuh semangat dan disiplin. Di antara mereka, ada satu sosok yang menarik perhatianku: Alya, dengan seragam pramukanya yang rapi dan senyum yang begitu menawan.
Alya, dengan rambutnya yang terikat rapi dan matanya yang berbinar, terlihat begitu berbeda dari gadis-gadis lain yang pernah kukenal. Ada aura kepemimpinan yang terpancar darinya, dipadu dengan kelembutan yang membuatku tak kuasa mengalihkan pandangan. Aku, yang biasanya cuek dan acuh, mendapati diriku terpesona olehnya.
Awalnya, aku hanya mengagumi Alya dari kejauhan. Aku memperhatikannya dari balik jendela kelas, atau saat ia sedang berlatih di lapangan. Aku mengamati caranya memimpin regu, bagaimana ia berinteraksi dengan teman-temannya, dan bagaimana ia selalu tersenyum ramah kepada siapa pun. Perlahan-lahan, kekagumanku berubah menjadi rasa suka, lalu menjadi cinta.
Suatu hari, aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Aku menawarkan bantuan untuk memotret kegiatan pramuka mereka. Alya menyambutku dengan ramah, senyumnya yang menawan membuatku semakin gugup. Kami berbincang-bincang, dan aku menemukan bahwa Alya memiliki kepribadian yang luar biasa. Ia cerdas, humoris, dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Sejak saat itu, aku sering menghabiskan waktu bersama Alya. Kami berlatih bersama, berbagi cerita, dan saling mendukung. Aku belajar banyak darinya, tentang arti kerja sama, kedisiplinan, dan pentingnya menjaga alam. Alya juga belajar banyak dariku, tentang fotografi dan seni.
Cinta kami tumbuh di tengah rimbunnya hutan pinus, di bawah langit yang selalu cerah. Cinta kami sederhana, tanpa drama dan sandiwara. Hanya ada rasa saling percaya, saling menghargai, dan saling mendukung. Cinta kami, seperti api unggun di malam hari, menghangatkan hati dan jiwa.
Namun, seperti halnya perjalanan pramuka, hubungan kami juga penuh tantangan. Ada saat-saat sulit yang harus kami lewati, perbedaan pendapat yang harus kami selesaikan, dan rintangan yang harus kami hadapi bersama. Namun, kami selalu berhasil melewati semuanya, karena kami memiliki satu sama lain.
Aku bersyukur telah jatuh cinta pada Alya, anak pramuka yang luar biasa. Ia telah mengajariku banyak hal, dan telah membuat hidupku lebih berwarna. Cinta kami, seperti kompas yang selalu menunjukkan arah, membimbing kami menuju masa depan yang cerah.